Toyota Optimis Rebut 40% Pasar di Sumsel

 309 total views,  2 views today

toyota

PALEMBANG – Toyota masih tetap menjadi Top leader  penjualan otomotif di Sumsel. Sebab hingga memasuki bulan oktober ini, Toyota masih mampu mencatat total penjualan 39,7%. Hingga akhir tahun, Toyota optimis mampu mendrongkrak market diangka 40% di sumsel.

Yagimin ,Kepala Cabang Auto 2000 Tanjung Api-Api, senin (29/9) mengatakan, tren penjualan otomotif saat ini tidak tumbuh kencang, faktor ekonomi yang memang kurang mendukung menjadi penyebab utama, akibatnya orang kebanyakan memikir ulang untuk membelih kendaraan.

“Namun hal ini bukan berarti menutup peluang pertumbuhan penjualan otomotif, sebab masih ada beberapa sektor yang bisa mendongrkak penjualan otomotof, seperti sektor pertambangan dan perdagangan yang masih tumbuh pesat , dan kita optimis mampu mendrongkrak market diangka 40% di sumsel,” jelasnya.

Upaya yang dilakukan Toyota mendongkrak penjualan, antara lain dengan melakukan berbagai kegiatan promosi salah satunya melalui gathering konsumen. Cara ini dinilai sangat tepat, lantaran konsumen yang pernah membeli Toyota dilakukan refresh ulang mengenai aneka produk baru.

Hasilnya cukup terlihat, ketika melakukan gathering konsumen beberapa waktu yang lalu kita adakan menurutnya, dari 400 orang yang hadir 85 orang diantaranya langsung melakukan SPK. “Maka kegiatan seperti ini tentu akan rutin dilakukan, sebab sangat membantu untuk mendorong penjualan,” kata Yagimin

Ia pun menambahkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, nampaknya tinggal menunggu waktu, pasalnya defisit anggaran kian parah karena alokasi subsidi BBM kian membengkak.

Namun meski dibayangi isu kenaikan BBM, pelaku otomotif tidak terlalu khawatir, sebab kendaraan khususnya mobil saat ini merupakan kebutuhan wajib untuk menunjang performa kerja.

Ia mengungkapkan, problem BBM merupakan masalah klasik. Pengalaman kenaikan BBM selama 10 tahun terakhir cukup memberikan pelajaran kalau kenaikan BBM tidak berdampak terhadap penjualan kendaraan.

“Pertengahan tahun lalu, BBM mengalami kenaikan, namun secara langsung penjualan mobil khususnya Toyota tidak mengalami kendala yang berarti. Hanya saja untuk tahap awal penerapan kenaikan harga konsumen sedikit kaget karena harus menyusun ulang pengelolaan keuangan meraka,” ujarnya.

 

Menurutnya , penyesuaian pengelolaan keuangan sebagai akibat dari kenaikan BBM biasanya berlangsung selama 2-3 bulan, artinya ketika masa itu penjualan kendaraan sedikit tersendat, namun setelah itu penjualan akan kembali normal.

Namun lanjut dia, Toyota memprediksi, ketika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM atau mencabut subsidi, kendaraan yang hemat konsumsi BBM penjualannya akan melejit.

“Ada dua indikator yang menjadi cerminan mobil hemat energi melejit penjualannya, pertama karena kondisi jalan yang semakin padat, kedua beban pengeluaran meningkat karena kenaikan BBM. Orang tentu mulai berfikir untuk mencari kendaraan yang hemat,” tutupnya.

 

TEKS    : SONNY KUSHARDIAN

EDITOR  : ROMI MARADONA

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster