Pembalakan Liar Marak, Hutan Rimbo Sekampung Kritis

 310 total views,  2 views today

Ilustrasi | Google Image

Ilustrasi | Ist

MUARAENIM – Aksi illegal logging atau pembalakan hutan yang diduga dilakukan dan dibekingi oleh oknum warga Benakat, membuat kondisi Hutan Rimbo Sekampung, nyaris tinggal kenangan. Sebab dari 3000 hektar luas hutan tersebut, sekitar 70 persen sudah habis dibabat habis dan dijual untuk kepentingan pribadi.

Ardin, salah satu penggiat penyelamat Hutan Rimbo Sekampung menyebut kondisi tersebut sudah terjadi sejak puluhan tahun. “Saya harap ada keseriusan bupati, kepolisian, kehutanan, dan pihak lain untuk menghentikan pembalakan liar tersebut. Jika tidak, hutan dan flora serta faunanya terancam habis,” kata mantan anggota Panitia Penyelamat Rimbo Sekampung (Paperis) Benakat ketika dibincangi Kabar Sumatera, Minggu (28/9).

Ia menerangkan, Hutan Rimbo Sekampung, sejak nenek moyang mereka bahkan pemerintah kolonial Belanda, ikut mengakui keberadaannya hutan tersebut sebagai hutan adat, sesuai dengan surat yang ada pada masyarakat Benakat pada 1908.

Hutan Rimbo Sekampung jelasnya, milik marga Benakat yang terdiri dari enam desa yakni Desa Padang Bindu, Pagar Dewa, Pagar Jati, Betung, Rami Pasai dan Hidup Baru. Pada tahun 1991 sebut Aidin, PT Musi Hutan Persada dan beberapa perusahaan swasta lainnya berinvestasi di Kabupaten Muaraenim.

“Sehingga dibentuklah semacam panitia, yang tujuannya untuk menyelamatkan Hutan Rimbo Sekampung dari tangan jahil yakni Panitia Penyelamat Rimbo Sekampung (Paperis) Benakat. Tetapi pada 27 April 2013, kepanitian itu dibubarkan oleh para kepala desa (kades) dan Pemangku Adat Benakat,” jelasnya.

“Alasannya, Ketua Paperis M Subri bersama anggotanya dianggap telah menyalahgunakan tugas yakni melakukan pencurian kayu melalui perpanjangan orang lain, sehingga dibubarkan,” bebernya.

Selama belum ada kepengurusan baru, maka pengawasan terhadap Hutan Rimbo Sekampung diambil alih kades di Kecamatan Benakat. Barulah pada 26 Juni lalu, kepengurusan Penaris yang baru terbentuk dan di ketuai Tamri.

Namun selama 17 bulan, pengawasan Hutan Rimbo Sekampung diambil alih kades-kades di Kecamatan Benakat, kondisi Rimba Sekampung bukannya aman tetapi semakin rusak dan hancur.

Dari 3000 hektar luasan hutan tersebut, sekitar 70 persen nya telah rusak akibat ditebang oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, sehingga sebagaian besar hutan sudah gundul dan ditumbuhi alang-alang.

Anehnya kata dia, selama terjadi proses pembalakan yang dilakukan oleh oknum, seluruh kades maupun pemangku adat diam tidak melakukan tindakan. Padahal diduga kuat mereka mengetahui kejadian tersebut.

“Kami minta bupati, untuk menyelidiki oknum yang diduga terlibat dalam pembalakan tersebut untuk dihukum seberat mungkin. Saya siap menjadi saksi, untuk pengusutan aksi persengkongkolan kejahatan tersebut,” terangnya.

Terpisah, Ketua Paperis Tamri Bekaro mengakui kondisi Hutan Rimbo Sekampung yang sudah rusak akibat pembalakan liar. Menurutnya, sebelum kepengurusan Paperis sebelumnya dibubarkan dan pengawasan Rimbo Sekampung diambil alih kades dan pemangku adat, kondisi hutan tersebut masih terawat. “Namun sejak kepengurusan Paperis dibubarkan, pembalakan liar semakin marak,” jelasnya.

Kades Pagar Dewa, Yusron menambahkan, saat ini, kondisi Hutan Rimbo Sekampung memang cukup memprihatinkan. Saat ini jelasnya, hanya sekitar 30-40 persen lagi dari luasan hutan tersebut, yang kondisinya masih baik.

“Dulu, setiap masyarakat di Kecamatan Benakat diperbolehkan untuk menebang pohon di Rimob Sekampung hanya untuk keperluan pribadi, dan sebanyak 10 kubik. Itu pun, kayu nya tidak boleh dijual. Setelah menebang, Paperis akan memeriksa dan diketahui kades masing-masing apakah kayu yang diambil memang sewajarnya dan bukan untuk dijual,” jelasnya.

Namun sambung Yusron, sejak kepengurusan Paperis dibubarkan pada 2013, terjadi pembalakan liar dan kerusakan di kawasan Hutan Rimbo Sekampung.   “Kita minta penegak hukum untuk bertindak tegas, jika ingin hutan tersebut selamat. Kami khawatir, jika hutan musnah, bisa menganggu ekosistem flora disana. Sehingga gajah, harimau, siamang, rusa dan lain-lain akhirnya menganggu manusia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Muaraenim, Rustam saat di konfirmasi menerangkan, kawasan Hutan Rimbo Sekampung termasuk kawasan hutan produksi Benakat Semanggus yang terbentang dari Kabupaten Muaraenim, Muba, Mura dan PALI.

“Hutan tersebut, adalah hutan produksi milik negara, disana beragam jenis kayu tumbuh seperti meranti, medang, merawan, merbau, ngerongang, leban, bongor, mangris, trembesi dan lain-lain. Jika ada masyarakat yang melakukan perambahan atau sejenisnya, tentu menyalahi dan akan berhadapan dengan hukum sebab itu milik negara,” terangnya.

Rustam mengaku, sudah mendapatkan berbagai laporan dari masyarakat terhadap kondisi Hutan Rimbo Sekampung sekarang termasuk adanya pembalakan liar. Namun laporan tersebut terangnya, masih dipelajari Dishut. “Sebab dalam laporan yang diterima Dishut itu terang Rustam, ada beberapa kelompok warga yang saling melaporkan,” tukasnya.

 

TEKS         : SISWANTO

EDITOR        : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster