AJI Sumsel : Kekerasan Terhadap Wartawan Jangan Sampai Terjadi di Sumsel

 248 total views,  3 views today

Aksi Solidaritas Jurnalis - Sejumlah wartawan melakukan aksi teatrikal kekerasan aparat terhadap jurnalis di depan Mapolda Sumsel, Palembang, Jumat (14/11). Puluhan Jurnalis Sumsel menggelar aksi solidaritas ini, terkait tragedi sejumlah wartawan yang mendapat tindakan anarkis dari aparat dalam melakukan tugas Aksi demo di Makassar Kamis lalu. | Foto : Bagus Kurniawan/KS

Aksi Solidaritas Jurnalis – Sejumlah wartawan melakukan aksi teatrikal kekerasan aparat terhadap jurnalis di depan Mapolda Sumsel, Palembang, Jumat (14/11). Puluhan Jurnalis Sumsel menggelar aksi solidaritas ini, terkait tragedi sejumlah wartawan yang mendapat tindakan anarkis dari aparat dalam melakukan tugas Aksi demo di Makassar Kamis lalu. | Foto : Bagus Kurniawan/KS

PALEMBANG – Puluhan wartawan di Kota Palembang yang menamakan dirinya Komunitas Jurnalis Sumsel, mengecam keras segala tindak kekerasan yang dilakukan semua pihak terhadap awak media, terlebih tindakan pihak kepolisian.

Kekerasan tersebut, salah satunya terjadi di Makassar. Dua wartawan di Makassar menjadi korban pemukulan dan perampasan alat kerjanya oleh oknum polisi, saat terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan kepolisian dalam aksi menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi.

Kekerasan terhadap pekerja pers itulah, Jumat (14/11), dikritik oleh puluhan jurnalis di Palembang saat melakukan aksi di Mapolda Sumsel. “Tidak sepatutnya kekerasan itu terjadi, apalagi dilakukan polisi. Sebab saat itu, wartawan sedang menjalankan tugas jurnalistik nya,” kata Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumsel, Ardiansyah Nurgraha.

Tindakan kekerasan yang dilakukan kepolisian itu sebut Ardiansyah, bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Pers. Dalam kasus di Makassar jelasnya, tindakan polisi sangat berlebihan. Bagaimana tidak, mereka masuk ke kampus dan melakukan kekerasan terhadap wartawan. Polisi seperti tidak pernah belajar, menghadapi aksi massa,” kritiknya.

Hal senada dikatakan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sumsel, Darwin Syarkowi. Ia berharap, kekerasan terhadap wartawan di Makassar tersebut jangan sampai terjadi di Sumsel. “Jangan sampai itu juga terjadi di Sumsel, kami bekerja dilindungi UU. Kami mendesak semua kekerasan terhadap wartawan dihentikan, pelakunya harus diusut,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel, Irjen Pol Iza Fadri yang dibincangi usai menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Brimob di Markas Komando (Mako) Brimob Polda Sumsel, memastikan hal itu tidak akan terjadi di Sumsel.

Apalagi sebut Iza, Sumsel tergolong provinsi yang aman dari segala tindakan anarkis. “Kami yakin di Sumsel, tidak akan terjadi seperti itu. Kekerasan seperti itu, terjadi karena adanya oknum aparat yang tidak bertanggungjawab,” tegasnya.

Sebagai informasi, sejumlah jurnalis di Makassar menjadi korban amukan polisi saat terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan petugas keamanan dalam aksi penolakan terhadap kenaikan BBM subsidi di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) di Jalan Pettarani, Makassar, Kamis (13/11).

Kejadian berawal saat salah satu wartawan yang meliput aksi mahasiswa dipukul menggunakan helm oleh aparat kepolisian, sehingga menyebabkan wartawan tersebut mengalami pendarahan hebat. Tak terima rekannya dipukuli, puluhan wartawan mendatangi polisi dan terjadilah keributan antara aparat dengan wartawan.

Beberapa wartawan dipukuli dan ditendang oleh aparat, kamera video dan foto mereka pun ada yang dirusak. Wartawan dari televisi nasional yang sedang live, juga dipukuli oleh aparat yang sudah tidak terkontrol.

 

TEKS           : ARDHY FITRIANSYAH

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster