Perkara Mantan Walikota Palembang, Penyidik Kesulitan Gelar Perkara

 235 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh mantan Walikota Palembang Eddy Santana Putra terus bergulir, namun saat ini petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel), mengalami kesulitan dalam kasus ini, ini disebabkan keberdaan Husin yang diduga dianiaya Eddy menghilang bak ditelan bumi.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumsel, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) R Djarod Padakova, didampingi Kasubdit I Ditreskrimum Polda Sumsel, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sutriyo, mengatakan penyidik sudah berulangkali melayangkan surat panggilan kepada Husin.

Tujuannya, untuk melakukan pemeriksaan tambahan usai gelar perkara dilaksanakan. “Namun, ia tidak pernah memenuhi panggilan itu. Begitu datangi ke rumahnya, ia dikabarkan sudah pindah tanpa kita ketahui pindah kemana,” kata Djarod, Rabu (1/10) kemarin.

Selain kesulitan mencari keberadaan Husin, lanjut Djarod, penyidik juga kesulitan mencari keberadaan seorang saksi dari pihak Husin bernama Wahid. Sama halnya dengan Husin, keberadaan Wahid kini sulit ditemukan karena yang bersangkutan juga dikabarkan sudah pindah rumah.

Dijelaskan Djarod, selain akan dimintai keterangan tambahan, Wahid dan Husin juga diperlukan untuk digelarnya pra-rekonstruksi. Dari hasil gelar perkara, perkara antara Husin dan ESP diharuskan digelar pra-rekonstruksi.

Namun, ini terancam batal digelar karena Husin dan Wahid tidak kunjung memenuhi panggilan penyidik. “Bagaimana mau digelar kalau salah satu pihak yang berperkara tidak datang. Sementara, baik terlapor maupun pelapor, harus datang untuk mengetahui persis kejadiannya,” kata Djarod.

Dari gelar perkara, masih kata Djarod, penyidik mendapati adanya perbedaan dari hasil visum dari luka Husin. Menurut hasil tersebut, luka di tubuh Husin diderita setelah kejadian berlangsung. Kuat dugaan, luka itu bukan hasil penganiayaan yang dilakukan ESP dan rekan-rekan di kantor PDI-P Basuki Rachmad, seperti yang dilaporkan oleh Husin.

Untuk itu, penyidik butuh penjelasan dari Husin dan Wahid. Namun, yang bersangkutan kesulitan untuk dicari keberadaanya. “Kita masih akan mencoba mencari keberadaan Husin dan Wahid karena kasus ini masih kita lanjutkan. Kita tetap berusaha menjemput keduanya untuk dimintai keterangan tambahan,” kata Djarod.

Seperti diketahui, Husin melapor ke SPKT Mapolda Sumsel terkait adanya penganiayaan yang dilakukan ESP dan teman-teman di kantor PDI-P Jalan Basuki Rachmad Palembang. Kejadian bermula saat Husin bermaksud meminta uang kampanye kepada ESP. Namun, ia malah dianiaya oleh ESP dan teman-teman.

Pihak ESP, yang merasa tidak pernah berbuat penganiayaan, juga melaporkan Husin ke SPKT Mapolda Sumsel. Adapun yang dilaporkan adalah dugaan pemerasan yang sudah dilakukan Husin. Laporan ini kini ditangani oleh Subdit III Ditreskrimum Polda Sumsel.

 

TEKS   : Oscar Ryzal

EDITOR : SARONO P SASMITO

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster