Satu Titik Rp198.360.000, Taman Kota BLH OKI Diduga Mark Up

 385 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

KAYUAGUNG – Proyek pembuatan taman kota oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang berlokasi di Kelurahan Sidakersa dekat masjid Agung Solihin di pinggir sungai dan Kelurahan Kutaraya dekat SMAN 3 Unggulan diduga terjadi mark up terhadap proyek bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) 2014.

Dari informasi yang diterima Kabar Sumatera, untuk satu paket kegiatan tersebut menghabiskan pagu Rp 198.3600.000, sementara jumlah pekerjaan untuk taman kota itu dua paket. Sehingga total pembangunan taman menghabiskan Rp 396.720.000.

Untuk dana sebesar itu, berdasarkan pengamatan di lokasi taman itu,  jumlah tanaman yang ditanam yakni tanaman asoka dan ratu jimat, tanaman sikat ada 3 pohon, cemara dengan ukuran tinggi 1 meter ada 10 batang, dan masih ada sejumlah tanaman buang kecil lainnya, ukuran luas tanaman sendiri diperkirakan 30×5 meter, dengan ditembok tanah liat merah dan ditanami rumput diatas tanah itu. Demi memperindah taman pihak BLH pun membangun patung singa.

Sumber koran ini berkata, melihat kondisi taman tersebut, rasanya tidak sampai menghabiskan dana sebesar itu. Kata dia ada dugaan dalam pengerjaan proyek itu terjadi mark up.

“Ya, kita lihat dari kasat mata kalau membandingkan dana yang ada, bias diduga mark up,” katanya yang enggan namanya disebutkan.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) OKI, Nursula melalui Kuasa Pemegang Anggaran (KPA) menyebutkan, dalam pengerjaan proyek tanama tersebut, Tabrani, saat dikonfirmasi melalui ponselnya, terkesan enggan menanggapi terkait pertanyaan wartawan mengenai proyek taman itu. Tabrani yang notabennya mengetahui kegiatan itu karena jabatannya sebagai KPA, justru mengarahkan wartawan kepada atasannya kepala BLH.

“Kalau soal itu jangan dengan saya, coba kamu tanyakan langsung saja dengan kepala dinas kami,” katanya seraya mengakhiri sambungan selulernya.

Nursula menambahkan, proyek pembangunan taman ini merupakan proyek BLH yang dikerjakan pihak ketiga. Proyek itu secara pendanaan berasal dari BLH, namun untuk teknis dalam penataan taman, pihaknya meminta bantuan dari Dinas Pertamanan dan Tata Kota.

“Kami kira itu tidak menyalahi aturan, dan dikerjakan oleh pihak ketiga,” kilah Nursula.

Ujar Nursula, dana sebesar itu tidak lantas dihabiskan sebatas pengerjaan saja, melainkan masih digunakan selama enam bulan kedepan untuk biaya perawatan.

“Misalnya, untuk penggantian tanaman yang rusak,” terangnya.

Pihaknya berkeyakinan dalam pengerjaan proyek itu tidak menyalahi aturan, karena dikerjakan pihak ketiga.

“Ya, itu kan yang mengerjakan kontraktor, kami hanya pendanaan saja,” tandasnya.

 

TEKS      : DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : SARANO P SASMITO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster