“Pemimpin Harus Punya Hati Bersih”

 331 total views,  2 views today

Mr. Hojjat Ebrahimian, Ph.D (tengah) memberi penjelasan kepada mahasiswa dalam seminar Study Waliyatul Faqih Konsep dan pemikiran Imam Khomeini di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah, palembang, Selasa (16/9).  Foto : Bagus Kurniawan/KS

Mr. Hojjat Ebrahimian, Ph.D (tengah) memberi penjelasan kepada mahasiswa dalam seminar Study Waliyatul Faqih Konsep dan pemikiran Imam Khomeini di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah, palembang, Selasa (16/9). Foto : Bagus Kurniawan/KS

PALEMBANG – Tak sedikit umat Islam atau non-Islam, melihat sosok Muhammad SAW hanya sebagai pemimpin keagamaan, yang mengajarkan nilai-nilai yang terkandung pada ajarannya. Padahal, kehidupan beliau sungguh dan telah memberi keteladanan dan kepemimpinan yang utuh. Baik dimensi sosial, pendidikan, keluarga, dakwah, militer, hukum, ekonomi, dan juga politik-pemerintahan. Oleh sebab itu, pemimpin sekarang ini harus memiliki hati yang bersih serta harus dapat menjadi tauladan bagi warganya.

Hal itu diungkapkan Hojjat Ebrahimian in Public Law, Cultural Conselor Iran saat mengisi seminar di Fakultas Adab, belum lama ini. Ia mengatakan, krisis kepemimpinan yang bersumber dari krisis ketauladanan itu, sungguh akan dan telah mengakibatkan multi-krisis yang berkepanjangan. Dia mencontohkan, seperti krisis ekonomi, politik yang sehat, pendidikan, pelayanan sosial, sistem hukum dan lain-lain. Hal tersebut tak lebih dikarenakan absennya pemimpin yang visioner, kompeten, dan memiliki integritas tinggi, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

“Namun saat ini juga kita dapat mencontoh kepemimpinan Imam Khomeini sebagai seorang wali atau pemimpin Iran yang menjadi contoh bagaimana pemimpin yang mampu merubah pemerintahan yang bersih dari korupsi dan bersih dari perzinaan,” ungkapnya.

Menurutnya sikap kepemimpinan Imam Khomeini ini layak dicontoh oleh pemimpin-pemimpin saat ini. Apalagi Imam Khomeini mengatakan, pemimpin mempunyai persyaratan-persyaratan yang sangat ketat. Artinya, dia tidak boleh korup, harus adil, jujur, beragama dan menguasai ilmu-ilmu pengetahuan luas. “Sebenarnya, mengemban tugas kepemimpinan itu tidak semudah dibayangkan banyak orang, dalam arti kata harus bersih,” ujarnya.

Apalagi pada masa kepemimpinan  Imam Khomeini, dia memberikan contoh kepada pemimpin-pemimpin saat ini bagaimana dengan konsistensi menegakkan hukum, pemberantasan Korupsi (KKN). Memang tidak seluruh yang diperjuangkan dan diidealkan dalam hal kenegaraan oleh Imam Khomeini bisa cocok di Indonesia karena budayanya berbeda, namun ada hal yang universal bisa kita ambil dari Beliau seperti keteladanan, kesederhanaan, akhlaknya, penegakkan hokum, mengutamakan kepentingan orang lain dulu daripada kepentingan dirinya sendiri.
TEKS  : AMINUDDIN





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster