Wisatawan Minim, PT El John Menyerah Kelola Teluk Gelam

 970 total views,  2 views today

Gapura Pintu Masuk Danau Teluk Gelam OKI | Dok KS

KAYUAGUNG – Minimnya wisatawan yang mendatangi kawasan wisata Danau Teluk Gelam di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengakibatkan PT El John Tirta Emas Wisata selaku pihak ketiga memilih menyerah mengelola objek wisata di OKI itu.

Tanda-tanda PT El John akan meninggalkan paksa Teluk Gelam sudah terlihat sejak setahun lalu. Manajemen mulai memangkas jumlah karyawan/ti yang bekerja dengan cara memberhentikan dengan hormat. Bangkrut merupakan penyebab utama perusahaan ini kabur dari objek wisata yang dulunya cukup terkenal di Sumsel.

Puncaknya, sejak beberapa pekan lalu tidak ada lagi kegiatan operasional yang dilakukan manajemen perusahaan di sana. Padahal sejak memulai mengelola Teluk Gelam sejak pertengahan tahun 2010, jumlah orang dipekerjakan lebih dari 80 orang dengan gaji minimum Rp 900 ribu/orang.

Manajamen perusahaan dengan baik mengelola Hotel Parai yang biasa disebut Hotel Kembar dan Tirta Eko Pariwisata yang ada di dekat danau itu. 2 tahun pertama, yang dilakukan pengelola cukup menjanjikan karena banyak pengunjung datang menginap di hotel dan menikmati fasilitas lainnya.  

“Namun 2 tahun terakhir ini, jumlah pengunjung justru turun drastis. Pengunjungnya mulai sepi dan kurang berminat lagi datang ke Teluk Gelam,” kata Drs Ishak Idrus MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata OKI, Rabu (10/9).

Dikatakannya, secara tertulis pihaknya memang belum menerima surat pemberitahuan secara dari manajemen PT El John tentang kepergian manajemen dari objek wisata. Karena kontrak perusahaan dengan Pemkab OKI dalam mengelola Teluk Gelam berdurasi 20 tahun sejak Mei 2010 lalu.

Sambung Ishak Idrus, pihaknya memang tidak berdaya dalam mencegah dan mengharapkan agar manajemen perusahaan tetap bertahan dan mengelola kawasan wisata Danau Teluk Gelam. Apalagi kepergian manajemen disebabkan faktor finansial.

Minimnya wisatawan melancong ke Teluk Gelam dijelaskannya sangat banyak. Diantaranya karena lokasinya memang kurang strategis dan jauh dari pusat perkotaan Kayuagung. Tingginya harga jasa yang ditawarkan manajemen ke pengunjung juga berdampak pada penurunan jumlah wisatawan.

“Seperti harga sewa kamar di hotelnya, antara Rp 350 ribu s/d Rp 500 ribu per malam. Tentu harga ini terbilang tinggi bagi kalangan masyarakat menengah. Juga fasilitas hiburan lainnya juga sudah berkurang karena tidak terurus lagi. Jadi masyakat semakin malas untuk datang ke sana,”beber Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata OKI.

“Kondisi ini harus segera disikapi dan ditakeover dari perusahaan kepada Pemkab OKI. Agar terbengkalainya Teluk Gelam tidak akan berlarut-larut dan bisa diambil alih oleh perusahaan pariwisata lainnya yang berminat,”jelasnya.

Terbengkalai kawasan Teluk Gelam bukan hanya Hotel Kembar dan fasilitas lainnya yang sudah tidak lagi dikelola pihak ketiga sehingga kondisi di sana sepi. Namun nasib serupa juga dialami Bumi Perkemahan yang pernah digunakan untuk Jambore Nasional XI tahun 2011 lalu.

Bahkan beberapa asset dan mobilier di sejumlah aula dan gedung eks Jambore Nasional itu sudah rusak dan hilang. Area perkemahan dan sejumlah gedung sudah tidak terawat dan ditumbuhi rumput liar.

 

TEKS    : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster