Terkait Kasus Pupuk, Kacab PT Pertani Jadi Tersangka

 656 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PAGARALAM – Terkait dugaan korupsi penyimpangan penjualan pupuk bersubsidi untuk kebutuhan para petani yang ada  di Bumi Besemah ini, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pagaralam periksa Kepala Cabang  (Kacab) PT Pertani, Samsul Arifin, Kamis (21/8) sekitar pukul 09.00 WIB.

Pantauan di lapangan, tersangka yang di kawal pengacaranya sempat kucing-kucingan dengan awak media yang sudah lama menunggu ingin mengambil foto. Bahkan tersangka mengecoh dengan masuk dari pintu belakang. Sedangkan seluruh wartawan sudah menunggu di pintu depan.

Kepala Kejari Kota Pagaralam,  Ranu Indra SH MH melalui Kasi Intel, Syahril Siregar SH dan Kasi Pidsus Noly Wijaya SH MH mengatakan, saat ini pengusutan kasus penyelewengan pupuk bersubsidi sudah memasuki pemeriksaan sebagai tersangka,  dan tinggal menunggu hasil audit kerugian dari BPKP untuk melakukan penyelesaikan pengusutan kasus tersebut.

“Ya, kita telah tetapkan dua tersangka dugaan korupsi atau penyimpangan pupuk bersubsidi diantaranya Zainul Arifin dari PT Pertani yang menjadi salah satu distributor pupuk BUMN. Kemudian tersangka lainnya Ruspandi dari PT Ayik Lematang,” jelasnya.

Distributor pupuk dari dua perusahaan yang diberikan wewenang untuk menyuplai pupuk bersubsidi di Kota Pagaralam yakni PT Pertani dan PT Ayik Lematang. “Keberadaan kedua perusahaan ini menjadi mitra pemerintah dalam hal menyalurkan pupuk bersubsidi kepada distributor di Kota Pagaralam,” sebutnya.

Lebih lanjut Syahril mengatakan, saat ini selain 2 tersangka, ada dua saksi lain yang ikut diperiksa. “Saat ini baru dari pihak distributor yang ditetapkan sebagai tersangka. Namun tidak menutup kemungkinan dari instansi terkait yaitu Dinas Pertanian dan Hultikultura pun  bisa terlibat. Meski begitu, semua ini tergantung hasil pengembangan ke depan,” kata Syahril.

Terungkapnya kasus ini sambung Noly, setelah cukup banyak petani di Pagaralama mengeluh tidak dapat jatah pupuk dan sering terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi. “Disinyalir  permainan ini terjadi antara pihak penyuplai dengan distributor. Akibatnya dibuat aturan agar petani sulit membeli. Sementara disisi lain, kesepatan itu juga digunakan distributor untuk menjual pupuk kepada pihak lain termasuk perusahaan tertentu,” tambahnya.

Ia mengatakan, kalau di tingkat pengecer, menurutnya tidak bisa disalahkan. Mengingat mereka langsung menerima dari distributor untuk disalurkan kepada petani meskipun para petani sendiri sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi. “Bisa dibayangkan berapa kebutuhan pupuk untuk petani di Pagaralam. Ya, bisa mencapai 1.000 ton lebih, dan cuma beberapa persen saja bisa disalurkan kepada petani. Sedangkan sisanya justru dijual kepada pihak tertentu diluar prosedur pendistribusian,” terangnya seraya berkata ada dugaan permainan antara distributor dan dinas terkait untuk membatasi penyuplaian.

Sementara itu, pengacara tersangka Edwar SH mengatakan, saat ini klienya tengah memenuhi panggilan untuk diperiksa pihak Kejari Kota Pagaralam. “Ya, klien kami datang untuk memenuhi panggilan dari Kejari. Namun untuk menentukan langkah lebih lanjut, kita masih menunggu hasil proses pemeriksaan,” tegasnya.

 

TEKS   : ANTHONI STEFEN

EDITOR  : IMRON SUPRIYADI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster