Harga Solar Tembus Rp10 Ribu Perliter, Nelayan di OKI 3 Minggu Tidak Melaut

 355 total views,  2 views today

Ilustrasi | Antaranews.com

Ilustrasi | Antaranews.com

KAYUAGUNG – Dampak pengurangan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar oleh pemerintah pusat  mulai menghantam  aktifitas masyarakat.  Akibatnya  ribuan nelayan di  empat  kecamatan yakni Cengal, Sungai Menang, Tulung Selapan dan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sudah hampir tiga minggu  terpaksa tidak melaut karena tidak kebagian  solar.

Salah seorang nelayan, H Komala, warga Kuala Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal mengaku selain tidak sanggup membeli bahan bakar di kawasan perairan, nelayan juga terkadang tidak kebagian saat pasokan solar tiba di kawasan Pantai Timur. “Kalaupun ada, harganya juga sudah mencapai Rp10.000/liter, baik solar maupun premium. Kami mana sanggup membeli, soalnya terkadang tidak sesuai dengan hasil  didapatkan dari melaut,” ujar H Komala, Rabu (27/8) kemarin.

Menurutnya, ribuan nelayan di empat kecamatan yang tidak melaut tersebut yakni nelayan Desa Sungai Lumpur, Sungai Jeruju, Kuala Sungai Pasir, Kuala Sungai Jeruju dan Somor Kecamatan Cengal. Kemudian nelayan Desa Sungai Sibur dan Pinang Indah Kecamatan Sungai Menang, nelayan Desa Simpang Tiga Abadi, Simpang Tiga Makmur, Simpang Tiga Jaya, Kuala Dua Belas Kecamatan Tulung Selapan dan beberapa desa di Kecamatan Air Sugihan.

“Jadi kami bingung dengan kebijakan pemerintah sekarang, warga di perairan hanya mengandalkan pendapatan dari hasil melaut, jika kami tidak melaut kami tidak bisa makan. Menurut kami jelas pemerintah sekarang tidak berpihak kepada masyarakat khususnya terhadap para nelayan seperti kami,” tegasnya.

Sedangkan salah seorang nelayan di Desa Simpang Tiga Jaya, Kecamatan Tulung Selapan, Robinson mengatakan, sebelum ada pengurangan pasokan BBM, di wilayahnya sudah sering terjadi kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar, sementara saat harga BBM naik, harga di tingkat eceran semakin tinggi. “Dengan harga BBM yang cukup tinggi
ini, kalau biasanya kita melaut mencari ikan setiap hari terpaksa dalam seminggu hanya tiga kali melaut,” keluhnya.

Padahal kata Robinson, saat ini di laut sedang musim banyak ikan, tapi karena tidak ada bahan bakar minyak solar, terpaksa mereka tidak melaut. “Kami setiap hari rata-rata menghabiskan solar untuk bahan bakar mesin perahu sebanyak 60 liter. Sekarang harga solar di tingkat pengecer Rp10.000/liter, dikalikan 60 liter, kami harus mengeluarkan Rp600.000/hari,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi agar harga BBM di wilayah tersebut tidak begitu tinggi, nelayan mengajukan ke Pemkab OKI melalui Dinas Perikanan dan Kelautan, yang diteruskan ke Menteri Kelautan dan Perikanan, agar di Desa Sungai Lumpur dibangun SPBU terapung.

“Sayangnya usulan kami ditolak karena dengan alasan sulit dijangkau melalui darat dan harus melalui jalur laut yang terlalu jauh dari Kota Palembang,” terangnya.

Kades Sungai Lumpur, Kecamatan Sungai Menang, Dedi Irawadi didampingi Sekdes, Indra Gunawan membenarkan bahwa nelayan di wilayah perairan sulit untuk mendapatkan pasokan solar. “Sebelum adanya pengurangan pasokan, produsen minyak mengirimkan solar ke wilayah kami menggunakan perahu Jukung, ada yang dari Palembang, ada juga yang dari Jakarta,” terangnya.

Namun sekarang ini, kata dia, dari total kebutuhan solar sebanyak 10 ton atau 10.000 liter/hari, pasokan yang dikirim hanya separuhnya saja.

“Kalau kebutuhan 10 ribu liter/hari, sementara yang ada hanya 5 ribu liter, banyak nelayan yang tidak kebagian. Transaksinya dilakukan di dermaga-dermaga, tapi kalau terlambat jelas tidak dapat jatah dan tidak mampu membeli,” terangnya.

Dikatakannya, masyarakat berharap ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terapung, sehingga harganya tidak begitu tinggi. “Kami di wilayah perairan ini membeli solar dari pengecer yang datang dari Palembang, kalau harga dari pengecer Rp10.000/liter, jelas nelayan keberatan. Soalnya kalau dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan di laut, dengan harga BBM sekarang, para nelayan banyak yang merugi,” tukasnya.

TEKS   :  DONI AFRIANSYAH

EDITOR   : SARONO P SASMITO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster