Usut Tuntas Pengusaha Malaysia

 918 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

PALEMBANG – Joni Saragi, pemilik PT Cakra Bumi Langgeng (CBL) Palembang, meminta Polda Sumatera Selatan mengusut tuntas laporan yang ia buat terhadap Presiden Direktur  PT Emas Maju Agro Sawit (EMAS) Juli 2014 lalu. Alasannya? PT CBL kesulitan menjalani usaha, karena Presdir PT EMAS yang merupakan warga negara asal (WNA) Malaysia berinisial PI belum membayarkan utangnya sebanyak Rp 2,4 miliar.

“Laporan itu kita buat sebulan lalu, namun belum ada perkembangan. Kita berharap, segera ada titik temunya,”cetus Joni kepada Kabar Sumatera, Senin (11/8).

Cerita Joni, PT CBL dan PT EMAS memiliki kerja sama di bidang pendanaan suplai bibit sawit. PT CBL mendanai suplai sawit kepada PT EMAS dan sesuai kesepakatan bersama PT CBL dikenakan PPh senilai 0,25 persen yang sudah dibayar PT CBL.

Sesuai kesepakatan, lanjut Joni, PT EMAS harus mengganti rugi PPh yang sudah dibayarkan oleh PT CBL. Namun, sejak kerja sama pertama kali digelar Februari 2014, PT EMAS belum membayar PPh tersebut hingga April 2014.

Persis sebelum membuat laporan di SPKT Mapolda Sumsel, Joni sudah memberikan himbauan secara lisan kepada PT EMAS untuk menyerahkamn bukti potong PPh.

Akan tetapi, tidak ada respon yang didapat pihak PT CBL. Lalu, PT CBL lalu membuat himbauan secara tertulis, yang lagi-lagi tidak direspon PT EMAS.

“Karena tidak respon, saya memutuskan membuat laporan di SPKT Mapolda Sumsel. Kami sangat terganggu dengan belum dibayarnya utang itu karena uangnya untuk operasional perusahaan. Kerja sama saat ini kita hentikan sebelum adanya peyelesaian dari polisi,” jelas Joni.

Berkait dengan kasus ini, Kasubdit I Ditreskrimum Polda Sumsel, AKBP Sutriyo, mengatakan, laporan Joni sudah diproses. Bahkan, dalam waktu dekat, Sutriyo akan menggelar perkara untuk mengetahui apakah perkara ini masuk ranah pidana umum atau perdata.

“Dari hasil pendalaman kita, kuat ke arah perdata. Namun, itu belum bisa kita pastikan sebelum gelar perkara dilaksanakan,” beber Sutriyo.

Namun, jika nantinya terbukti perkara perdata, lanjut Sutriyo, perkara ini akan dihentikan oleh Subdit I Ditreskrimum Polda Sumsel. Pasalnya, Subdit I Ditreskremum Polda Sumsel hanya menangani perkara pidana umum, bukan perdata.

“Rencananya pekan depan kita gelar perkara. Baik terlapor maupun pelapor sudah kita mintai keterangan. Total, sudah ada enam saksi yang diperiksa, termasuk pelapor dan terlapor,” pesan Sutriyo.

 

TEKS   : OSCAR RYZAL

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster