“Nafas Mereka (Masih) 300 Tahun Lagi…”

 329 total views,  2 views today

Iluistrasi Gambar | Dok KS

Iluistrasi Gambar | Dok KS

SEPARUH HIDUPNYA TERTAMBAT PADA SONGKET. TAK PUAS JADI KARYAWAN BIASA, DIA PUN MENJAJAL BISNIS SONGKET. TIADA HENTINYA IA KAWIN-MENGAWINKAN RAJUTAN BENANG MENJADI PRODUK SONGKET BERKELAS.

Bunga mawar muda berseri itu dipeluk udara hangat di musim kemarau, Pekan ke-2 September 2014 di sudut pekarangan rumah. Sepeda motor tua Yamaha 1970-an biru metalik itu masih diparkir di teras rumah. Dulu, sang pemilik rumah, acapkali memakainya mondar-mandir mengantar kain songket hasil pesanan. Pada 1990-an, Hasanudin warga yang bermukim di Jalan Kirangga, Wirosentika, Lorong Amiddin, Nomor 504, RT 12, RW 04, Kelurahan 30 Ilir, itu punya beberapa karyawan.

“Usia sebelas tahun saya diajarkan orangtua untuk embek (ambil) upah kerja dengan orang lain,” Hasan coba membuka kisah

Tepat di kawasan Jalan Kirangga, Kelurahan 30 Ilir hawa suam pun makin terasa. Namun, hembusan angin panas sesekali menggigit kulit. Tak banyak yang tahu rumah Hasan ini memproduksi songket berdiri sejak 1982 silam. Dulunya kediaman pria biasa dipanggil Hasan ini dijadikan warung empek-empek khas Palembang, setelah lima tahun berjalan, ia pun beralih haluan.

Kali ini, Hasan pun tak ingin merunduk. Walau krisis ekonomi telah menggedor jagat. Pasar utama kerajinan songket di Timur sedang llunglai lesu. Tapi, empunya Toko Harapan Baru ini tak akan mengencangkan ikat pinggang. Dia justru makin giat melebarkan sayap, berpromosi dan mengikuti pameran di sana-sini.

Memajang barang ciptaan di sudut-sudut pameran yang berkelas wahid tentunya menuntut ongkos mahal. Biaya transportasi saja bisa berkisar Rp 50 juta. Ditambah pengadaan barang.

“Sekali pameran minimal habis sekitar Rp 100 juta,” cetusnya.

Hasan pun terus melaju. Omset usaha songket memang pasang surut. Jumlah karyawannya tak lebih dari puluhan orang. Bengkel kerjanya persis berada di rumahnya Jalan Kirangga Wirosentika, Lorong Amiddin, Nomor 504, Kelurahan 30 Ilir.

Dua, tiga tahun ini, krisis memang sedikit meredam keriuhan di kota ini. Namun Hasan, lebih memilih menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Ketika bisnis songket yang lain sibuk memangkas anggaran promosi, Hasan agresif menjemput pasar baru dengan rajin mengikuti pameran.

“Habis-habisan promosi saja belum tentu berhasil, apalagi kalau berpangku tangan,” ucap suami Purnawati itu.

Target Hasan agaknya lumayan ambisius. Beberapa tahun ke depan, Hasan berharap omset bisnisnya menggelembung minimal lima kali lipat. Jumlah desai produk songket yang hampir belasan motif akan digenjok produksinya. Juga ia bertekad membuat label bisnisnya itu dikenal sebagai produk kerajinan kelas premium di dunia. Jelas sebuah pertaruhan berat. Karena, pasar di level ini menuntut kualitas tanpa cacat. Dan, biasanya perajin songket lokal memilih bermain di level produk massal, murah-meriah.

“Ya, tapi saya punya nyali untuk bermain di fine art,” ujarnya.

Upaya Hasan menggali potensi harta karun di tanah kelahirannya makin menjadi-jadi. Bisnis kain songket yang dilakoninya ini memerlukan kualitas yang terjamin. Ia coba tampilkan trend benang emas dan benang sutra yang diproduksi di luar negeri.

“Inilah yang jadi keunggulan kami,” cetusnya, setengah berpromosi.

Kecintaan Hasan pada kain songket tak pernah mati. Jujur, kata Hasan, proses pembuatan kain songket tersebut tak jauh berbeda dengan milik perajin lainnya. Pola pengerjaannya 100 persen mengandalkan tenaga manusia yang ditopang alat-alat manual. Langkah kerja pun, misalnya, bermula dari penenunan kain sampai tahap pemberian motif dikerjakan di rumah-rumah tetangga. Dia siap sedia menerima produk tenunan yang diproduksi di Gunung Batu, Komering, dan daerah lainnya.

“Ya, begitulah kalau terlanjur cinta dengan kain songket,” cetus lelaki kelahiran Palembang 15 Maret 1953 ini berkata, adapun keunggulan songket yang ia pasarkan adalah motif berantai, lepus, brakan, bunga Cina, dan naga besaung.

Belakangan, si Hasanudin pun mahal senyum. Bisnis kain songketnya, yang mulai menggeliat setelah amblas karena minim modal. Tiba-tiba harus menghadapi pukulan lain, harga bahan baku naik lebih dari separuhnya.

“Akhirnya, empat tahun lalu, saya coba cari-cari infomasi pinjaman kredit di Bank Sumsel Babel,” cetusnya yang berujung gerakan pun bersambut. Tak berlama-lama, Hasan ditawari pilihan kredit. Seperti modal kerja usaha.

“Saya lupa berapa nominal pastinya. Namun, yang terpenting kami sangat terbantu dengan adanya pinjaman kredit itu. Hanya Bank Sumsel Babel yang berani nolong kami,” tuturnya.

Memasuki 2014, sambung Hasan, Bank Sumsel Babel menginjak usia ke-57, selain produknya beragam, layanan pun semakin bagus. Bank Sumsel Babel juga sudah memiliki unit syariah untuk melengkapi layanan

“Harapan saya adalah Bank Sumsel Babel ini tetap eksis, dan bank ini dapat dikelola dengan sangat baik sesuai visi dan misi yang usung,” diungkapkannya.

Lain Hasan lain pula cerita yang disampaikan perempuan negeri Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Namanya Bong Djiu Lie. Ia asli berdarah Jebus, Bangka Barat, Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai pelaku usaha mikro, ia cukup lama melayani permintaan produk kerajinan tangan di Pasar Parit, Jebus. Hasil olah tangannya pun merambah ke sejumlah daerah. Cukup lama wanita yang biasa disapa Bong ini membesarkan usahanya. Pernah satu hari ia bertanya dalam hati.

“Apa mungkin aku bisa memertahankan usaha ini?,” ia sepertinya ragu.

Tak hendak berjalan surut, Bong natural pun kembali mekar. Sekitar tahun 2010, ia coba menabung di Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Cabang Pembantu Jebus, Belitung, Bangka Barat. Tahun pertama, dua, dan selanjutnya saldo rekening Bong kian membengkak.

Untuk memastikan bisnis kecil-kecilan Bong berjalan sesuai selera pasar, ia acap kali berkonsultasi dengan orang-orang Bank Sumsel Babel. Walhasil, di luar saldo tabungan, Bong pun berupaya memerluas usaha dengan bantuan pinjaman kredit lunak dari Bank Sumsel Babel.

“Kalau ditotal pinjaman itu ada sekitar puluhan juta. Prosesnya pun tak berbelit-belit. Itu yang aku alami selama gabung dengan Bank Sumsel Babel,” cetusnya.

Di usia yang ke-63, Bong tak pernah menyerah untuk membangkitkan jejak-jejak usahanya. Imbasnya, Bong pun terpilih sebagai pemenang Super Grand Prize, persisnya 7 Januari 2012 lalu. Kali ini, ia memeroleh kesempatan memilih satu di antara berbagai pilihan, yaitu mobil Toyata Fortuner, Pajero Sport, Toyata Camri, Emas Batangan, atau uang ratusan juta.

“Uang ratusan juta itu yang aku pilih. Ya, pastinya senang sekali. Seumur hidup nabung, tak pernah dapat hadiah. Dapat payung saja aku tak pernah. Sungguh aku bahagia bisa menjadi nasabah dan mitra Bank Sumsel Babel,” spontan Bong berkisah.

Kini, Bong adalah contoh sebuah desain yang diselamatkan Bank Sumsel Babel. Tentu saja tanpa jitakan.

“Ya, sampai kapan pun jangan pernah menyerah,” pesan Bong setengah bijak. (*)

 

Saya Pilih Tersebab Berbeda

 

RUTE MENJARING NASABAH KIAN BERLIKU BAGAI GANG-GANG DI TENGAH KOTA. SEBERAPA BESAR FAEDAH PRODUK YANG DITAWARKAN BANK PADA NASABAH?

Palembang- FX Hadi Tjokrosusilo adalah seorang Konsultan Marketing terkemuka yang memulai karirnya sebagai seorang sales genset. Baginya kejujuran adalah salahsatu jalan untuk membuat pelanggan bisa terikat. Ia memisalkan, Aa Gym seorang yang jujur. Ia dalam berniaga, yang terpenting adalah kejujuran (trust) sebab sifatnya long term and repeat

“Itu maksudnya, seorang konsumen datang dan mendapat layanan memuaskan karena produk yang ia dapatkan sesuai yang dipromosikan oleh sales. Sehingga kepuasaan itu dapat mendatangkan ia untuk kembali lagi membeli,” kata Hadi.

Apakah sehabis itu, si pembeli akan berhenti? Tentunya tidak. Pembeli itu akan berbicara merekomendasikan kepada sahabat-sahabatnya. Nah, ini artinya ada seorang sales yang ngomong tanpa berbayar.

Produk yang bagus dan layanan mutlak dibutuhkan dan harus dipertahankan oleh perusahaan termasuk Bank Sumsel Babel. Banyak perusahaan yang sekarang ini tak ada masalah, namun beberapa tahun ke depan bisa mati karena manajemen perusahaan yang tidak mau berubah mengikuti zaman.

“Apa jadinya? Ya, akhirnya banyak perusahaan yang datang dari luar dengan skala yang lebih besar, harga yang murah, dan teknologi yang lebih bagus,” tuturnya.

Philip Kottler si pakar dunia mengenal marketing pun, tidak akan bisa membuat produk yang buruk berhasil di pasaran. Kalau berhasil, itu namanya penipuan.

“Sama seperi bisnis lainnya, perbankan juga butuh yang namanya pemasaran,” Dr Cyrillius Harinowo, yang pernah menjabat Head STIE Perbanas, dalam satu kesempatan.

Kata Harinowo, perkembangan produk di Bank Sumsel Babel memerlihatkan kemajuan yang cukup berarti. Untuk memertahankan itu, maka perlu kekuatan-kekuatan.

“Justru saya lihat Bank Sumsel Babel memiliki kekuatan aktivitas itu ada di daerah-daerah. Sesuai mottonya Mitra Anda Membangun Daerah. Selain itu juga harus ada pendekatan langsung ke nasabahnya,” ungkapnya.

Daya saing sebuah produk yang disajikan oleh bank-bank pastinya ada di tubuh perbankan, baik swasta maupun nasional. Sebab itu, pesan Harinowo, “Yang harus kita lakukan adalah bagaimana supaya produk yang kita sajikan diterima banyak orang. Itu yang harus diprioritaskan,” Harinowo menyarankan.

Ujar Hadi, bahwa kinerja bank ini berbanding lurus dengan implementasi, bukan sekadar wacana atau rencana di atas kertas. Misalnya, di mana semua bank mengaku DRM, perusahaan yang customer sentric orfanization, tapi pada implementasinya sologan itu tiada.

“Slogan-slogan itu bagus, tapi apakah ada perbedaan yang nyata setiap harinya, atau benar-benar lebih baik?,” Hadi balik bertanya.

Hal lain yang menjadi sorotan Profesor Dr Bernadette Robiani MSc Dosen Pascasarjana Universitas Sriwijaya adalah perlu adanya peningkatkan dayabeli masyarakat serta membuka kran seluas-luasnya bagi peluang UMKM. Konsep hilirasi pun sangat dibutuhkan bagi pelaku UMKM.

“Jadi, sekali lagi harus ada konsep hilirisasi. Di sini, perbankan jelas sangat diuntungkan dan nantinya peluang bagi Bank Sumsel Babel. Bank ini leluasa untuk memainkan perannya,” ujarnya.

Sekadar catatan, beberapa tahun ini investasi di Sumsel bertumbuh cukup pesat. Peluang investasi terus dikelola dan dikembangkan, tak hanya regional namun dari luar. Sebuah pertanda provinsi ini bersiap membuka diri terhadap dunia investasi dari pelbagai pihak. Juga sangat potensial bagi dunia investasi jangka panjang yang sifatnya saling menguntungkan.

“Terkait investasi ini, tidak gampang ngajak wong untuk jadi nasabah. Jambi ada bank, Medang punya bank, dan Padang ada bank. Untuk itu, Bank Sumsel Babel berarti harus komplit dengan bank lainnya. Bagaimana caranya ya saya nggak lagi nabung di BNI. Lebih baik di Bank Sumsel Babel saja. Ini yang mestinya terus ditumbuhkan,” Bernadette menyebutkan.

Peta persaingan di industri perbankan semakin menantang. Karena itu, Bernadette mengatakan, guna memertahankan nasabah agar loyal diperlukan aktivitas yang cukup tinggi. Selain itu, bank pun lebih berani melayani nasabahnya dengan maksimal.

“Bayangin di sini, modal kita bantu, tapi kita juga harus sanggup menembus pasar. Begitu kan?. Kita buka akses sampai ke Singapura. Logikanya ada produksi lalu dijual dan balik modal. Itu yang diputar-putar. Kalau saya si bank, kalau dia saya kasih modal, tapi nggak bisa dijual, pastinya saya nggak mau. Makanya, Bank Sumsel Babel harus memahami itu,” sambungnya.

Spirit kerja keras dan perubahan yang diwujudkan bank harus terus dijaga agar sektor UMKM dapat bertahan. Kendati kini berada di zona tahun politik, bank pun hendaknya dapat mewujudkan kesinambungan—sebagai penyalur kredit sekaligus memikirkan informasi pasar ke nasabah UMKM.

“Jika kita bicara dalam tahun politik, maka kondisinya akan berbeda. Kalau itu konteksnya, tentu yang ada adalah usaha sablon atau kaos yang jangkanya lima tahun sekali. Masalah klasiknya itu modal. Nah, saya tidak mau ke masalah pasar itu, yang saya catat banyak usaha kok yang muncul, tapi banyak pula yang mati. Kenapa nggak bisa berksinambungan? Jawabannya UMKM tak hanya perlu bantuan, melainkan juga perlu butuh kepastian pasar,” ucapnya.

Di mata Bernadette, Bank Sumsel Babel sekarang ini berhasil melakukan perubahan yang kuat. Namun begitu, terpenting adalah bank ini harus mampu memertahankan kinerja yang dicapai.

“Saya berharap Bank Sumsel Babel tetaplah menjadi bank yang bisa melayani segala bidang potensial dan menyerap tenaga kerja tinggi. Juga, saya ingin bank ini one stop service yang baik. Saya ingin itu, saya ingin memilih bank ini karena layanan yang baik. Di situlah beda Bank Sumsel Babel dengan bank lainnya,” tutup Bernadette.                                      Catatan elok tentang kinerja Bank Sumsel Babel juga disampaikan Arudji Kartawinata. Pencetus Masyarakat Agribisnis Indonesia Sumsel ini berkata, saat ini memang Bank Sumsel Babel seperti bank jumbo yang tumbuh membesar. Namun, begitu ia berharap agar bank ini tetap berpihak terhadap bisnis yang digalang oleh kelompok-kelompok masyarakat kecil. Juga kalangan menengah.

Peraih penghargaan Citra Adhikarsa Pembangunan 2011 ini menambahkan, sederet fakta memerlihatkan bahwa di tengah limbung tak serta merta menghentikan denyut ekonomi usaha industri kecil. Selaras dengan itu pula, Bank Sumsel Babel perlu melibatkan dan memerdekayan semua elemen masyarakat agar terwujud simpul yang kuat ada di provinsi ini.

“Secara pribadi saya lihat perbankan di sini masih belum total untuk proaktif pada kemajuan sektor pertanian dalam artian luas,” katanya.

Katakanlah dulunya pernah ada gerakan untuk mitra binaan, tetapi agaknya masih perlu dipacu lagi. Harusnya, Bank Sumsel Babel dapat menangkap celah itu, sebab bank ini memiliki jaringan di seluruh daerah khususnya Sumsel dan Bangka Belitung.

“Sektor usaha kecil ini harus serius dibidik Bank Sumsel Babel. Petani itu sangat-sangat nurutlah. Contohnya, tahun 2001, itu ada yang namanya mitra binaan Bank Sumsel Babel cuma kecil, namun dia setoran tak pernah macet. Intinya harus hidupkan lagi gerakan-gerakan kemitraan guna merangkul sektor mikro itu,” jelasnya. (*)

 

Dermaga Mikro di Keliling Kita

 

TAK SEDIKIT BAYANG-BAYANG KRISIS MENYURUTKAN RITME SEKTOR USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM). BANYAK SI MIKRO YANG SALING BERSILANG LAYAR DI ANTARA KITA. PEMENANGNYA? SELERA PASAR ADALAH PENENTU UTAMA.

 

PalembangMESTINYA tahun 2014 ini adalah saat yang paling dinanti-nantikan para pelaku UMKM di Sumatera Selatan. Walau begitu, kerepotan sektor usaha ‘mini’ ini agaknya juga tak pernah habis-habisnya. Profesor Dr Bernadette Robiani, Dosen Pascasarjana Universitas Sriwijaya memaparkan bagaimana seputaran pandangnya tentang trend di lumbung UMKM terkini.

“Catatan saya, investasi di Sumsel ini, trendnya sedang beranjak naik. Jadi begini, kan kita lihat pertumbuhan ekonomi bisa dari sektoral atau olahan. Bila dilihat dari pengeluaran akan ada di konsumsi rumah tangga, berikutnya investasi. Kalau kita bandingkan dengan triwulan tahun sebelumnya trendnya cukup menaik,” cetus Bernadette Robiani.

Memang tak sedikit para pelaku UMKM yang disenggol perlbagai aroma krisis. Namun, masih banyak pula UMKM yang sungguh-sungguh menerapkan berbagai jurus. Krisis ‘menggonggong’ pun bahkan tak lantas membuat sebagian pelaku dunia usaha kendur. Pada 2014 akan ada kenaikan konsumsi usaha rumah tangga. Selanjutnya investasi UMKM akan bertumbuh dengan sendirinya.

“Saya pernah ngobrol dengan pelaku UMKM, yang poin utamanya adalah terkait dengan persoalan kredit. Belajar pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya, banyak sekali pelaku UMKM yang diterjang masalah,” Bernadette menyampaikan.

Alhasil, tantangan UMKM pun sungguh kompleks. Sektor-sektor unggulan menjadi incaran. Untuk itu, Bernadette memiliki keyakinan efek domino UMKM akan mendorong bertumbuhnya sektor lainnya. Sehingga investasi sektor ini akan ikut naik.

“Investasinya sektor apa? Ya, di situ ada perdagangan, hotel dan restoran, dan industri. Pertanian mungkin tidak, karena pertanian ini ototamatis terdorong naik oleh UMKM,” ucapnya.

Ada banyak cara memekarkan UMKM di negeri ini. Di Sumsel, misalnya, dengan adanya kawasan ekonomi di Tanjung Api-api tentu diharapkan bisa memacu pertumbuhan potensi ekonomi. Selain itu di kawasan ini, segala potensi hilir pun harusnya dapat berkembang.

“Mungkin investasi infratruktur di Tanjung Api-api itu sudah dibangun. Tapi, sebagian besar bangunan pabriknya belum. Nah, ini artinya di sana, bukan hanya pabrik saja yang beroperasi, kan di Tanjung Api-api juga ada hilirnya. Jadi, bukanlah industri saja. Pastinya investasi UMKM ini arahnya ke sana,” terangnya.

Bagaimana dinamika kesiapan masyarakat Sumsel menyambut investasi itu? Jawab Bernadette, kepercayaan dan optimisme masyarakat cukup baik. Masalahnya adalah seberapa kuat perbankan melayani mereka.

“Kalau saya lihat, pelaku UMKM siap banget. Di sektor ini, bank kan berprinsip kehati-hatian. Contohnya begini, tiba-tiba ada usaha sablon kaos atau sejenisnya, bank pasti mau layani itu, tetap harus hati-hati. Nah, pertanyaannya apakah bank siapkah?,” kata Bernadette balik bertanya.

Yang paling mengebrak Bernadette ialah banyak investasi yang mengucur ke sektor UMKM tanpa dibarengi dengan pasar yang pasti. Menurutnya, di banyak usaha mikro terkendala sarana dan prasarana. Artinya?

“Dia (pelaku UMKM) bisa bikin usaha, tapi tak pandai memikirkan pasar. Semua orang bisa bikin keripik tempe, tapi belum banyak yang tahu ke mana harus menjualnya,” Bernadette berkata.

Kebijakan soal pasar yang kurang matangpun juga dialami sebagian besar perajin songket. Di sini, pada umumnya si perajin songket berkeluh-kesah menyangkut ke mana produk hendak dipasarkan.

“Produk songket, misalnya. Jika songket asal Palembang masuk ke pasar di Jawa Barat. Orang sana ngomong, kasarlah, haluslah, inilah, dan banyak lagi alasannya. Kebetulan, saya punya saudara perajin songket. Dia bingung memenuhi selera pelanggannya yang ada di luar negeri. Itu harus dia penuhi,” kritik Bernadette

Situasi serupa disampaikan Bernadette. Sekarang ini industri produk rumah knoutdown bahkan tak bisa lagi dipasarkan ke negara Eropa, karena ada aturan bahwa aturan dari WTO jenis kayunya harus yang leggal atau memiliki sertifikat.

“Nah, akibat aturan ini, di Bali pengusaha kerajinan bahan kayu sudah kuatir. Waktu saya berkunjung ke Bali Desember 2012, saya tanya ke perajin pahat di sana. Mereka semua kebingungan, bagaimana memeroleh sertifikat kayu itu,” cetusnya.

Kendati memrihatinkan, lanjut Bernadette, untungnya ada upaya dari pemerintah untuk kerjasama dengan Eropa melalui pendampingan. Namun, pendamping ini jumlahnya sangat sedikit.

“Luar biasa aturan Eropa yang diterapkan di Indonesia. Ini strategi dunia luar. Mungkin mereka anggap negara kita ini zaman purba,” ujarnya.

Bila saja apa yang diinginkan pelaku UMKM dapat terpenuhi, maka Bernadette yakin sektor ini tak lagi melewati jalan berduri. Jadi, UMKM pun dapat berkompetisi secara sehat dan transparan. Dan, yang terpenting, produk UMKM dari hilir bisa mengalir selama-lamanya. (*)

 

TEKS   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster