Mengenang Jasa Telepon Koin

 475 total views,  2 views today

Ilustrasi Telepon Umum | Foto : Bagus Kurniawan

Ilustrasi Telepon Umum | Foto : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Masih ingatkah telepon umum? Fasilitas umum ini banyak berjasa dan pernah menjadi bagian dari kehidupan rakyat negeri ini. Namun, kala teknologi komunikasi maju pesat, telepon umum terbengkalai dan kini nyaris sekarat.

Di masa jayanya, telepon umum sangat berjasa bagi banyak orang. Orang-orang harus antre hanya untuk dapat menggunakan telepon umum. Semenjak pesatnya perkembangan telepon genggam, nasib telepon umum sangat merana, kian ditelan perubahan zaman.

Data Litbang Kabar Sumatera, telepon umum koin mulai diperkenalkan pada 1981. Pada kurun masa 1983-1988 tercatat terpasang sebanyak 5.724 unit. Telepon umum kartu mulai digunakan pada 1988. Mulai terpasang sebanyak 95 unit, jumlahnya meningkat pesat menjadi 7.835 unit pada 1993.

Keberadaan telepon umum benar-benar berguna bagi khalayak, termasuk semua mahasiswa. Adalah Lidia Nadia, misalnya, termasuk salah satu pengguna setia telepon umum itu.

Warga berdarah Palembang ini menceritakan, ia biasa pergi ke telepon umum beramai-ramai dengan teman satu kosnya. Ia mencari tempat telepon umum yang sepi, tapi banyak teleponnya supaya tidak perlu antre.

”Kami bertiga masing-masing bisa ngobrol 20-30 menit tidak diburu-buru orang di belakangnya,” tuturnya.

Juga telepon umum memang sahabat kalangan mahasiswa. Dulunya, Ujang seringkali memakai telepon umum, apalagi saat ini menjalani perkuliahan.

”Waktu itu juga ada telepon umumnya yang ruangannya dingin lagi,” disebutkannya.

Kendati banyak jasanya dan relatif murah, tapi ada-ada saja pengguna yang nakal. Telepon umum juga melahirkan ”kenakalan” yang berbasis pengiritan. Ada yang melubangi koin, lalu memasangkan benang pada lubang tersebut.

“Dengan cara itu, koin bisa dipakai berulang-ulang. Ada lagi akal-akalan dengan cara mengisolasi lubang di kartu telepon sehingga pulsa yang terbaca di telepon masih penuh,” kata Ujang.

Cerita tentang nasib telephon koin juga disampaikan Firdaus. Pemilik warung manisan di kawasan Perumnas, Palembang ini ternyata memiliki pengalamannya dengan telepon umum sekitar 15 tahun lalu.

“Tapi, setelah sekian lama kok enggak ketahuan juga, saya jadi tertarik mencoba. Apalagi saya waktu itu pacaran jarak jauh,” tuturnya.

Meski kini telepon umum langka dan sulit ditemui, masyarakat menganggap keberadaan telepon umum tetap penting dan relevan. Di saat darurat, ponsel kehabisan baterai atau pulsa dan harus menghubungi seseorang, telepon umum dapat diandalkan menjadi penyelamat.

”Saya pernah kehabisan baterai dan harus kasih kabar orang rumah. Cari-cari telepon umum enggak ada yang bisa. Kalau seperti itu, kerasa banget telepon umum masih sangat dibutuhkan. Harusnya masih tetap ada, ya,” ungkapnya.

Cerita mengenang jasa telephon umum dikemukakan Suciwati (36), warga Palembang. Dia ingat betul saat dirinya selalu menelepon Ibunya setiap hendak bepergian. Sebelum ada telepon seluler, setiap tiba di tempat tujuan, yang dilakukan adalah mencari telepon umum.

”Bagi kami, komunikasi itu sangat penting,” cetus Suciwati.

 

TEKS:LITBANG KS





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster