Air Menjadi Coklat, Berbau dan Asin, KSO BBP Diduga Cemari Sungai Pabil

 495 total views,  2 views today

MUARAENIM – Sebagian petani yang beternak dan berkebun disepanjang Sungai Pabil atau Sungai Durian, Kecamatan Benakat, Kabupaten Muaraenim, resah. Pasalnya, air di sungai tersebut diduga telah tercemar.

Air di sungai tersebut kondisinya, berwarna coklat, bau dan terasa asin. Diduga air sungai itu, telah tercemar limbah dari pengolahan minyak dari KSO Benakat Barat Petrolium (BBP), anak perusahaan Pertamina.

Informasi yang didapat Kabar Sumatera, tercemarnya anak Sungai Pabil yang bermuara ke Sungai Benakat ini membuat warga Desa Padang Bindu, resah. Sebab air dari sungai itu selama ini dimanfaatkan warga, untuk kebutuhan sehari mulai dari air minum, mandi, untuk menyiram tanaman di kebun, dan kebutuhan minum bagi ternak.

Namun sejak satu bulan terakhir, warga tidak berani lagi menggunakan air sungai tersebut, sebab selain telah berubah warna dan berbusa-busa juga rasanya asin dan gatal-gatal, jika terkena kulit.

Udin (45), warga Desa Padang Bindu yang dibincangi Kabar Sumatera, Selasa (11/11) mengaku selama puluhan tahun ia berkebun, tidak ada masalah kualitas air Sungai Pabil tersebut.

Ssebab jelas Udin, ia selama ini memanfaatkan air dari sungai tersebut untuk keperluan sehar-hari. “Air dari sungai itu juga saya pakai untuk air minum bagi ternak saya. Namun, sejak sebulan terakhir, kondisi air berubah drastis. Sebab mulai berubah bewarna hitam kecoklatan, keruh, berbuih dan berasa serta bau minyak,” ujarnya.

Ia sebut Udin semakin tak berani menggunakan air dari sungai tersebut setelah salah satu hewan ternaknya, mati. “Kejadian itu saya laporkan ke kepala desa pada 5 September lalu. Kades bersama warga lainnya, kemudian mengecek air sungai itu dan menyusurinya selama tiga hari untuk mencari asal limbah yang mencemari air di sungai tersebut,” terangnya.

Hasilnya, ternyata limbah cair yang mencemari Sungai Pabil diduga berasal dari pembuangan limbah KSO Benakat Barat Petrolium (BBP), yang merupakan anak perusahaan Pertamina Benakat Minyak. Warga jelasnya, menemukan tangki limbah dari KSO BBP Benakat Minyak yang berhamburan masuk ke dalam anak Sungai Pabil, sehingga mencemari air Sungai Pabil.

Hal senada dikatakan Ketua Adat Desa Padang Bindu, Edianto (50). Ia menyebut, setelah diketahui asal limbah yang mencemari Sungai Pabil, persoalan itu disampaikan ke manajemen KSO-BBP.

“Sudah ada pertemuan antara warga dengan manajemen KSO BBP Benakat Minyak yang diwakilkan Eko W didampingi humas KSO-BPP, Nuhlian. Sedangkan dari warga diwakili Alwin, kepala desa dan Udin, pemilik ternak dan kebun disepanjang alirn Sungai Pabil,” ujarnya.

“Dari pertemuan itu, KSO-BBP berjanji akan melakukan ganti rugi sebesar Rp 750 ribu/ KK di Desa Padang Bindu dan sapi yang mati, serta akan menyiapkan air bersih untuk keperluan MCK bagi warga selama air di sungai tersebut belum bisa digunakan. Namun kenyataannya pihak manajemen ingkar janji, dan terkesan menghindar,” terangnya.

Sementara itu, Humas KSO-BBP Benakat Minyak, Nuhlian saat di konfirmasi, mengatakan bahwa permasalahan limbah ini telah dibahas dan diteruskan ke kantor pusat di Jakarta. “Persoalannya sudah dilaporkan ke manajemen di kantor pusat. Sekarang kita menunggu putusan dari kantor pusat,” tukasnya.

 

TEKS            : SISWANTO

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster