Menjaga Gambut, Lestarilah Mangrove

 210 total views,  2 views today

Hutan Mangrove | Foto : Bagus Kurniawan

Hutan Mangrove | Foto : Bagus Kurniawan

Demi mencegah munculnya titik api yang baru, termasuk mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut yang disebabkan aktifitas masyarakat di wilayah pesisir atau pantai timur Sumatera Selatan, seperti yang diinginkan Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan Bupati OKI Iskandar, pemerintah Sumatera Selatan dan pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melakukan bersama aktifis NGO, melakukan kunjungan lapangan dan pertemuan dengan masyarakat pada Senin-Selasa (10/11) lalu.

Kali ini adapun daerah yang dikunjungi yakni Kecamatan Tulung Selapan, yang selama ini dikenal sebagai wilayah yang marak ditemukan titik api.

“Kita melihat banyaknya titik api dikarenakan tidak ada kegiatan lain yang menjadi pemasukan masyarakat. Jika mereka memiliki kegiatan usaha yang menghasilkan secara baik, maka kebakaran hutan tersebut dapat dicegah,” kata Najib Asmani, staf ahli lingkungan hidup Gubernur Sumsel, seusai melakukan kunjungan ke lapangan bersama Kepala Dinas Kehutanan OKI, Kepala Dinas Perikanan OKI, dan sejumlah aktifis NGO.

Pembakaran lahan gambut dilakukan warga, seperti yang terjadi pada tahun ini, sebagai upaya pembukaan lahan untuk penanaman padi dan pencarian kayu gelam.

Dijelaskan Najib, wilayah yang memiliki aktifitas ekonomi yang baik, seperti di Desa Simpang Tiga Makmur, berupa pertambakan udang windu dan ikan bandeng, nyaris tidak ditemukan titik api atau pembakaran lahan. “Padahal dulunya wilayah tersebut habis karena kebakaran dan ilegal logging,” katanya.

“Padahal usaha mereka belum begitu optimal hasilnya. Masih ada persoalan, seperti penyediaan bibit yang baik, tapi masyarakat sudah tidak lagi melakukan aktifitas yang merusak hutan,” jelasnya.

Karnawi Baridun, Kepala Desa Simpang Tiga Makmur, menjelaskan dari luasan desanya yang mencapai 20 ribu hektar, yang terdiri dari 2336 jiwa yang hidup di tiga dusun, sekitar 500 kepala keluarga hidup sebagai petambak udang windu dan ikan bandeng.

Sisanya menjadi nelayan tangkap dan pembuat terasi dan ikan asin. Ikan yang dihasilkan antara lain kakap, sembilang maupun pari. Ikan-ikan ini banyak dijual ke Jakarta maupun ke Palembang.

“Aktifitas nelayan tangkap maupun nelayan tambak ini yang membuat kehidupan warga desa kami tidak lagi mengandalkan hasil hutan, seperti kayu dan pertanian, sehingga di sini tidak ditemukan aktifitas pembakaran lahan,” katanya.

Namun begitu, dirinya cemas, sebab hasil dari pertambakan udang windu dan ikan bandeng saat ini mengalami penurunan. Pertama persoalan bibit udang windu yang didapatkan warga kurang baik, serta belum ada pendampingan yang interns terhadap para petambak oleh pemerintah maupun pihak lainnya.

“Menurut kami harus ada upaya pembibitan udang windu di sekitar sini, sehingga petambak mendapatkan bibit udang yang baik, sehingga hasilnya kembali meningkat,” katanya.

Dulu, tahun 1990-an, udang windu yang dihasilkan para petambak sekitar 500 kilogram per hektar, kini untuk lahan seluas dua hektar udang windu yang dihasilkan hanya 2-3 ratus kilogram.

 

TEKS     : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster