Jembatan Asal Jadi, Warga di Lima Desa Pertanyakan Proyek Jembatan

 550 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

LAHAT – Warga Desa Gedung agung, Kecamatan Merapi Timur mempertanyakan pengerjaan proyek jembatan lintas dari desa menuju desa lain. Yakni Desa Tanjung lontar, Sengkuang, Nanjungan, Desa Lematang Jaya, dan Cempaka Wangi. Menurut warga setempat proses pengerjaannya dilakukan asal jadi.

“Jembatan itu merupakan satu satunya jembatan penghubung antar masyarakat desa. Sehingga akses jembatan itu dianggap sangat vital sekali bagi perkembangan ekonomi dan kemakmuran. Bahkan warga sekitarnya menilai, jika jembatan itu dikerjakan tidak sesuai aturan, maka dikhawatirkan akan roboh dan tidak akan lama,” ungkap Jacka warga Desa Sengkuang, yang kebetulan berada di lokasi pembuatan jembatan tersebut

Katanya, proses pembuatannya terkesan asal asalan saja. Proyek jembatan itu dinilainya telah menelan dana uang rakyat miliaran rupiah.

“Hasilnya seperti itu. Saya lihat para tukangnya mengecor pondasi jembatan itu hanya menggunakan adukan semen saja, dan juga batu koralnya besar besar sekali seperti drum. Sementara proyek yang hanya menggunakan dana seratus juta kebawa saja, masih menggunakan mesin diaduk menggunakan mesin molen untuk mengaduk semennya,” dijelaskannya.

Tak hanya itu, kata Jacka, papan keterangan proyek, pun sama sekali tidak ada. Sehingga masyarakat disini mempertanyakan proyek apa itu, apakah proyek pemerintah, proyek swadaya warga. atau proyek “Siluman” yang terkesan ditutupi.

“Karena tidak dipasang papan proyeknya, makanya warga justru mempertanyakannya. Sebab, jembatan itu kami sendiri yang akan melewatinya setiap hari. Kalau dibuat asal asalan, maka kami juga yang akan menanggung akibatnya nanti,” keluh Jacka.

Saat ditanya kepada kepala tukang proyek jalan itu berinisial RH menyebutkan, bahwa papan proyek jembatan tersebut memang sudah ada, hanya saja katanya belum diberikan oleh pihak pemborongnya.

“Ada dengan Pak Budi. Kalau masalah mengaduk semen menggunakan manual, kami hanya menjalankan perintah dari pemborong,” ungkapnya.

Sedangkan Kades Nanjungan, Iyan yang dihubungi via telpon gengamnya mengatakan bahwa, semua persoalan proyek jembatan permanen yang berada di jalan lintas dusun ini diserahkan semuanya pada Ruteman selaku kades Tanjung lontar,terang Iyan Kades Nanjungan. Saat di konfirmasikan terhadap kepala desa Tanjung Lontar.

“Coba saja tanya sama Ruteman,” ujar Iyan.

Keluhan senada juga dilontarkan oleh Kepala Desa Gedung Agung, Andi. Menurut Andi dirinya dan warga sangat kesal dengan ulah kontraktoir yang mengerjakan proyek jembatan yang ada didesanya tersebut.

“Yang jelas kami mengecam, jika pembangunan proyek jembatan jalan lintas ke dusun dalam itu dibuat sembarang, tanpa sesuai dengan petunjuk tehnis. Saya harap pihak kontraktor selaku pelaksana pembuatan jembatan itu, sebaik nya dihentikan saja dan diganti dengan pekerjaan yang baru sesuai petunjuk tehnis PU Bina Marga Lahat,” Andi membeberkan.

Beberapa kepala desa di sekitarnya telah sepakat dan ikut bertanda tangan dalam provosal usulan pembangunan jembatan tersebut rencana usulan pembangunan jembatan tersebut.

“Semua kades yang berada di sini ikut mengusulkan dan mendatangani surat prosal tersebut. Jadi saya sebagai orang yang ikut dalam usulan tersebut, juta ikut bertanggung jawab baik buruknya jembatan itu,”ujar Andi.

Kalau pemborongnya mengerjakan tanpa mengikuti bistek dari dinas PU Lahat, lanjut Andi, berarti pembangunan jembatan itu dipastikan kualitasnya tidak akan menjamin.

“Itu jelas-jelas ada pidananya,” cetus Kepala Desa Gedung Agung ini.

 

TEKS   : JUMRA ZEFRI

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster