Produksi Karet Sumsel Menurun

 340 total views,  2 views today

Seorang pengepul karet sedang menyusun karet hasil pembeliannya dari warga

Ilustrasi Seorang pengepul karet sedang menyusun karet hasil pembeliannya dari warga | Dok KS

PALEMBANG – Produksi karet di Sumatera Selatan (Sumsel), kini mengalami penurunan. Hal itu disebabkan, petani karet malas untuk menyadap karet di kebun mereka disebabkan, harga karet yang anjlok.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gabkindo) Sumsel sekaligus Kepala Pabrik PT Hevea MK II, Alex K Eddy menyebut saat ini produksi karet menurun antara 60 sampai 65 persen.  “Tidak lagi sampai 100 persen. Mereka sudah lesu. Penurunannya 40-45 persen. Padahal rata-rata Sumsel bisa ekspor satu juta ton pertahun,” kata Alex.

menerangkan, anjloknya harga karet dipasaran saatdisebabkan harga pasar internasional yang tidak stabil semenjak awal 2014 lalu. “Sejak awal tahun, harga karet tidak stabil. Selalu terpuruk. Harga anjlok ini dari luar negeri, sekarang supply kita terlalu banyak dan permintaan dari pemakai juga menurun,” jelasnya.

“Sekarang harga dari kami saja USD 1,6 per kilogram (Kg). Padahal pernah mencapai USD 5 per Kg, turunnya begitu tinggi,” ungkapnya usai mendampingi Wakil Wali Kota Palembang, Harnojoyo yang meninjau PT Hevea Muara Kelingi (MK) II, Kamis (4/9)

Ia menyebutkan pabrik-pabrik karet yang ada di Sumsel, tujuan ekspornya adalah, Amerika Serikat, China, Jepang, Korea, negara Eropa dan lainnya.  “Harga anjlok juga disebabkan, pangsa pasar luar negeri, sudah di banjiri karet produksi negara berkembang di Asia seperti Myanmar, Malaysia dan lainnya. Mereka berani menjual karet, dengan harga lebih murah dan berkualitas. Sebab itu, produksi dalam negeri kalah bersaing dengan karet dari negara berkembang lainnya,”bebernya.

Alex menyebutkan, selama ini, di dunia hanya hanya ada tiga negara penghasil karet terbesar yakni Indonesia, Thailand dan Vietnam. Sehingga pangsa pasar karet dunia bisa di kontrol harganya.

“Tapi semenjak, banyak negara yang sudah menghasilkan karet harga mulai turun. Kalau dulu, ada caranya, jika harga anjlok maka ekspor dibatasi, agar karet di pasar luar negeri minim dan harga membaik. Barulah kemudian karet kembali di ekspor, setelah harga dipasar naik. Tapi siasat tersebut tidak lagi berhasil di terapkan Indonesia, Vietnam dan Thailand karena kalah bersaing dengan karet negara lain,”sebutnya.

Alex menambahkan, dengan kondisi harga sekarang pabrik-pabrik karet tidak bisa membeli karet dari petani dengan harga tinggi. Sekarang, harga karet petani hanya diangka Rp 8.500 per kg. Padahal dulu sempat Rp 30.000 per kg. “Doakan saja harga naik lagi. dan petani bisa lebih baik,”ulasnya

Sementara itu, Wakil Wali Kota Palembang, Harnojoyo mengaku prihatin dengan perkembangan harga karet yang terus anjlok.  “Kami tidak bisa berbuat banyak. Itu mengikuti harga dunia. Saya yakin, harga akan berangsur-angsur naik agar petani dan juga masyarakat yang hidup lebih baik,” tukasnya.

 

TEKS          : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR       : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster