Tiga Negara Jadi Pesaing Baru, Harga Komoditas ‘Babak Belur’

 258 total views,  2 views today

Ilustrasi Buah Kelapa Sawit | Ist

Ilustrasi Buah Kelapa Sawit | Ist

PALEMBANG – Harga komoditas di Sumsel saat ini tengah mengalami masa sulit bahkan sejak beberapa bulan yang lalu harga karet dan sawit di Sumsel tak kunjung membaik. Hal ini diperparah dengan munculnya negara produsen baru yang menambah persaingan, seperti Myanmar, Vietnam dan Laos yang mulai memproduksi karet dan Afrika yang menghasilkan CPO.

Ketua Apindo Sumsel, Sumarjono Saragih saat ditemui usai pertemuan Pengurus Forum Komunikasi  Asosiasi Dunia Usaha Provinsi Sumatera Selatan, di Kantor Gubernur Sumsel, kemarin (30/9) mengatakan, Keberadaan tiga negara baru pengekspor karet tersebut cukup membuat Pemprov Sumsel ketar-ketir. Pasalnya saat ini ekspor karet mengalami penurunan yang cukup drastis selama lima tahun terakhir..

“Harga karet saat ini sudah menyentuh titik terendah sepanjang lima tahun terakhir. Bisnis di Sumsel sedang menghadapi masa sulit karena harga komoditas yang babak belur dan kondisi ini sudah berdampak kemana-mana,” katanya.

Berdasarkan catatan Apindo Sumsel, penurunan harga kedua komoditas andalan Sumsel itu sudah mencapai 45 persen dibandingkan tahun lalu. Sumarjono mengatakan saat ini harga bahan olah (bokar) sekitar US$1,4 per kilogram atau Rp 15.000-Rp 16.800 per kg. Padahal sebelumnya harga bokar masih di atas Rp 17.000 per kg bahkan sempat berkisar Rp 20.000 per kg.

Sementara untuk harga tandan buah segar (TBS) yang dijual petani kelapa sawit saat ini sekitar Rp1.500 per kg. Meski Dinas Perkebunan baru-baru ini melansir terjadi peningkatan harga namun menurut Apindo harga yang diterima petani maupun pengusaha itu tergolong rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Itu untuk TBS yang kualitas terbaik, coba bayangkan untuk TBS yang kualitasnya rendah paling petani hanya menerima Rp700 per kg -Rp800 per kg,” jelasnya.

Dia mengatakan secara eksternal, anjloknya harga komoditas itu juga disebabkan bermunculan negara produsen baru yang menambah persaingan. Kondisi ini, lanjut dia, juga berdampak pada daya beli masyarakat yang menurun. Seperti diketahui, masyarakat Sumsel banyak yang berprofesi sebagai petani karet.

“Jika daya beli masyarakat sudah rendah itu akan berpengaruh ke sektor usaha lain, seperti otomotif di mana sekarang banyak pemilik showroom mobil akhirnya alih usaha karena sektor itu ikutan lesu,” paparnya.

Oleh karena itu Apindo meminta Pemprov Sumsel agar dapat mencari terobosan supaya tidak bergantung pada sektor komoditas lagi atau menghadirkan alternatif untuk mengembangkan sektor itu, cara yang paling tepat adalah hilirisasi.

“Sektor komoditas itu selalu ada masanya, kita memang tidak bisa mengontrol harga karena itu adalah mekanisme pasar tetapi paling tidak ada alternatif, seperti hilirisasi melalui Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api,” katanya.

Dia menambahkan pihaknya juga mendukung pemerintah daerah untuk mengembangkan sektor lain yang sedang menopang pertumbuhan ekonomi Sumsel, yaitu perdagangan, hotel dan restoran (PHR).

Menurut Sumarjono, pemerintah bisa terus menarik agenda skala nasional maupun internasional berlangsung di Sumsel untuk mengembangkan sektor PHR.

Sementara itu, Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Permana mengatakan, penurunan harga komoditas bisa menganggu stabilisasi inflasi Sumsel.

“Harga komoditas anjlok maka daya beli masyarakat jadi turun. Hal tersebut akhirnya bisa berpengaruh ke inflasi di mana terjadi deflasi di Sumsel,” katanya.

Dia mengatakan sampai saat ini inflasi Sumsel masih terjaga namun jika kondisi ini terus dibiarkan maka dampak terhadap perekonomian provinsi itu bisa terasa.

 

TEKS    : IMAM MAHFUZ

EDITOR   : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster