Denda Rp 10 M bagi Penambang Liar

 303 total views,  2 views today

Ilustrasi Tambang Galian C | Pikiran-rakyat.com

Ilustrasi Tambang Galian C | Pikiran-rakyat.com

EMPAT LAWANG – Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertambangan Energi (Dishutbuntamben) Kabupaten Empat Lawang, melarang kawasan dengan batas 500 meter ke bagian hulu dan hilir dari Jembatan Musi menjadi kawasan terlarang untuk aktivitas galian C.

Jika ada penambang, yang melakukan aktivitas di kawasan tersebut maka sanksi akan diberikan. “Kami masih mendata, jika ada aktivitas penambangan galian C di lokasi larangan tersebut, jika ada akan kita berikan sanksi,” kata Kepala Dishutbuntamben Empat Lawang, H Susyanto Tunut melalui Kabid Pertambangan Deni Irwandi, kemarin.

Sanksi yang dikenakan sebut Deni, tidak main-main. Sanksinya berupa denda maksimal sebesar Rp 10 miliar atau pidana penjara 10 tahun. Sanksi itu sebut Deni, sudah diatur dalam Undang Undang (UU) Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Batuan.

UU tersebut bebernya, juga diturunkan dari Peraturan Bupati (Perbup) Empat Lawang Nomor 12 tahun 2009. Pada perbub tersebut di pasal pasal 8 ayat 2, diterangkan larangan aktivitas penambangan galian C pada jarak 500 meter ke bagian hulu dan 500 meter ke hilir bangunan jembatan. “Kalau masih ada penambangan, artinya tidak ada izin atau liar. Sanksinya jelas, merujuk pada UU dan perbub tadi,” terangnya.

Sejauh ini jelas Deni, Dishutbuntamben masih memberikan keleluasaan bagi warga jika ingin mengambil galian C di Sungai Musi, terutama jika aktifitas penambangan tersebut dilakukan secara tradisional karena jauh dari dampak negatif lingkungan.

Namun demikian katanya, warga juga harus memahami betul dampak penambangan itu sendiri, agar tidak merugikan kepentingan orang banyak. Ditambahkannya, penambangan terus-menerus akan menyebabkan arus sungai semakin deras.

Akibatnya terjadi longsor tebing sungai atau arus kuat menghantam dan menggerus bangunan di hilir. Adapun untuk bagian hulu, akan terjadi penguatan arus yang berdampak pada tertariknya material dasar sungai. “Jika dekat bangunan misalnya jembatan, material di bawahnya terseret sampai hilir, akibatnya bisa fatal,” ungkapnya.

Data sementara Dishutbuntamben Empat Lawang, jumlah aktifitas galian C memiliki izin ada sekitar 12 perusahaan, milik perorangan. Aktivitas 12 perusahaan itu menjadi perhatian Dishutbuntamben, karena mereka melakukan aktivitas pertambangan menggunakan alat berat.

“Kita ingin meminimalisir dampak negatif, bagi lingkungan,” kata Deni seraya menambahkan saat ini ada tiga orang inspektur tambang yang telah bersertifikat, mengawasi setiap kegiatan pertambangan di Empat Lawang.

Inspektur tambang ini bertugas, mengawasi  pertambangan besar seperti batubara. Namun sejak tahun ini, inspektur tambang siap mengawasi setiap kegiatan pertambangan karena sudah ada anggaran untuk pengawasannya.

“Mereka ini ditugaskan, untuk mengawasi pertambangan agar tidak terjadi kerusakan lingkungan, kecelakaan kerja dan sebagainya. Tahun ini, dana pengawasannya kita anggarkan. Kita akan bekerjasama dengan TNI dan Polri untuk menindak penambang liar, namun terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang kita miliki kita harap ada peran masyarakat untuk ikut pengawasan,” tukasnya.

 

TEKS         : SAUKANI

EDITOR        : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster