Menanti 12 Titik Jembatan di Air Sugihan

 389 total views,  6 views today

KAYUAGUNG – Meskipun banyak menghasilkan padi, sayuran dan buahan, masyarakat di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), S kesejahteraan warganya belum begitu baik. Salah satu kendalanya mengenai transportasi atau akses jalan yang masih minim atau tidak baik.

Salah satunya apa yang dialami 2000-an warga Desa Jadi Mulya selama puluhan tahun terakhir. Mereka harus mengeluarkan biaya transportasi yang lebih guna mengambil hasil pertanian karena rusaknya jembatan yang menghubungkan pemukiman dengan lahan pertanian.

Kini, warga desa itu bernapas lega. Sebab telah dibangun 12 titik jembatan yang menghubungkan pemukiman warga dengan lokasi pertanian berupa persawahan, kebun sayuran dan buahan seperti jeruk dan pisang.

“Setelah adanya jembatan ini kami tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk mengambil hasil pertanian dari sawah dan kebun kami. Sepeda motor maupun mobil dapat langsung ke kebun atau sawah,” kata Sugeng, pjs  Kepala Desa Jadi Mulya, belum lama ini.

Ke 12 titik  jembatan dengan kontruksi beton tersebut dikerjakan secara gotong-royong warga desa. Hanya pembiayaan atau pembelian bahannya merupakan bantuan dari PT OKI Pulp & Paper Mills.

“Kami seluruh warga mengucapkan terima kasih kepada PT OKI Pulp & Paper Mills, dan juga kepada pemerintah kabupaten OKI yang mendukung apa yang dilakukan perusahaan untuk masyarakat di Air Sugihan,” kata Sugeng.

“Kita bersyukur jika warga merasakan dampak positifnya, dan harapan kita kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik dengan adanya jembatan tersebut. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kita dalam pengembangan perekonomian masyarakat di wilayah Kecamatan Air Sugihan,” kata Gadang H. Hartawan dari PT OKI Pulp & Paper Mills.

“Apresiasi kami berikan kepada masyarakat yang bergotong-royong dalam membangun jembatan tersebut,” tambahnya.

Masing-masing jembatan yang panjangnya antara 15-28 meter dengan lebar 3 meter tersebut menghubungkan setiap RT di Desa Jadi Mulya.

“Jadi setiap RT punya jembatan, sehingga ada rasa keadilan,” ujar Gadang.

Serah terima ke-12 jembatan tersebut dilakukan pada 30 Oktober 2014 lalu. Sugeng mewakili desa dan Gadang mewakili perusahaan. Pada serah terima tersebut Gadang berpesan agar masyarakat menjaga dan merawat jembatan tersebut.

“Jika dijaga dan dirawat pasti manfaatnya akan baik untuk semua pihak, terkhusus warga Desa Jadi Mulya. Dan, kami sangat mengapresiasi sikap gotong-royong masyarakat desa. Sikap gotong-royong ini harus terus dijaga dan dilestarikan, sebab ini nilai-nilai warisan luhur bangsa ini, yang tercermin dalam ideologi bangsa Pancasila,” katanya.

Air Sugihan merupakan wilayah yang luasnya mencapai 2.600 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 33 ribu jiwa. Kecamatan yang wilayahnya merupakan lahan rawa gambut, menjadi ramai sejak program transmigran pada 1982 lalu. Saat ini Air Sugihan terdapat 19 desa. Sebagian besar warganya bertani, khususnya padi.

Pada awalnya kehidupan mereka sangat sulit. Selain harus beradaptasi dengan lahan gambut yang sulit diolah menjadi lahan pertanian, juga harus berkonflik dengan hewan seperti gajah, dan terakhir bencana kebakaran hutan.

Pasca kebakaran hutan pada 1997-1998, kehidupan masyarakat di Air Sugihan sangat menderita. Untungnya, eks kebakaran lahan kemudian dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, kemudian kehadiran sejumlah perusahaan seperti HTI dan perkebunan sawit. Terlepas  berbagai konflik yang diakibatkan kehadiran perusahaan tersebut, termasuk persoalan ancaman lingkungan, tampaknya perlu dicarikan solusi yang baik guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Air Sugihan tanpa harus berkonflik dengan perusahaan dan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup berbasis pangan.

 

TEKS      : DONI AFRIANSYAH

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster