Produksi Padi Kabupaten OKI Merosot 32000 Ton /Tahun

 192 total views,  2 views today

Ilustrasi Beberapa Petani Sedang Memanen Padi Didaerah Jalur 13. Ds Timbul Jaya. Muara Sugihan Banyuasin | Foto : Bagus Park

Ilustrasi Beberapa Petani Sedang Memanen Padi  | Foto : Bagus Park

KAYUAGUNG – Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengakui telah terjadi penurunan yang cukup drastis terhadap produksi padi di daerah ini selama 4 tahun berturut sejak tahun 2010 lalu. Penyebabnya, ada lahan persawahan yang kini tidak lagi bisa ditanami padi.

Dikatakan Kepala Dinas Pertanian OKI Syarifudin SP MSi belum lama ini, di Kabupaten OKI ada lahan persawahan yakni lahan rawa lebak reguler seluas lebih kurang 7 998 hektar hektar untuk sementara waktu tidak lagi bisa ditanami padi.

Rincinya, rawa lebak reguler tersebut berada di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung seluas 2 550 hektar, Kecamatan Sirah Pulau Padang seluas 2 490 hektar, Kecamatan Jejawi seluas 813 hektar dan Kecamatan Pampangan seluas 2 145 hektar.

“Kondisi lahan tersebut selama 4 tahun terakhir tidak kering dan saat ini sudah ditumbuhi rumput yang sangat tebal. Kondisi ini menyebabkan menurunnya produksi padi di OKI selama 4 tahun terakhir sebanyak kurang lebih 32 000 ton GPK (gabah kering panen) pertahun,”ucap dia.

Sambung Syarifudin, kenyataan tersebut sangat berpengaruh terhadap sosial ekonomi para petani. Untuk mengatasi permasalahan, Dinas Pertanian OKI telah berkoordinasi dengan dinas instansi lain yang terkait serta pihak perguruan tinggi khususnya yang ada di Sumsel.

Katanya, untuk tahun anggaran 2015 melalui APBD OKI, pihaknya telah mengusulkan kegiatan optimalisasi pemanfaatan lahan seluas 3 000 hektar. Usulan ini menjadi kabar baik bagi pihaknya karena Bupati OKI sudah menyetujuinya.

Berapa besaran anggarannya? Dikatakannya, sudah menganggarkan dana senilai Rp 6 miliar untuk pembersihan lahan dari rumput setiduk untuk lahan 3 000 hektar yang tersebar di 3 kecamatan yakni Kecamatan Kota Kayuagung, Sirah Pulau Padang dan Jejawi.

“Insya Allah akhir bulan Januari 2015 nanti sudah mulai pengerjaan dan kita hanya tinggal membahas masalah pembuangan hasil pembersihan rumput setiduk tersebut harus dibuang kemana, dan permasalahan ini sedang kami bahas,”ungkapnya.

“Kami juga mengharapkan bantuan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pangan RI dan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikutura Sumsel untuk bersama-sama mencari solusi mengatasi permasalahan ini,”pinta Syarifudin.

Sebelumnya, A Rasyid selaku Sekretaris Desa Awal Terusan Kecamatan Sirah Pulau Padang menerangkan, sudah 4-5 tahun terakhir sejak masuknya sejumlah perusahaan besar perkebunan kelapa sawit di wilayah kecamatannya dan sekitarnya, petani desanya tidak pernah tanam padi, apalagi memanen padi.

“Dari 800 hektar sawah yang ada, hanya sekitar 300 hektar sawah yang tertanam padi, yakni di lahan Lematang Dangkal. Namun lahan yang berada di pematang dalam tidak pernah panen karena debit air tidak pernah surut akibat sejumlah sungai dibendung oleh perusahaan perkebunan,” ulasnya.

 

TEKS  : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster