Tuntut Kembalikan Lahan Desa, Warga Ancam Demo PT BSP

 354 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

MUARAENIM – Warga Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muaraenim mengancam akan melakukan aksi besar-besaran ke PT Bumi Sawindo Permai (BSP). Itu dilakukan lahan yang dikuasai PT BSP tersebut, didapatkan dengan cara tidak sah.

Kepala Desa (Kades) Tanjung Agung, Mustofa Ashar didampingi sejumlah tokoh masyarakat Tanjung Agung menyebut lahan seluas 600 hektar yang masuk dalam areal Hak Guna Usaha (HGU) PT BSP di Rimba Banau Sialang Kemuning, adalah tanah ulayat dan masuk dalam kawasan hutan rakyat.

Namun pada 1978, Gubernur Sumsel mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 461/SK/I/1987 tentang pecadangan lahan di Kecamatan Tanjung Agung dan Kecamatan Tanjungenim untuk keperluan perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet atas nama PT BSP.

“Tetapi dalam SK tersebut dijelaskan, pihak perusahaan harus menyelesaikan dahulu atas hak/usaha dan tanam tumbuh/bangunan penduduk yang terdapat dalam areal HGU perusahaan,” kata Mustofa yang dibincangi, Selasa (23/9).

Namun sampai saat ini jelasnya, ganti rugi tersebut tidak pernah dibayarkan oleh perusahaan. Dengan demikian menurut Mustofa, otomatis pemberian izin HGU ini batal demi hukum dan areal hutan rakyat harus dikembalikan ke masyarakat Tanjung Agung.” Kami bukan asal bicara, tetapi jelas tertulis dalam aturan izin dalam pemberian HGU tersebut,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, masyarakat dan pemerintah desa sudah meminta PT BSP untuk mengukur ulang lahan yang masuk areal HGU mereka. Namun PT BS tidak mau tanpa alasan yang jelas. Padahal dalam HGU PT BSP itu, ada lahan milik masyarakat desa yang belum diganti rugi.

Tokoh masyarakat Tanjung Agung, Syamsul Bahri menambahkan, pemerintah desa dan perwakilan masyarakat sudah berulangkali melakukan pertemuan dengan manajemen PT BSP yang dimediasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muaraenim.

Namun hasilnya, sampai saat ini belum ada titik temu. Sehingga warga ucap Syamsul, dibuat kesal. Kekesalan itu ditunjukkan dengan warga dengan melakukan pematokan lahan hingga dua kali. Namun karena dijanjikan akan diselesaikan, sehingga patok kembali dilepas.

“Kemarin, Camat Tanjung Agung menjanjikan akan mempertemukan dengan bupati , jika bupati sudah kembali dari Jerman. Tetapi sampai bupati pulang, tidak ada kejelasan. Bahkan camat yang pergi tanpa ada kabar. Kami benar-benar kecewa,” ungkapnya kesal.

Camat Tanjung Agung, Rachmad Noviar yang coba dikonfirmasi, tidak bisa ditemui. Sejumlah staf kecamatan menyebut, Rachmad tidak ada ditempat. “Bapak ada tugas ke Palembang, selama seminggu,” terang salah satu staf Kecamatan Tanjung Agung, kemarin.

 

TEKS           : SISWANTO

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster