BI Antisipasi Dampak Harga BBM

 258 total views,  2 views today

Bank Indonesia

Bank Indonesia

PALEMBANG – Bank Indonesia (BI Wilayah VII Palembang memperkirakan dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) premium dan solar sebesar Rp 2000 per liter yang terjadi pada pertengahan November ini akan memberikan dampak langsung terhadap inflasi di Sumatera Selatan sebesar 1,12%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII, R Mirwansyah mengatakan, dampak kenaikan BBM pertumbuhan ekonomi di Sumsel di prediksi berada pada kisaran 2,26-2,76%, dan di akhir tahun 2014 ini inflasi Sumsel meningkat pada level 6,28-6,78%. Perkiraan ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 4,55±1%.

“Selain kenaikan harga BBM, tekanan inflasi pada akhir tahun juga akan ditambah dari kebijakan administered price, yaitu dengan kenaikan atas atas tarif angkutan udara, elfiji 3 kg, dan kenaikan tarif tenaga listrik,” katanya, Kamis (19/11).

Mirwansyah menambahkan, inflasi di Sumsel pada Oktober mengalmi peningkatan dibandingkan bulan September. Tercatat inflasi di Sumsel pada Oktober mencapai 0,78% (mtm) atau 3,35% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan September yang hanya sebesar 0,47% (mtm) atau 3,26% (yoy). Peningkatan tersebut terjadi di Kota Palembang maupun Lubuklinggau, masing-masing sebesar 0,80% (mtm) dan 0,64 % (mtm).

“Peningkatan terjadi disebabkan oleh kelompok administered price seperti tarif angkutan udara, tarif listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang masing-masing memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,22%, 0,17%, dan 0,10%. Selain kelompok administered price, kelompok volatile food juga mengalami peningkatan seperti harga cabe merah dan beras yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,29% dan 0,06%. Sementara inflasi untuk kelompok inti relatif stabil,” jelasnya.

Untuk mengatasi dampak lanjutan dari kenaikan BBM bersubsidi, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumsel terus melakukan koordinasi, misalnya dengan memantau harga komuditi melalui PIHPS, hingga saat ini kenaikan harga pangan terpantau stabil.

“Saat ini komuditas yang mengalami kenaikan harga, seperti cabai merah dan beras, hal ini terjadi akibat pasokan yang terbatas paska musim kemarau kemarin. Namun demikian, bulog dan instasi menyatakan bahwa pasokan secara umum masih dalam batas aman, sehingga tekanan valatile food diperkirakan relatif terkenadali,” tukasny.

Pihaknya juga akan melakukan pemantauan terhadap tarif angkutan, hal ini dilakukan agar tidak ada kenaikan tarif yang berlebihan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. “Pada akhir tahun TPID akan mengadakan rapat koordinasi Wilayah Sumatera bagian Selatan untuk membahas kerjasama perdagangan antar daerah, integrasi PIHPS, serta pembekalan TPID kota,kabupaten yang baru terbentuk,” tutupnya.

 

TEKS     : AMINUDDIN
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster