Kabut Asap Menyelimuti Palembang, Jarak Pandang Masih Normal

 216 total views,  2 views today

Kabut Asap | Kompas.com

Kabut Asap | Ist

PALEMBANG – Walaupun kabut asap mulai menyelimuti Kota Palembang selama sepakan terakhir, namun belum menganggu transportasi di metropolis. Sebab jarak pandang, diklaim masih normal.

“Sudah sepekan kabut asap timbul. Tapi yang agak pekat, tiga hari terakhir. Itu juga belum berbahaya. Kabut asap itu berasal dari kabupaten/ kota di Sumsel yang terjadi kebakaran lahan, sehingga asapnya tertiup angin,” kata Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika BMKG, Kenten Palembang, Indra Purna, Senin (1/9).

Indra mengatakan, walaupun sudah sepekan kabut asap itu turun menyelimuti wilayah Kota Palembang. Tapi sebutnya, masih dalam status aman untuk jalur transportasi. Baik darat, laut maupun udara.

“Jarak pandang kabut masih berada di atas 2 Kilometer (KM). Jadi masih sangat jelas dan aman. Tapi, walaupun masih aman, masyarakat harus tetap waspada dan harus hati-hati dalam berkendara khususnya bagi pengendara kendaraan bermotor dan kapal laut,”imbuhnya.

Sambung Indra, khusus untuk keperluan penerbangan, biasanya, selalu di informasikan prakiraan cuaca terkini. Karena, penerbangan sangat berbahaya apabila dilakukan dalam cuaca buruk. “Setiap hari di informasikan, khususnya udara. Karena hal itu sebagai acuan penerbangan,” bebernya.

Lebih jauh Indra menjelaskan, kabut asap tersebut, bisa dibedakan dari baunya yang menyengat tercium hidung, jika itu terjadi artinya itu adalah kabut asap akibat titik api. Sementara jika sebaliknya, itu adalah kabut yang timbulkan oleh radiasi atau embun yang juga sering muncul.

“Di Sumsel, ada beberapa daerah yang rawan terjadinya kebakaran lahan. Diantaranya, Muaraenim, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Banyuasin dan Musi Banyuasin (MUBA). Kemunculan apinya, karena pembakaran lahan untuk keperluan perkebunan atau pertanian yang dilakukan masyarakat,” jelasnya.

Sambung Indra, hingga sekarang titik api yang terpantau di Sumsel, jumlahnya tidak tetap. Setiap hari, ada puluhan titik api di Sumsel yang terpantau, bahkan pernah mencapai 30 titik api.  “Jumlah titik api, tidak bisa ditentukan. Bisa naik bisa juga turun,”katanya.

Indra menghimbau, apabila masyarakat ingin membuka lahan. Diharapkan jangan sampai di bakar, untuk menghindari kebakaran hutan dan lahan gambut. “Karena potensi kemarau diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir September, jadi perlu berhati-hati,”tukasnya.

 

TEKS           : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI  





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster