Mengapa Seniman Boikot FFI 2014 ?

 583 total views,  2 views today

unjuk rasa yang berlangsung di Gedung DPRD Sumsel Oleh Para Seniman. Di mana massa mempertanyakan mengapa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) tidak melibatkan Dewan Kesenian pada FFI 2014 di Sumsel. | Foto : Bagus Kurniawan/KS

unjuk rasa yang berlangsung di Gedung DPRD Sumsel Oleh Para Seniman. Di mana massa mempertanyakan mengapa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) tidak melibatkan Dewan Kesenian pada FFI 2014 di Sumsel. | Foto : Bagus Kurniawan/KS

Senin (3/11), puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Seniman Sumatera Selatan (Sumsel) mengancam bakal memboikot gelaran Festival Film Indonesia (FFI) yang dijaualkan Desember 2014 mendatang. Ancaman ini disebabkan karena para seniman yang tergabung di Dewan Kesenian tak dilibatkannya di event tersebut. Bahkan, seorang karyawan Hotel Arista bernama Choki Susilo ditunjuk sebagi Even Organaizer (EO) FFI.

Ancaman pemboikotan ini disampaikan massa dalam aksi unjuk rasanya yang berlangsung di Gedung DPRD Sumsel. Di mana massa mempertanyakan mengapa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) tidak melibatkan Dewan Kesenian pada FFI 2014 di Sumsel? Namun, justru Choki Susilo, karyawan Hotel Arista yang ditunjuk sebagai Even Organaizer (EO).

“Dalam gelaran FFI ada dua kepanitian yakni Disbupar dan dan Hotel Arista. Atas dasar apa Choki Susilo karyawan Hotel Arista itu ditunjuk sebagai EO?,” teriak massa.

Selain mempertanyakan keterlibatan Hotel Arsita, massa juga menyoal pertanggung jawaban Hotel Arsita terhadap kerugian malu materi dan nama baik bagi pencetus ide dan pembuat program even-even yang dibatalkan dan atau tidak dilaksanakan dengan kondisi menyakitkan.

Pun massa menyebutkan jika ketua Panitia Syendi Apriko acap kali mengeluarkan pernyataan akan menantang Komunitas Seni untuk melaksanakan sendiri kegiatan tersebut kalau ada dana.

Koordinator Umum Aliansi Seniman Sumsel, Jimmy Pieter menegaskan, adapun memboikot FFI 2014 di Sumsel karena dinilai tidak adil bagi pihaknya guna menerima kenyataan seniman Sumsel yang hanya sebagai ornamen kecil yang digunakan di acara seremonial saja. Dan, diperlakukan tidak selayaknya dengan membayar uang lelah ala kadarnya.

Adapun tuntutan yang disampaikan massa yakni meminta pencabutan Hotel Arista selaku EO penyelenggara FFI 2014 di Sumsel.

“Periksa penunjukkan Hotel Arsita atau Choki Soesil dan hasilnya harus diumumkan ke publik. Kembalikan peran Dewan Kesenian untuk melaksanakan program-program yang sudah seharunya menjadi bidangnya,” ungkapnya.

Menanggapi aspirasi yang disampaikan Aliansi Seniman Sumsel tersebut, Anggota DPRD Sumsel RA Anita Noeringhati mengatakan ditunjuknya Sumsel sebagai tuan rumah FFI 2014, perlu diapresiasi dan didukung, namun mengenai dana, semua berasal dari APBN.

“Keterlibatan ikut serta dalam menerima ataupun menjadi tuan rumah perlu diapresiasi, tapi memang dana penyelenggaran FFI ini dari APBN,” kata dia.

Akan tetapi meski demikian, lanjut Anita sudah memang seharusnya perhelatan FFI ini melibatkan para Seniman asal Sumsel.

“Kedepan akan libatkan semua seniman untuk ikut dalam ajang FFI, kami juga akan sampaikan aspirasi ini kepada Disbupar,” tutup Jubir Golkar Sumsel ini.

 

TEKS    : ARDHY FITRIANSYAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster