Kadisbun Mura Diperiksa Kejari terkait Dugaan Korupsi Revitalisasi Perkebunan

 196 total views,  2 views today

Kadisbun Mura, Ramdhani Lubis saat keluar dari kantor Kejaksaan Negeri Lubuklinggau, dipanggil untuk pengembangan kasus korupsi Revbun yang telah menjebloskan tiga anggota DPRD ke Penjara. | Dok KS

Kadisbun Mura, Ramdhani Lubis saat keluar dari kantor Kejaksaan Negeri Lubuklinggau, dipanggil untuk pengembangan kasus korupsi Revbun yang telah menjebloskan tiga anggota DPRD ke Penjara. | Dok KS

LUBUKLINGGAU – Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Musi Rawas Mura), Ramdhani Lubis, Selasa (4/11) sekitar pukul 13.45 WIB, mendatangi ruang Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksanaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau.

Uniknya, Ramdhani datang ke Kejari tanpa menggunakan mobil dinas namun menggunakan jasa ojek. Sekitar pukul 14.20 WIB, Ramdhani keluar dari ruangan penyidikan dan meninggalkan Kejari juga dengan menggunakan jasa ojek.

Dibincangi saat hendak meninggalkan Kejari, Ramdhani tak banyak bicara. Ia hanya menyebut, datang ke Kejari hanya untuk koordinasi lintas sektoral. “Hanya koordinasi terkait, kegiatan-kegiatan perkebunan di Mura dan koordinasi lintas sektoral, tidak ada kaitannya dengan kasus revitalisasi perkebunan,” kata Ramdhani.

Ia membantah kalau kedatanganya ke Kejari Lubuklinggau, terkait pengembangan kasus revitalisasi perkebunan yang menyeret anggota DPRD Mura, Imron dan Budiman serta anggota DPRD Lubuklinggau,Chaidirsyam.

“Bukan sebagai saksi, hanya koordinasi kegiatan-kegiatan perkebunan, karena Mura terpilih menjadi pembangunan pangan terpadu, dan terkait pembangunan pangan lainya,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Seksi (Kasi) Pidsus Kejari Lubuklinggau, Andre Mardiansyah menyebut, Ramdhani dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan terkait dugaan kasus revitalisasi perkebunan. “Kita panggil untuk pengembangan kasus revitalisasi perkebunan di Disbun Mura, sekarang masih proses,” tukasnya.

Sebagai informasi, dalam kasus ini, Kejari Lubuklinggau sebelumnya menahan mantan Kepala Disbun Mura, dan anggota DPRD Kota Lubuklinggau, Chaidirsyam serta lima tersangka lain yakni oknum pegawai BRI dan oknum anggota Dewan Mura.

Informasi yang dihimpun sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Seksi Pidana Khusus Kejari telah menahan tersangka Ngadino, bagian Analis Kredit Bank Rakyat Indonesia (BRI) Lubuklinggau dan telah divonis 4 tahun penjara.

Lalu, 12 Mei 2014 kembali dilakukan penahanan terhadap dua orang tersangka dari perbankan yakni, mantan Pimpinan Cabang BRI Lubuklinggau, yaitu Sulaiman Tahe (Mantan Pimcab BRI 2008-2011) dan Sadarman (Mantan Pimcab BRI Lubuklinggau 2006 – 2008).

Kemudian, 11 Juli 2014 penyidik Seksi Pidsus Kejari menahan oknum Anggota DPRD Mura, Budiman saat kasus bergulir diduga sebagai koordinator pengrekrut petani. Selanjutnya, 13 Juli, kembali ditahan Anggota DPRD Mura, Al Imron Harun saat kasus bergulir sebagai oknum Kades Lubuk Pauh.

Kasus ini bermula, ketika pemerintah melakukan program revitalisais perkebunan di Desa Lubuk Pauh, Kecamatan Bulang Tengah Suku (BTS) Ulu, seluas 236 hektare. Saat pelaksanaan, nama-nama petani yang menerima bantuan revitalisasi perkebunan tersebut kebanyakan fiktif. Akibatnya, hasil audit BPKP, negara dirugikan Rp3,681 miliar.

 

TEKS            : SRI PRADES

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster