Santi dan Sari Dihabisi Ayah Kandungnya Usai Makam Malam

 55 total views,  3 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

EMPAT LAWANG – Ironis, usai menghabisi nyawa kedua putri kandungnya secara sadis, Sapril (30), warga Desa Pajar Menang, Kecamatan Muara Pinang, merasa puas dan tidak menunjukkan penyesalan. Bahkan petani ini menganggap, kematian kedua balita itu sebagai pemutus garis keturunan bersama istrinya.

Diinformasikan sebelumnya, Santi (5) dan Sari (2), dua balita ini meregang nyawa dibantai oleh ayah kandungnya sendiri. Aksi kejam dan tak beradab itu dilakukannya, lantaran Sapril cemburu dan marah, karena istrinya menjadi biduan dan kerap di goda lelaki lain.

Kepada penyidik Polres Empat Lawang, Sapril mengaku membunuh anaknya di dapur rumahnya sendiri, Jumat (10/10) sekitar pukul 18.30 WIB. Kata Sapril, ia membunuh satu persatu putri kesayangannya secara sadar, usai diberi makan malam terlebih dahulu.

Aksi kejam itu, dilakukan pertama dengan membacok anak bungsunya, Sari, menggunakan parang. Bacokan itu diarahkan ke kepala kanan bocah malang tersebut. Sementara Sinta, anak sulungnya yang menyaksikan itu ketakutan dan berteriak, namun segera dicengkram oleh ayahnya dan langsung dibacok dibagian mulutnya hingga terbelah. Tak puas sampai disitu, Sapril tega memotong kedua tangan Sinta, karena sang anak memegang tubuhnya. “Bapak bapak bapak,” teriak lirih Sinta, sebelum ajal merenggutnya.

Diceritakan Sapril, ia nekat membunuh kedua anaknya lantaran sudah lama menahan sakit hati atas prilaku istrinya, Wini (27). Itu karena istrinya, lebih memilih jadi seorang penyanyi orgen tunggal (biduan, red) ketimbang tugas utama mengurusi anak-anaknya.

Sebelum kejadian itu, pada Kamis lalu dirinya pergi ke Desa Muaro Kelumpai, Kabupaten Lahat kediaman metuanya dan disana kedua anaknya dititipkan. “Anak anak nanyo ibunyo, aku jawab dak tau. Ku tanyo dengen mamang, istri aku pergi bawa pakaian banyak,” kata Sapril dihadapan tim penyidik Polres Empat Lawang, kemarin (12/10).

Dengan rasa kecewa, tersangka langsung membawa kedua anaknya pulang ke rumahnya di Desa Pajar Menang, sesampainya dirumah kedua anaknya diberi makan dan setelah itu baru dibantainya.

“Aku bunuh yang bungsu dulu dengan parang, baru anak pertamo aku bacok jugo dengen parang,” ungkap Sapril tanpa penyesalan, bahkan ia merasa puas karena telah terlepas dari beban perbuatan istrinya.

“Aku puas, sekarang tidak ada lagi garis keturunan aku dan dari istriku. Biar sekalian cerai dak ado ingatan terhadap anak, bisa langsung pisah saja, silahkan kalau dia mau jadi biduan,” cetusnya lantang.

Sapril mengulas, sebelum menikahi Wini, istrinya itu sudah berprofesi sebagai biduan, namun setelah menikah tidak lagi. Belakangan, akibat ada cekcok berujung hilangnya keharmonisan, istrinya kembali melakoni profesi menjadi biduan. “Ngulang lagi jadi biduan, anak-anak dibiarkan saja. Aku kecewa, biar sekalian mati semua,” ujarnya seraya menyebut, saat membunuh istrinya tak ada di rumah.

Untuk mempertangungjawabkan, Sapril menyerahkan diri ke Mapolsek Muara Pinang tak lama setelah kejadian. Setelah pemeriksaan, demi keamanan tersangka di rujuk ke Mapolres Empat Lawang.

Semetara itu Kapolres Empat Lawang, AKBP M Ridwan melalui Kasat Reskrim, AKP Nanang Supriatna didampingi Kanit Pidum Ipda Indra Gunawan mengatakan, setalah membunuh kedua anaknya tersangka langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Muara Pinang dan sekarang tersangka sudah dilimpahkan ke Polres. “Motip pembunuhan bedasarkan keterangan dari tersangka dikarena ingin memutuskan garis keturunan, baik itu dari dia sendiri ataupun dari istrinya,” jelas Gunawan.

Modus lainnya? jelas Ipda Gunawan, karena cemburu dan tidak setuju jika istrinya menjadi biduan. Kedua korban merupakan anak kandungnya sendiri, tewas setelah dibacok menggunakan sajam jenis parang. Dalam kasus ini, tersangka dijerat pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

 

TEKS         : SAUKANI

EDITOR       : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com