Dosen Unsri Disebut dalam Sidang Tipikor

3 total views, 3 views today

ILst. Hukum

PALEMBANG – Sidang dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) proyek pengadaan alat korsik di instansi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Musi Banyuasin (Muba) beragendakan keterangan saksi di Pengadilan Negeri Palembang (PN) Tipikor Palembang, Rabu (10/9).

Dalam sidang lanjutan ini dua terdakwa, Lina (Direktur CV Sriwijaya Sukons Pratama) dan M Yatta (pensiunan Kasat Pol PP Muba) turut dihadirkan. Satu dari enam saksi yang dipanggil jaksa memberikan kesaksian yang cukup mengejutkan. Dengan tegas, saksi yang bernama Wahyu Fatria itu mengatakan dosen Unsri terlibat dalam proyek yang merugikan negara senilai Rp400 jutaan ini.

“Saya kerja sama paman saya yang berstatuskan dosen Fakultas Ekonomi Unsri bernama Dewa Syahputera. Saat menjadi rekanan proyek itu, seluruhnya paman saya itu yang mengatur, saya hanya jalani perintah dia,” kata Wahyu Pratama, saat menjawab pertanyaan majelis hakim Tipikor yang diketuai Suharni.

Dikatakan Wahyu, Lina bukanlah direktur dari CV Sriwijaya Sukons Pratama, melainkan Dewa yang menjabat sebagai direktur. Namun, saat menjadi rekanan dalam proyek ini, Lina-lah yang seakan-akan direktur dari CV Sriwijaya Sukons Pratama.

Saat berhasil memenangkan tender dari proyek ini, Wahyu yang mengaku bukan pegawai resmi dari CV Sriwijaya Sukons Pratama mengatakan Dewa bergerak dari balik layar. Ia menggerakkan Lina dan Wahyu saat berurusan dengan Sat Pol PP Muba.

Dengan kata lain, Dewa tidak pernah berurusan secara langsung dengan Sat Pol PP Muba sehingga yang dinilai menjadi direktur adalah Lina. Suharni sempat bingung saat mendengar pernyataan Wahyu yang mengatakan Dewa direktur asli dari CV Sriwijaya Sukons Pratama.

Apalagi, Wahyu mengatakan bahwa pamannya itu berstatuskan dosen Unsri dan sudah PNS. “Seharusnya kan PNS tidak bisa nyambi menjadi kontraktor. Coba jaksa selanjutnya mintai keterangan dari Dewa itu,” kata Suharni.

Karena masih harus meminta keterangan Wahyu lebih dalam, Suharni meminta waktu khusus untuk memeriksa Wahyu seorang diri. Ia lalu menunda sidang dan dilanjutkan Kamis (11/9). Sementara untuk saksi lain dijadwalkan Suharni diperiksa Senin (15/9).

Fakta persidangan diketahui, proyek pengadaan alat korsik ini digelar di tahun 2012 dengan anggaran senilai Rp700 juta. Namun, tidak seluruh anggaran dibelikan alat-alat musik dan diketahui kerugian negara senilai Rp400 juta lebih.

Setelah adanya diketahui dugaan tipikor, M Yatta yang pada proyek ini menjabat Kasat Pol PP Muba dan Lina sebagai direktur CV Sriwijaya Sukons Pratama ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Muba. Oleh jaksa, MHD Falaki dan teman-teman, pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 UU RI No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor.

 

TEKS    : Oscar Ryzal

EDITOR  : SARONO P SASMITO





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com