PGRI OKI Ancam Demo RSUD

 398 total views,  2 views today

Ratusan guru yang tergabung dalam anggota PGRI OKI menyaksikan jalannya sidang di PN Kayuagung. | Dok KS

Ratusan guru yang tergabung dalam anggota PGRI OKI menyaksikan jalannya sidang di PN Kayuagung. | Dok KS

KAYUAGUNG – Kasus persidangan Suhermi (50) terus berlanjut, bila sebelumnya pada persidangan tuntutan dua pekan lalu, terdakwa dituntut empat bulan penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) karena menganiaya siswanya bernama Eka Anggraini dengan cara dicubit diperutnya akibat tidak bisa menjawab soal matematika. Kali ini dalam persidangan pembelaan, Senin (29/9) melalui kuasa hukumnya, Herman meminta kliennya dibebaskan segala tuntutan.

Alasannya? Karena klainnya dinilai tidak bersalah, itu semua dilakukan karena untuk mendidik, dan bekas pada luka cubit itu bukan sepenuhnya karena dicubit, melainkan korban siswa memang telah mengalami penyakit cacar pada perutnya.

“Kami merasa keberatan terhadap klain kami Pak Suhermi terhadap tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut empat bulan penjara. Dalam pembelaan ini kami minta klain kami dibebaskan dari segala tuntutan” kata Herman, SH di Pengadilan Negeri Kayuagung, Senin (29/9).

Ratusan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) seperti sidang sebelumnya tetap setia memberikan solidaritas dukungan terhadap terdakwa Suhermi yang tak lain rekan mereka sesama guru. Mereka minta Hakim Ketua membebaskan rekan mereka karena tidak bersalah. Baca (Ratusan Guru di OKI Protes Hasil Sidang Suherni).

“Selama saya mengenal beliau  (Suhermi) beliau tercatat guru yang tidak banyak ulah. Jadi kami dari PGRI meminta kepada bapak jaksa untuk meninjau dan mempertimbangkan kembali, tuntutan sebelumnya, dan bisa mengkaji lagi hasil visum yang dikeluarkan pihak rumah sakit. Karena dari hasil visum itu, tidak menunjukkan bukti-bukti cubitan seperti yang ada di foto. Yang bersangkutan memang sakit cacar. Jadi semua yang merah di perut korban bukanlah semua dari cibutan,” jelas Ahmad Sekretaris PGRI Kabupaten OKI di depan Ketua Hakim, Frans Efendi Manurung.

Menanggapi pernyataan itu, Ketua Hakim, Frans Efendi Manurung, berjanji akan bertindak seprofesional mungkin dalam menangani kasus ini.

“Kami ngerti apa yang ibu dan bapak inginkan. Kami akan bekerja dengan adil, namun kami mohon kepada kalian semua nanti akan menerima dengan lapangan dada hasil keputusan nanti,” pinta Frans.

Ahmad, Sekretaris PGRI, menambahkan akan mengancam demo ke rumah sakit terkait hasil visum tersebut. Menurutnya dirinya bersama anggota PGRI OKI akan turun ke jalan, menemui DPRD, dan RSUD terkait tentang kasus ini.

“Kalau rekan kami nantinya tidak bebas kami akan demo. Bahkan tidak mesti sampai persoalan ini selesai, sekitar dua hari lagi setelah kami selesai mengurus izin demo dari pihak kepolisian, maka kami akan demo,” ancamnya.

Pantauan di kantor Pengadilan Negeri Kayuagung, tampak ratusan guru yang tergabung dalam organisasi PGRI sangat kompak memberikan dukungan terhadap rekannya.

Dari pengamatan Kabar Sumatera, pihak Dinas Pendidikan (Disdik) OKI sepertinya tidak ada yang hadir. Seperti halnya dari bagian TK/SD atau perwakilan lainnya.

 

 

TEKS   : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster