Massa HMI Cabang Palembang Bentrok dengan Pol PP

22 total views, 3 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

PALEMBANG – Puluhan massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palembang, Jumat (19/9), terlibat bentrok dengan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP). Bentrokan tersebut terjadi, saat puluhan mahasiswa melakukan aksi di Pemprov Sumsel.

Pantauan Kabar Sumatera, aksi tersebut awalnya berjalan damai. Namun tiba-tiba terjadi baku hantam antara anggota Sat Pol PP yang mengamankan aksi tersebut, dengan massa HMI.

Akibatnya sejumlah anggota Sat Pol PP, mengalami luka dibagian kepala karena terkena bambu yang dibawa oleh massa HMI. Sementara HMI mengaku, sebagian anggotanya mendapat “hadiah” bogem mentah oleh anggota Sat Pol PP.

Namun untunglah, bentrokan tersebut tak berlangsung lama karena berhasil dilerai oleh puluhan polisi dari Kepolisian Resort Kota (Polresta) Palembang, yang ikut berjaga-jaga mengamankan aksi tersebut.

Usai bentrokan tersebut, puluhan massa HMI ini tetap melanjutkan aksi mereka. Dalam aksinya, mereka mempertanyakan manfaat sejumlah event baik berskala nasional maupun internasional yang diselenggarakan di Sumsel. Misalnya, SEA Games, Islamic Solidarity Games (ISG), Asean University Games, dan MTQ internasional sampai dengan Asian Games 2018 mendatang.

HMI menuding, event-event itu tak ada manfaat. Event-event itu justru menurut mereka, hanya menghabiskan anggaran saja dan tak ada manfaatnya bagi masyarakat Sumsel. “Usai Sea Games dan ISG misalnya, dua event itu meninggalkan sisa hutang sebesar Rp 324, 9 miliar dan harus dibayar dari dana APBD Sumsel,” kata Adi Prawoto, koordinator aksi.

“Tak hanya itu, baik sebelum dan pelaksanaan event-event itu juga menimbulkan berbagai kontroversi. Misalnya saat pembebasan lahan untuk pembangunan venue-venue di Jakabaring Sport City (JSC). Sejumlah aset daerah harus di BOT (Built Operate Transfer) ke pihak swasta, yang bahkan sampai saat ini tidak jelas profit sharingnya,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah aset daerah seperti lapangan parkir Bumi Sriwijaya dan GOR Sriwijaya, sudah beralih fungsi. Kawasan yang dulunya areal publik sebut Adi, kini menjadi kawasan bisnis dan tidak memiliki dampak langsung kepada masyarakat.

“Bahkan yang paling miris, event-event berstandar internasional tersebut menyeret berbagai elit politik menjadi tersangka dalam kasus hukum. Sungguh miris, apabila hal ini terus menerus terulang. Event yang seharusnya memberikan manfaat besar kepada masyarakat, malah menjadi ladang korupsi para elit politik,” tudingnya.

Menanggapi ini, Kepala Biro (Karo) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Sumsel, Richard Cahyadi menyebut, Sumsel sudah belajar dalam pelaksanaan berbagai event-event sebelumnya.

“Kami terima masukannya, namun pelaksanaan MTQ internasional sudah dikaji sehingga apa yang terjadi di Sea Games dan ISG, tak akan terulang di MTQ internasional. Banyaknya event-event yang digelar di Sumsel justru membuat Sumsel punya nilai tawar kepada investor, sehingga membuat mereka mau menanamkan investasinya di Sumsel. Ini tentu, akan berdampak terhadap kesejahteraan rakyat,” tukasnya.

 

TEKS          : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com