Elpiji 3 Kg Bakal Naik Rp 1.000

 225 total views,  2 views today

Ilustrasi Elpiji | Ist

Ilustrasi Elpiji | Ist

PALEMBANG – Perhimpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Sumatera Selatan (Sumsel) meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan agar mendukung kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) gas elpiji ukuran tiga kilogram. Usulan kenaikan gas elpiji ini sebanyak Rp 1.000 dari harga Rp 13.800 menjadi Rp 14.800 per tabung.

Perhimpunan ini menilai, usulan tersebut mengacu pada keputusan Gubernur Sumsel terkait keputusan HET pada SK Gubernur No 568/KPTS/IV/2012 lalu. Sekretaris DPD II Hiswana Migas Sumsel, Nina Hikmah menegaskan, kenaikan ini lantaran mendesaknya keperluan dan kebutuhan dalam bidang angkutan. Kondisi ini juga imbas dari merangkaknya harga BBM serta Upah Minimum Provinsi (UMP) di Sumsel.

“Sebenarnya usulan ini sudah kita ajukan sejak April lalu. Namun, karena kondisi situasi politik Pilpres, terpaksa kita tunda,” ujarnya saat rapat penetapan HET Elpiji tiga kilogram di Kantor Pemprov Sumsel, Senin (22/9).

Ia merincikan, HET elpiji tiga kilogram menjadi Rp14.800 per tabung, yakni harga ex SPBE+PPN Rp11.584,79 yang diusulkan menjadi Rp11.584,79. Lalu, pihaknya pun memperbesar keuntungan agen dari Rp1.165,21 menjadi Rp1.915,21. Selain itu, untuk harga agen ke pangkalan dari Rp12.750 menjadi Rp13.500 dengan margin pangkalan Rp1.050 menjadi Rp1.300.

“Kondisi ini sekaligus pertimbangan kita jika HET elpiji tiga kilogram harus dinaikkan,” imbuhnya.

Besaran kenaikan Rp1.000 ini pun, diakuinya, tidak jauh berbeda dengan kondisi di provinsi tetangga Sumsel. Berdasarkan Surat Ketua DPD II Hiswana Migas tanggal 14 April No.012/DPD/HM/IV/2014 telah mengajukan usulan kenaikan HET elpiji tiga kilogram dengan pertimbangan kenaikan harga BBM dan UMP yang mengakibatkan naiknya biaya operasional agen dan pangkalan.

“Tentunya, kenaikan ini juga berlaku di pangkalan disesuaikan juga dengan pengeluaran dan kebutuhan bagi setiap agen dan pangkalan. Apalagi mengingat kenaikan suku cadang kendaraan dan lainnya yang digunakan dalam mengangkut elpiji yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda Sumsel, Ruslan Bahri menegaskan, keputusan untuk menetapkan HET tergantung dari jarak agen utama, aspek kondisi daerah dan kondisi provinsi tetangga.

“Jangan sampai kenaikan ini mencekik rakyat lantaran terbebani dengan sejumlah kebutuhan lain. Harus optimal dan disesuaikan dengan kondisi kita,” disampaikannya.

Tegasnya, pertimbangan untuk melihat HET di provinsi tetangga juga memegang peranan penting. Terutama daerah Jambi, Riau, Lampung. Sebab, jika dibiarkan, potensi pembelian elpiji dalam jumlah banyak dari satu daerah ke daerah lain bisa saja terjadi. Ini berdampak kerugian yang besar pada daerah asal gas tersebut.

“Kalau terlalu murah, bisa saja tabungnya hilang,” tegas dia.

Data kenaikah HET Januari 2014 lalu, Bangka Belitung Rp15.000 per tabung, Lampung Rp14.960, Jambi Rp15.000, dan Bengkulu Rp14.500. Hanya saja sampai saat ini Sumsel hanya memiliki HET Rp13.800 sehingga ditakutkan akan terjadi mutasi pembelian tabung elpiji di Sumsel.

“Setelah ini, kita instruksikan kepada daerah untuk membahas mengenai HET ini. Meski terjadi perbedaan HET di daerah perkotaan dan pedalaman, karena adanya jarak dan kebutuhan angkutan untuk menuju lokasi. Mungkin inilah HET berbeda dan lebih tinggi ke daerah-daerah pedalaman, karena butuh angkutan, apalagi yang harus melewati jalur air,” dituturkannya.

Kepala Biro (Karo) Karo Ekonomi dan Pembangunan Setda Sumsel, Ahmad Muchlis mengatakan, kenaikan harga elpiji sebesar Rp1000 tersebut masih dalam tahap kewajaran mengingat HET Sumsel tidak berbeda dengan daerah lain. Catatan yang dimiliki pihaknya, HET di Palembang Rp14.000 per tabung, Banyuasin belum ada gejolak kenaikan yakni masih Rp14.000-Rp15.000, lalu di Ogan Ilir HET Rp14.000 namun khusus Muara Kuang (OI) sudah Rp17.000 karena kendala jarak yang begitu jauh.

Dalam rapat tersebut, sejumlah perwakilan kabupaten/kota di Sumsel juga menilai kenaikan tersebut masih wajar. Kasi Penyaluran Disperindag Kota Palembang, Yulida mengaku jika hingga saat ini kondisi distribusi tabung gas ini masih lancar.

“Jika naiknya sebesar itu, bisa saja menembus angka Rp15.000 sampai Rp15.500 pertabungnya,” imbuhnya.

Bagian Perekonomian Kabupaten Banyuasin, Syarifuddin berharap pemerintah memperhatikan masyarakat yang berada di daerah pedalaman, seperti Air Sugihan, Saling serta Muara Padang. Dengan akses transportasi yang cukup merepotkan, pihaknya memprediksi harga elpiji ini bisa menyentuh Rp20.000 pertabungnya.

“Secara umum, kita menerima dan menilai jika kenaikan tersebut masih wajar,” tutup dia.

 

TEKS   : IMAM MAHFUZ

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster