Ratusan Hektar Lahan Warga Banyuasin Dicaplok Perusahaan

 251 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

BANYUASIN – Lahan seluas 210 hektar milik 105 warga Desa Sumber Rezeki Primer I Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin diduga dicaplok PT Karya Sawit Lestari (KSL) dijadikan perkebunan sawit.

Munir, Kades Sumber Rezeki kepada wartawan menyebutkan, pencaplokan lahan warga tersebut sudah berlangsung  sejak tahun 2006 sapai saat ini.

“Ada ratusan hektar lahan warga kini diubah jadi kebun sawit yang sudah menghasilkan,” kata Munir.

Ia berkata, lahan ratusan hektar yang diduga dicaploknya itu merupakan milik 150 warga yang sudah diusahakan dengan pola padat karya dan sudah mempunyai surat sejak 1998. Menurutnya, luas lahan desa ekstran yang sekarang dipimpinnya berukuran 6.000 meter x 1.500 meter termasuk yang 210 hektar yang dicaplok PT KSL itu.

Terkait luasan desa dirinya merupakan salah satu kepala desa yang tidak mau menandatangani mengenai luasan desa, sebab masih ada lahan milik warganya yang dikuasai oleh perusahaan belum dikembalikan.

“Waktu itu diminta dikecamatan teken luas desanya, saya tolak kemudian saya dipanggil ke Tapem Pemkab juga tujuan yang sama namun tetap saya tolak hingga sekarang surat itu belum saya teken. Tetapi jika lahan warganya itu oleh perusahaan telah dikembalikan atau ada kejelasannya, mungkin akan saya teken,” jelasnya.

Kata Munir, lahan tersebut sudah diusahakan  sejak jaman Kades Bapak Kasimin dari tahun 1995-1998 kemudian Kades Alm. Hartoyo dari 1998-2006. Sudah jelas warga mengusahakan di atas lahan seluas 210 hektar itu. Karena terbentur permodalan yang akhirnya warga waktu itu satu persatu ingin mengubah nasib ada yang merantau ada yang menggarap dilahan lain. Lalu, sejak akhir 2006 itu lahan tersebut sementara waktu dikosongkan.

“Entah mengapa tiba-tiba lahan milik warga bisa dikuasai perusahaan itu, setelah dilakukan pelacakan ada dari pihak Desa Penogoan yang ternyata mengklaimnya yang kemudian dijual kepada pihak perusahaan itu setelah warganya saat itu tidak menggarapnya,” ungkapnya.

Padahal, terang Munir, semua surat kepemilikan warga atas lahan itu tercatat dibuku regrestrasi desa sampai sekarang ada dan belum ada yang diganti nama kepemilikannya.

Lanjutnya, pihaknya bersama warga serta beberapa lembaga juga media masa untuk menggiring persoalan ini hingga tuntas lahan seluas 210 hektar milik warganya bisa kembali dan pihak perusahaan melepaskannya. Bukan hanya itu warga berhak mendapatkan konpensasi keuntungan dari hasil produksi sawit yang selama ini telah dinikmati perusahaan.

“Yang pasti dalam waktu dekat ini warga bersama berbagai elemen akan menggelar eksen guna melepas lahan miliknya dari perusahaan (PT KSL). Andai kata perusahaan bersikeras kita ada bukti konkrit kepemilikannya bahkan datanya ada terdaftar diregister buku desa,” tuturnya.

Jika sampai akhir tahun ini lahan warga itu masih belum diserahkan dan perusahaan juga tidak mau mengembalikan kepada warga, sebut Munir, pihaknya akan meminta secara paksa dengan berbagai aktivitas yang akan dilakukan bersama warganya sesuai dengan kemilikannya.

“Jika perlu kita bikin kuburan massal di lokasi sana,” ancam Munir.

 

TEKS   : DIDING KARNADI

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster