Petani di Muara Enim Belum Berani Menanam Padi

 298 total views,  2 views today

Lahan persawan di daerah Lempuing yang kini beralih fungsi menjadi perkebunan karet

Ilustras Persawahan | Dok KS

MUARAENIM – Petani di Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muaraenim, sampai saat ini pasca panen belum juga berani menanam padi di sawah-sawah milik mereka. Itu disebabkan, kekuatiran mereka akan persedian air.

Sulaiman (45), salah satu petani di Tanjung Agung yang dibincangi Kabar Sumatera, Jumat (19/9) mengaku, ia masih kuatir dengan persedian air untuk mengaliri sawah miliknya. Sebab kata Sulaiman, saat ini memasuki puncak musim kemarau.

Sehingga ketersediaan air di irigasi, sangat minim. “Kita belum berani menanam, masih menunggu waktu yang tepat untuk mulai menanam. Kita hanya memanfaatkan masa kemarau ini, untuk mengeringkan gabah sebelum digiling menjadi beras. Tetapi jika air irigasi lancar, kita mulai kembali beraktivitas di sawah,” jelas Sulaiman.

Sulaiman menyebut, mayoritas sawah di Kecamatan Tanjung Agung adalah sawah tadah hujan. Sehingga untuk mengaliri sawah, sangat bergantung dengan pasokan air dari irigasi. Namun saat ini, ketersediaan air di irigasi sangat minim.

Sehingga jika dipaksakan untuk menanam maka sebut Sulaiman, ia mengkuatirkan sawahnya tidak mendapatkan pasokan air. “Sampai saat ini, sawah milik saya belum digarap sama sekali.Saya belum berpikir untuk beralih ke tanaman lainnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Sahlan (52), petani lainnya. Ia mengaku, hasil panennya tahun ini cukup memuaskan. Untuk mulai kembali menggarap sawahnya menurut Sahlan, ia masih belum berani. “Bagaimana mau menanam, kalau pasokan air saja minim. Kalau nekat, takutnya nanti malah kekeringan. Dibandingkan rugi, lebih baik nanti dulu mulai menanam,” ujarnya.

Ia berharap kondisi ini mendapatkan perhatian Pemkab Muaraenim. Kedepannya menurut dia, pemkab diharapkan bisa membangun saluran irigasi untuk memasok air dari Sungai Enim ke sawah-sawah warga.

Sehingga walau pun musim kemarau, petani bisa tetap menggarap sawahnya. “Pasokan air, memang selalu menjadi kendala bagi kami. Selama ini, kami sangat bergantung dengan musim jika ingin menggarap sawah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BP4K Tanjung Agung, Maman Suherman mengatakan petani masih enggan memulai bertanam padi disebabkan oleh minimnya pasokan air ke sawah. Para petani baru akan memulai bertanam, jika irigasi ke sawah mulai lancar. “Musim kemarau ini memang susah air, petani memilih menunda sampai ada air mengalir ke sawah mereka. Saat ini petani masih menunggu,” tukasnya.

 

TEKS          : SISWANTO

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster