Sidak, BNN Kabupaten OI Banyak Temukan Obat Keras

 329 total views,  2 views today

bnn

INDERALAYA – Puluhan jenis obat keras yang tidak boleh diperjualbelikan secara bebas disita petugas gabungan dari Badan Nasional Narkotika (BNN) Kabupaten Ogan Ilir (OI), Dinas Kesehatan (Dinkes), Pol PP, Dinas Pasar, dan Pelayanan Satu Atap, dalam sebuah Inspeksi Mendadak (Sidak), di beberapa tempat di Inderalaya, Selasa (26/8), kemarin.

Obat-obat tersebut disita dari beberapa tempat baik di lapak maupun apotik. Bahkan, obat tersebut juga dijual bebas di sebuah klinik besar tanpa izin dari pihak terkait.

Pantauan Kabar Sumatera, Selasa (28/8) kemarin, sidak dilakukan di 6 lapak obat Pasar Indralaya, serta di Klinik Mahyuzahra, Inderalaya.

Di klinik tersebut ditemukan obat-obatan keras yang tidak dipisahkan peletakkannya dengan obat-obatan yang lainnya seperti Diazepam, codein, datan dan sebagainya.

Sementara di lapak obat-obatan disita beberapa obat yang dijual tidak berdasarkan resep dokter seperti Amoxilin, Zeopam Zoralin,dan sebagainya.

Kepala BNN OI, Dirowadi melalui Ketua Tim Sidak sekaligus Kasi Pemberantasan Narkotika BNN Ogan Ilir, Sumediyono didampingi Kanit Narkoba Polres Ogan Ilir,  Aipda Agus Setia Gunawan mengatakan, sidak tersebut dilakukan untuk menekan peredaran narkoba, meminimalisir pengguna bahan kimia prekusor (bahan kimia yang bisa diracik-red),sehingga tidak diperjualbelikan secara bebas.
“Ya kita khawatir banyak obat-obatan keras maupun obat tidak sesuai resep dokter beredar, ini kan kalau diracik bisa memabukkan dan membahayakan kesehatan, kita sitalah,” paparnya.

Lanjut Sumadiono, pihaknya menemukan obat keras yang peletakkan tidak dipisahkan, selain itu soal perizinan katanya ada di Palembang.

“Sementara di lapak obat Pasar Indralaya kita sita sebagian obatnya, sampai saat ini kita kooperatif  hanya memberikan nasehat jangan sampai menjual kembali,” sambungnya.

Pedagang obat Pasar Indralaya,  Kodiran warga Desa Meranjat mengaku terkejut dengan adanya sidak tersebut.

“Ya mau bagaimana lagi kalau obatnya memang disita silahkan, ke depan kita tidak jual lagi, ya rugi Rp150 ribuan lah. Tidak  masalahlah, nanti kita tidak akan jual lagi,” singkatnya.

Sementara itu,  Rudin (35) penjual jamu kuat yang menjual di emper kaki lima Pasar Indralaya, mengaku hanya menerima titipan dari penjual jamu di Palembang.

“Ini saya disuruh jual saja Mas. Pemiliknya ada di Palembang,” ujarnya singkat.

 

Teks  : Junaedi Abdillah

EDITOR  : SARONO P SASMITO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster