Kualitas Udara Diklaim Masih Aman, BLH Palembang tak Sepakat

 301 total views,  2 views today

Ilustrasi Salah Satu Pesawat yang akan Lepas Landas Walupun Udara Diselimuti Kabut Asap | Foto : Dok KS

PALEMBANG – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel menyebut, kualitas udara di Palembang sudah tak lagi sehat. Itu didapatkan dari data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palembang yang mencapai level 101 hingga 199.

Namun BLH Kota Palembang, justru menyebut kondisi udara di metropolis masih dalam posisi ambang batas aman. Kepala BLH Palembang, Thabrani menyebut, hasil kualitas udara tersebut didapat dari pengukuran kualitas udara yang rutin dilakukan empat kali setahun oleh BLH.

“Pemantauan kualitas udara kami lakukan di 16 titik pantau yang ada meliputi simpang Rumah Sakit Charitas, Simpang empat Jakabaring, Simpang Patal, Simpang Bandara SMB II, Jalan Demang Lebar Daung, Bundaran Air Mancur (BAM), dan lainnya,” kata Thabrani.

Hasil pantauan udara itu, menunjukkan kualitas udara di kota empek-empek masih dalam ambang batas aman. Namun untuk skala nasional, Palembang berada diurutan keenam, kalah dari Kota Jakarta dan Bandung.

“Mengapa Palembang kalah, karena titik pantau di Palembang bukan titik yang pas, sebab terjadi banyak penumpukan kendaraan pada lokasi titik pantau yang ada saat ini. Sehingga tingkat carbon monoksida dari emisi kendaraan meningkat,” jelasnya.

Lebih jauh Thabrani menjelaskan, debu yang ada saat ini, tidak begitu berpengaruh dengan kualitas udara. Sebab, debu hanya partikel kecil yang tertiup angin sesaat dan kembali turun lagi, tidak melambung ke udara seperti asap dan gas CO2 lainnya. “Tapi, debu sekarang ini bisa berdampak ke penyakit batuk dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA),” bebernya.

Masuk Kategori Parah

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel menyebut asap yang menyelimuti Sumsel saat ini, memasuki kategori parah. Kondisi ini terjadi lantaran, terus meningkatnya titik api (hotspot) yang terjadi di berbagai titik di sejumlah wilayah.

Catatan yang dimiliki Walhi Sumsel, sejak Agustus lalu sebanyak 253 titik api terdeteksi. Jumlahnya terus meningkat hingga 3 September kemarin, yakni 400 lebih titik api. Sebarannya berada disekitar kebun masyarakat, Hutan Tanaman Industri (HTI) serta lahan gambut.

“Tingginya kabut asap ini, mengancam kesehatan masyarakat terutama anak-anak, perempuan dan lansia. Asap itu mengandung zat beracun. Kalau dihisap besar dampaknya,” kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko .

Walhi menilai, jika bencana asap ini terjadi lantaran beberapa faktor. Mulai dari buruknya tata kelola ruang yang dipraktekkan oleh Pemprov Sumsel dan pemerintah di kabupaten/kota. “Mereka tidak melakukan tindakan untuk melindungi lahan kritis dan gambut,” sesalnya.

Ia juga menyayangkan banyaknya alihfungsi hutan, serta lahan perkebunan yang seharusnya tetap basah tapi dikeringkan. Aktivitas pembakaran yang hanya begitu-begitu saja, upaya penegakan hukum untuk memberikan sanksi kepada otak dan para pelaku pembakaran, dalam hal ini perusahaan, tidak benar benar terjadi. Hasilnya, tidak menimbulkan efek jera.

Dia juga tidak sepenuhnya menyalahkan aktivitas pembakaran lahan, yang dilakukan masyarakat desa saat membuka lahan. Sebab adanya aturan hukum yang membolehkan membuka lahan dengan membakar dengan catatan dilarang secara besar-besaran.

Kiriman Riau

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) Kenten Palembang, M Irdam mengatakan, kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang adalah asap kiriman dari Provinsi Riau. “Itu asap kiriman. Karena arah angin menuju Sumsel. Sehingga kabut asap terjadi di Palembang,” ujarnya.

Menurut Irdam, asap kiriman dari Riau tersebut merupakan asap dari terbakarnya hutan dan lahan yang di provinsi tersebut. Katanya, selain asap kiriman, kabut asap yang melanda Palembang juga disebabkan asap knalpot kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Asap knalpon juga berpotensi menyebabkan kabut asap. Oleh itulah, mesin kendaraan harus dirawat, agar tidak menyebabkan polusi udara. Tapi saya rasa, udara di Palembang masih aman,” tukasnya.

 

TEKS         : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR        : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster