Mendorong “Kesadaran Masjid”

 291 total views,  2 views today

Imro

Oleh Imron Supriyadi

(Penulis Buku Revolusi Hati untuk Negeri)

Mendorong ”kesadaran masjid” di kalangan umat Islam, paling tidak dapat dimulai dari bagaimana menciptakan kebutuhan sosial kebudayaan umat terhadap masjid. Masjid Agung Palembang bisa menjadi bahan pemula untuk memulai ke arah itu.  Dengan memberikan kebebasan para pedagang membentangkan dagagannya di halaman masjid, paling tidak akan ”mengundang kebutuhan” umat untuk berbondong-bondong ke lingkungan masjid.

Walau hanya setiap hari Jumat, tetapi ini dapat menjadi sebuah dasar bagaimana sebagain umat kita, bahkan kalangan non muslim sekalipun juga datang dan bisa merasa berkepentingan terhadap masjid. Tujuannya bisa bermacam-macam. Apakah akan membeli gantungan kunci, membeli makanan, atau akan membeli kitab suci Al-quran. Terhadap apakah umat Islam yang datang itu akan ikut berjamaah di dalam masjid atau tidak, tentu tidak bisa diwajibkan. Tetapi dengan menciptakan ”ruang kepentingan” ini, minimal dapat mendekatkan sebagian umat, yang sebelumnya jauh menjadi dekat dengan masjid.

Bukan tidak mungkin, jika ini dikembangkan sebagaimana Masjid Demak, akan banyak membawa rahmat bagi lingkungan sekitar. Seperti penerbitan buku sejarah masjid Agung dengan edisi sederhana. Buku sejarah kesultanan Palembang, souvenir Palembang dan lain sebagainya. Secara ekonomi jelas ini akan ”menghidupi” para pedagang kecil. Dengan demikian, secara perlahan fungsi masjid akan terkondisi, bukan saja akan diramaikan oleh jamaah masjid yang melakukan ibadah ritual, tetapi lebih dari itu, masjid juga akan ramai oleh para jamaah yang melakukan ibadah sosial.

Tetapi belajar dari Masjid Agung Palembang. Sepertinya ada hal yang seakan terlupa sebelumnya, ketika masjid itu direnovasi sampai kini menjadi bangunan masjid yang demikian modern. Ketersediaan halaman yang diperuntukkan bagi para pedagang tidak di-desain dengan tata letak yang strategis dan artistik. Sehingga sampai sekarang, keramaian jamaah diluar masjid, hanya terbatas pada hari Jumat saja, tanpa ada ruang khusus bagi mereka. Sementara di hari lain, masjid hanya akan tampak bangunan megah, yang isinya para jamaah yang numpang beristirahat sejenak karena kelelahan setelah melakukan aktifitas.

Melihat problem global yang kini banyak diderita oleh sebagian masjid di Indonesia, tidak salah jika di masa mendatang, perluasan masjid bukan terbatas pada pemenuhan ruang ibadah ritual, tetapi juga memberi ruang bagi para pekerja kebudayaan, pekerja bisnis (pedagang kakilima), agar mereka dapat menikmati ”kerahmatan” masjid, melalui keuntungan hasil jual belinya. Atau bagi para pekerja kebudayaan juga dapat menafaatkan ruang pertemuan (seminar, diskusi, simposium) yang mungkin di bangun di sekitar halaman masjid. Jika ruang seperti ini sudah terwujud, dapat dipastikan, sebagian umat kita akan memilih di ruang pertemuan masjid, dari pada mereka harus menyewa mahal hotel berbintang, yang sudah pasti jauh dari suara adzan.

Mengembangkan keberfungsian masjid menjadi area ibadah sosial, sudah pasti akan dihadapkan pada kompleksitas masalah yang menyertainya. Sejak dari pandangan konservatif sebagian masyarakat terhadap masjid, sampai pada proses pengembangan selanjutnya, yang sudah tentu memerlukan energi dan dana besar. Tetapi, semua ini dapat saja dimulai dari sekarang. Sekecil apapun ruang dan kegiatan sosial yang dilakukan, dapat menjadi embrio sebuah perubahan terhadap keberfungsian masjid. Minimal, dengan keterbatasan yang ada, masing-masing pengelola masjid dapat memulai dengan ”menciptakan kepentingan” di dalam masjid, sehingga masjid memilki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Tiga hal penting

Upaya mengembangkan keberfungsian masjid dalam konteks sosial, jelas memerlukan SDM yang mempunyai visi yang jelas. Oleh sebab itu ada tiga hal penting yang perlu dikedepankan, sebelum pengelolaan ini dimulai. Pertama Penguatan Ideologi. Jajaran pengurus masjid yang duduk di struktural sudah pasti harus memilih personil yang mempunyai kekuatan ideologi; amanah, cerdas,  jujur dan mampu menjalin kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan kelompok non Islam. Kedua Penguatan Struktural. Jajaran pengurus masjid yang akan mengembangkan fungsi masjid ini diperlukan orang-orang yang cekatan, mengetahui ke-administrasian dan menejerial. Sehingga, antara unsur pimpinan dan para kepala bidang dapat bekerja secara seimbang (sinergis). Sebab tanpa adanya struktur yang kuat, akan terjadi ”kerja sendiri” yang hanya dilakukan Ketua dan Sekretaris. Ketiga Penguatan Jaringan. Pengembangan masjid tidak bisa bekerja sendiri. Jelas memerlukan dana besar dan jaringan kerja yang luas. Maka, untuk menciptaan ini tidak salah jika pengurus masjid membuka jaringan yang seluas-luasnya, baik melalui pendekatan personal ke beberapa donatur, BUMN dan BUMD. Atau untuk perluasan jaringan, profil dan renstra pengembangan masjid disebarluaskan melalui pembuatan website di internet, pengembangan penerbitan media cetak dan elektronik, (tv dan radio). Bahkan, beberapa masjid juga ada yang telah  membuka ”dompet publik”, yang diperuntukkan bagi donatur yang ingin menyalurkan dananya, tetapi sangat terbatas informasi tentang siapa yang pantas dan layak menerima dana. Dengan begitu, diharapkan pengelola masjid tidak akan merasa tergantung dengan pendapatan kencleng (kotak amal) semata, melainkan bisa menerima sumbangan dari mana saja asalnya, termasuk bantuan luar negeri sekalipun. (*)

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster