Nopran Marjani : BBM Naik, Infrastruktur Harus Merata

 252 total views,  2 views today

PALEMBANG – Setelah sah diresmikannya kenaikan terhadap bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terhitung sejak pukul 00.00 WIB Selasa (18/11) kemarin oleh kebijakan Pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla menetapkan dengan harga baru BBM jenis solar dan premium. Di mana semula harga BBM jenis premium hanya diangka Rp 6500 kini menjadi Rp 8500 per liter. Begitupun solar yang semula Rp 5500 kini menjadi Rp 7.500 perliter.

Wakil Ketua DPRD Sumsel Fraksi Gerindra, Nopran Marjani mengatakan, akibat kenaikan harga BBM masyarakat terkena imbasnya, pasalnya kenaikan harga BBM juga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Harga BBM ini pun menurut dia akan jauh lebih mahal di Daerah Pelosok yang jauh dari Pangkalan Stasiun Pengisian Bakar Umum (SPBU), maka dari itu pihaknya menghimbau dan meminta agar pemerataan pembangunan di pelosok harus terealisasi.

Nopran berharap, pengalihan subsidi BBM yang disebut sebut bakal dialihkan untuk pembangunan insfrastruktur tersebut dapat benar benar berjalan sebagaimana mestinya, tanpa terkecuali pembangunan insfraktrukur di daerah pelosok yang selama ini dirasa kurang diperhatikan.

Masyarakat berat dengan naiknya BBM, tapi kalau sudah jadi keputusan pemerintah, tentu pemerintah juga sudah mengkaluklasi. Dengan naiknya BBM maka akan menambah APBN jadi 90 sampai 100 triliun. Dana Rp 100 triliun ini akan digunakan untuk membangun insfrastrukur, irigasi juga Kartu Indonesia Sehat (KIS) Kartu Indonesia Pintar (KIP) serta, Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

“Kami berharap dengan naiknya APBN tersebut berimbas pada pembangunan insfraktruktur di Sumsel,” tambah kader Gerindra Sumsel itu.

Akan tetapi, terlepas dari itu semua, pihaknya mempertanyakan, kenapa dengan turunnya harga minyak dunia turun, justru Pemerintah menaikan harga BBM, hal ini berbeda dengan Pemerintahan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dimana kata dia kala itu SBY menaikan harga BBM lantaran harga minyak dunia tinggi atau memang terjadi kenaikan.

“Kita lihat kedepan, apakah keutungan dinaikan BBM, yang jelas saat ini BBM naik, masyarakat merasakan dampaknya, karena kenaikan BBM memicu kenaikan harga bahan pokok. Beras naik, minyak sayur naik,” urai Nopran.

Selain itu, Pemerintah himbaunya harus dapat mengantisipasi kelangkaan pasokan BBM dipelosok. Dimana menurut Nopran, kenaikan harga BBM sebesar Rp 2000 perliter ini akan dirasakan berat masyarakat yang tinggal dipelosok, lantaran harga jual dipelosok lebih mahal dikarenakan ongkos angkut masyarakat penjual BBM cukup besar.

“Jika sebelumnya premium itu Rp 6500, di pelosok dijual Rp 8000, apalagi sekarang, Premium Rp 8500 perliter, mungkin bisa Rp 15000 perliter, harga jual itu lebih mahal karena ongkos angkutnya besar, ini terjadi di daerah pelosok yang belum ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Maka dari itu, saya berharap pembenahan sistem distribusi BBM ke pelosok serta penyediaan suplai minyak di daerah pelosok agar tidak terjadi kelangkaan,” kata Nopran lagi.

Dicontohkannya, di Kabupaten Empat Lawang hanya memiliki satu SPBU, kedepan dia berharap SPBU juga tersebar disetiap pelosok daerah.

“Untuk daerah pelosok itu harusnya pemerintah memberikan subsidi biaya angkut, karena kalau tidak disubsidi penjual BBM akan mengeluarkan biaya angkut yang besar, dan bisa jadi harga BBM mencapai Rp 15000 perliter,” tandasnya.

 

TEKS       : ARDHY FITRIANSYAH
EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster