Mengembalikan Peran Media untuk Publik

 147 total views,  3 views today

foto-gagasan-02--Boni-Sudarman

Oleh Boni Soedarman

(Praktisi Media di Muaraenim)

Media massa pada dasarnya dilahirkan, dihidupkan dan dijalankan oleh publik atau rakyat. Negara yang melahirkan payung hukum, pasar ekonomi yang menghidupkannya dan publik/rakyat sebagai pemiliknya. Keseimbangan dan sinersitas ranah media di antara tiga kepentingan besar; negara/politik, pasar ekonomi dan publik/rakyat menjadi penting dewasa ini, mengingat, pertama, menipisnya kepercayaan publik terhadap wujud dan isi media dewasa. Wujud isi media lebih ditentukan kekuatan politik, ekonomi pemilik dan pendapatan media itu sendiri. Ini akan berimplikasi pada kualitas dan kuantitas demokrasi di nusantara.

Kedua, lemahnya literasi media/melemahnya kekuatan atau keberdayaan publik/rakyat terhadap semua produk sajian media.

Ketiga, kecenderungan bersatunya kepentingan negara/politik dengan pasar ekonomi media yang meminggirkan kepentingan publik/rakyat dan keempat, menguatnya pasar ekonomi media, yang bahkan melemahnya kekuatan negara. Dalam hal ini pihak yang senantiasa diuntungkan tentu saja media massa, publik/rakyat akan tetap dieksploitasi, dikomodifikasi, untuk dijual dengan harga mahal keperusahaan iklan.

Prof Vincent Moscow, dalam Political Economy Media Theory nya, bahwa industri media dikuasai hanya beberapa korporasi nasional dan global yang menghegemoni publik/rakyat demi kepentingan ekonomi politik. Ketika peta para pihak berkuasa secara ekonomi dan politik yang justru pemilik media dan terlibat dalam politik praktis, maka kecenderungan yang muncul adalah mengabaikan kepentingan publik/rakyat. Media sudah terjerumus terlalu dalam ke permainan politik oligarki, monopoli dan hegemoni sehingga publik/publik berada dalam persimpangan.

Mestinya media dalam sistem yang demokratis yang diidealkan negara ini dapat berfungsi sebagai arena ruang publik yang sehat dan menyehatkan. Dimana seluruh publik/rakyat dapat berinteraksi, bertukar pikiran, dan berdebat tentang masalah-masalah publik. Dengan catatan seperti Sudibyo, 2014 sampaikan, proses ruang publik/rakyat tersebut tanpa ada kerisauan terhadap intervensi penguasa politik dan ekonomi, karena potensi demokrasi sehat tercipta dalam ruang publik tersebut.

Mesti diakui, media massa selain membawa dampak positif yang besar bagi kehidupan publik/rakyat, juga membawa dampak negatif yang besar bagi publik/rakyat. Pesatnya pertumbuhan media dewasa ini memang di satu sisi membanggakan dengan banyaknya pilihan media. Informasi yang dapat dikonsumsi dan diakses publik/rakyat kapan saja dan dimana saja. Namun sisi lain, lahirnya media dengan berbagai bentuk, jenis dan tujuan serta isi yang disuguhkan juga mempunyai dampak negatif bagi kehidupan publik/rakyat. Bahkan dapat menjerumuskan publik/rakyat semakin tidak berdaya, dengan melahirkan budaya konsumtif, budaya pop, budaya rendah, dengan nilai-nilai materialistis, individualisme, hedonistik, melalui hiburan kurang mendidik. Termasuk hadirnya pasar kapitalisme neoliberal yang dapat menciptakan ancaman bagi nilai budaya nusantara.

Keprihatinan ini terhadap dampak negatif dan dominasi media bukan hanya dimonopoli negara berkembang dengan pertumbuhan industri media begitu pesat seperti negara ini. Bahkan negara-negara maju juga menghadapi permasalahan serupa. Karena memang, media massa bukan ruang hampa yang bebas nilai. Media adalah ajang kontestasi antara berbagai kepentingan yang berusaha merebut ruang publik/rakyat bahkan memonopoli dan menghegemoni ruang publik/rakyat.

Rakyat Melek Media

Solusi menghadapi booming media massa yang cenderung menyajikan wujud isi yang dapat membawa dampak negatif dengan melek media atau media literacy dengan perspektif inokulasi. Perspektif ini menjadi salah satu pilihan solusi menghadapi pesatnya arus media massa. Dan inokulasi menjadi salah pendekatan komunikasi yang populer dewasa ini.
Publik/rakyat perlu diinokulasi dengan suntikan imunitas melek media tertentu. Sehingga terhindar dari dampak negatif atau virus negatif dari produk media. Inokulasi merupakan sebuah tindakan intervensi dalam melindungi publik/rakyat dari bahaya virus negatif media.

Konsep yang ditawarkan Livingstone (2003) yaitu media literacy–sebagai ketrampilan memahami sifat komunikasi, khususnya dalam hubungannya dengan telekomunikasi dan media massa. Konsep ini diterapkan pada beragam gagasan yang berupaya menjelaskan bagaimana media menyampaikan pesan-pesan, dan mengapa demikian. Publik/rakyat, kontak dengan media menjadi sesuatu yang esensial tak terhindarkan. Melek media merupakan sebuah ketrampilan yang diperlukan dalam berinteraksi secara layak, wajar, cerdas, kritis, dan tentu dengan rasa percaya diri yang tinggi ketika berhadapan dengan media.

Tujuan utama adalah agar publik/rakyat tidak galau atau gamang ketika berhadapan dengan media, dengan tidak menganggap media segalanya dalam kehidupan ini, menjadikan rakyat/publik tidak tunduk di depan media. Dengan demikian dapat memanfaatkan media sesuai dengan keperluan. Selanjutnya sebagai landasan tentang media literacy, perlu dipahami konsep dasar, antara lain: bahwa pada dasarnya semua media hasil konstruksi. Media tidak menampilkan refleksi rill dari realitas eksternalnya. Media menampilkan hasil konstruksinya terhadap realitas yang sudah diatur secara sedemikian rupa dengan proses yang rumit sesuai kebijakan dan pilihan media massa. Artinya melek media ini mencoba melakukan dekonstruksi atas konstruksi realitas dari media.

———————————————————————————————————————————————————————————————

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Unimal Aceh, Ketua Development for Research and Empowerment – DeRE-Indonesia (Sekolah Menulis & Kajian Media -SMKM-Atjeh dan Atjeh Analyst Club-A2C) 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster