Pendonor Bayaran dari Berbagai Berprofesi, Mayoritas Preman dan Tukang Ojek

 240 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

Berdasarkan keterangan salah seorang pegawai di rumah sakit ternama di Kota Palembang yang enggan disebut namanya mengatakan, banyaknya calo darah ini dikarenakan memang pasien sering kesulitan untuk mendapatkan darah. Meskipun stok PMI banyak namun satu pasien hanya akan diberi sekantong darah, dengan alasan untuk stok jika ada keperluan mendesak.

Padahal kebutuhan pasien terkadang mencapai 3-4 kantong. Untuk mencukupi kebutuhan inilah konsumen terpaksa mencari pendonor dari luar. “Kesempatan ini yang dimanfaatkan para calo untuk mencari keuntungan,” ungkapnya.

Apalagi kebutuhan darah ini sifatnya mendesak dan tidak bisa ditunda. Tapi, para calo ini darahnya terkadang tidak bisa diterima oleh pasien. karena mereka tidak mengetahui sang pendonor apakah pemabuk atau sebagainya yang mempengaruhi darah mereka.

“Tapi apabila telah ditusuk, pasien mau tidak mau membayarkan sejumlah uang sesuai kesepakatan awal. Ya terkadang darah tersebut hanya mubazir, bukannya untuk mengobati malah merugi karena membeli darah yang tak bisa digunakan,” imbuhnya.

Dikatakan, pendonor bayaran tersebut rata-rata berprofesi sebagai tukang ojek, preman, dan satpam di kawasan rumah sakit. “Motifnya, mereka ini mengantarkan keluarga pasien ke PMI, kemudian mereka langsung menawarkan darah, dengan dalih proses PMI lama,” tuturnya.

Memang kata dia, kenyataanya lama apalagi sejak PMI beralih ke Jl Soekamto. Membuat proses permintaan darah semakin sulit. Pasalnya keluarga pasien harus mengajukan dulu ke IPD (instalasi Permintaan Darah). Kemudian IPD mengajukan ke PMI, lalu PMI menyerahkanya lagi ke IPD.

“Menunggu proses inilah terkadang pasien 4 hari baru bisa dapat darah, tak jarang pasien lebih dulu meninggal dunia baru dapat pertolongan,” kata dia.

Semestinya, lanjutnya IPD harus bisa bertindak cepat menangani pasien yang butuh darah agar calo darah ini bisa ditanggulangi.

Yenti, seorang warga yang mengaku menggunakan jasa calo darah, dirinya terpaksa menggunakan jasa calo, pasalnya waktu meminta ke PMI alasannya darah lagi kosong. “Sementara keluarga saya harus segera melakukan operasi,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat itu dirinya terpaksa merogoh kocek Rp500 ribu per kantong untuk golongan darah A+. Namun, dia mengaku berterimakasih dengan calo darah tersebut meskipun harus menggeluarkan uang lebih besar. Pasalnya, bisa mempercepat penanganan pihak rumah sakit.

Sementara itu Salah seorang tukang ojek yang sering mangkal di depan RS RK Charitas mengaku, dirinya sering menjual darahnya kepada keluarga pasien yang membutuhkan dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 500ribu perkantong. “ Ya bagaimana lagi pekerjaan sebagai tukan ojek terkadang tidak mencukupi makanya saya nekat jual darah saya, lumayan uangnya,”kata dia.

Hampir setiap minggu dirinya menjual darah kepada keluarga pasien yang membutuhkan bahkan dirinya tak peduli dengan kesehatannya sendiri. “ Demi uang saya rela melakukan apa saja meskipun kesehatan saya taruhannya, padahal saya sudah sering diingatkan oleh dokter kalau kita hanya boleh donor tiga bulan sekali, tapi ya mau gimana lagi,”terangnya.

 

TEKS   : ALAM TRIE

EDITOR  : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster