Ratusan Guru di OKI Protes Hasil Sidang Suherni

 255 total views,  2 views today

Ratusan guru tampak serius mengikuti jalannya sidang Suherni saat jalani persidangan di PN Kayuagung. Foto : Doni Afriansyah

Ratusan guru tampak serius mengikuti jalannya sidang Suherni saat jalani persidangan di PN Kayuagung. Foto : Doni Afriansyah

KAYUAGUNG – Ratusan guru dari organisasi PGRI se-Kabupaten OKI berduyun-duyun mendatangi kantor Pengadilan Negeri Kayuagung, mereka memberikan dukungan terhadap rekan mereka, Saherni (50) guru metemetika SDN 1 Desa Anyar, Kayuagung OKI, yang duduk di kursi pasakitan karena dilaporkan atas kasus dugaan penganiayaan terhadap Eka Ratu Anggraini (10) siswi sekolah tersebut beberapa waktu lalu. Solidaritas para guru itu, dengan membawa spanduk bertuliskan ‘Bebaskan rekan kami dan kami mencari keadilan’ meminta rekan mereka dibebaskan, Senin (15/9).

 

Karena menurut mereka pengaduan atas dugaan penganiayaan tersebut bukanlah unsur kesengajaan, melainkan karena khilaf. Dan tujuannya untuk mendidik sesuai perjanjian para siswa dan guru kalau tidak bisa menjawab maka hukumannya dicubit.

 

Suherni, beberapa kali menggaruk hidungnya sambil mendengarkan berita acara tuntutan terdahap kasus yang menimpanya. Dengan mengenakan pakaian batik guru matematika ini terlihat tak tenang selama pembacaan tututan atas kasusnya. Usai satu jam mendengarkan tuntunan dari Jaksa, diapun sedikit tersenyum lega setelah mendengar tuntunan empat bulan kurungan penjara. Bersama kuasa hukumnya diapun mengajukan keberatas untuk mengajukan pembelaan dengan jarak waktu dua minggu.

 

“Kita akan mengajukan pembelaan,” cetus Suherni.

 

Menurut Jaksa Penuntut Umum, Ibrahim Meidi, SH tersangka dijerat pasal undang-undang perlindungan anak. Namun yang meringankan tersangka karena yang bersangkutan dinilai sopan serta menjawab pertanyaan dengan jujur.

 

Kuasa hukum tersangka, Herman, SH. Pihaknya menyatakan tidak puas dengan tuntutan selama empat bulan itu. Menurutnya pihanya akan mengajukan pembelaan.

 

“Jika perlu kita bebaskan,” ujar Herman.

Pantauan di lokasi sidang, suasana ruang sidang penuh disesaki para guru yang mendukung penuh rekan mereka. Salah seorang guru SDN Telok, Kayuagung Mistiati, di akhir persidangan setelah dibacakan tuntutan empat bulan itu.

“Kami minta rekan kami dibebaskan, kami tidak terima kalau jaksa menyebutkan rekan kami mencubit sebanyak lima kali, melainkan hanya satu kali, dan yang mengeluarkan darah karena anak itu memang kena penyakit cacar, itupun bukan disengaja melainkan kareka terkhilaf, kami selalu berdoa siang malam agar para siswa kami menjadi orang sukses, walaupun diketahui kami guru ini hanya pahlawan tanpa tanda jasa,” ungkapnya dihadapan majelis hakim yang diikuti dengan sorak dan tepuk tangan para guru lainnya.

Adapun dari pemberitaan sebelumnya, Saherni (50) seorang oknum  guru Matematika SDN Desa Anyar Kecamatan Kayuagung terpaksa duduk dikursi pesakitan karena menjadi terdakwa dalam perisdangan yang digelar di  PN Kayuagung, Senin (18/8) lalu.

Sang wali kelas 5 di sekolah tersebut didakwa telah melakukan penganiayaan terhadap salah seorang siswinya, Eka Ratu Anggraini (10) dengan cara mencubit perut sang siswi hingga mengalami luka lecet dan menjadi koreng, padahal cubitan tersebut dilakukan oleh oknum guru sebagai bentuk hukuman karena tidak bisa mengerjakan soal matematika.

Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi ini, Majelis Hakim yang diketuai Frans Efendi Manurung dan hakim anggota Firman Wijaya dan Tri Handayani dan Jaksa Penuntut Umum Arvye Yanuardi  serta Pensehat Hukum Terdakwa H Herman  memeriksa lima orang saksi termasuk saksi korban Eka, Para saksi tersebut antara lain Umar dan Susparini yang merupakan kedua orang tua korban, selanjutnya rekan satu kelas korban Tuti dan Eka.

Saksi Umar menambahkan, dirinya sengaja melaporkan perbuatan guru terhadap putrinya untuk memberikan efek jera agar sang guru tidak mengulangi perbuatannya. Karena menurut dia, seorang guru dalam mendidik siswa saat ini tidak perlu lagi menggunakan kekerasan fisik. Apalagi hanya karena siswa salah menjawab soal yang diberikan.

“Wajar kalau siswa salah, namanya masih murid, makanya kami sebagai orang tua menyengolahkan anak, karena ingin anak pintar, nah ini tugas guru, untuk membina bukan dengan cara kekerasan fisik,” tandasnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, Majelis Hakim menunda sidang dan akan melanjutkan agenda persidangan pada pekan depan dengan agenda mendengarkan kerangan saksi.

Usai Persidangan, Terdakwa Saherni yang sebelumnya memang tidak ditahan oleh pengadilan mengatakan, dirinya tidak ada sama sekali niat untuk menyakiti apalagi menganiaya para siswanya, yang dilakukannya semata-mata untuk mendidik para muridnya agar dapat lebih giat lagi.

“Tidak ada niat untuk menyakiti dia, dan saya tidak merasa dendam buktinya anak tersebut tetap saya naikkan ke kelas VI, namun hal ini sepenuhnya saya serahkan kepada tuhan,” katanya.

 

TEKS  : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster