Speedboat, Tradisi Menantang Maut

 1,378 total views,  2 views today

Speedboat | Dok KS

Speedboat | Dok KS

INDERALAYA – Terik matahari yang menyengat di Kota Inderalaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI), pada Kamis (31/7). Tapi suasana itu tidak menyurutkan niat anak-anak, pemuda hingga orang tua untuk berbondong-bondong melihat dan menikmati wahana air musiman yang lebih dikenal speedboat.

Dalam satu tahun, wisata air ini bisa dinikmati dua kali yakni pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Selama tujuh hari, penumpang bisa dimanjakan dengan irama laju speedboat. Berada di sisi Sungai Ogan tepatnya di bawah jembatan Pasar Indralaya, belasan Speedboat berjejer rapih menunggu penumpang baik tua, muda hingga anak-anak.

Bukan hanya speedboat, pemilik kapal Tongkang juga dengan sabar menunggu penumpang.  Dengan merogoh kocek Rp 10.000, perpenumpang, penumpang bisa menikmati kencangnya laju speedbot yang membelah Sungai Ogan, dari Pasar Indralaya hingga Desa Tebing Grinting. Speedboat juga bisa disewa dengan kisaran harga Rp 100.000-Rp 150.000, untuk dua kali putaran (rit –red).

Untuk wisata air Kapal Tongkang, penumpang hanya merogoh kocek Rp 5.000 per penumpang untuk bisa menikmati setiap tepi sisi Sungai Ogan dari Pasar Indralaya hingga Desa Penyandingan. Namun sayangnya, wisata air yang sudah ada sejak tahun 1980 ini tidak dibarengi dengan sistem pengamanan yang memadai. Bayangkan saja, setiap penumpang yang menaiki speedboat, tidak dilengkapi dengan pelampung.

Speedboat-nya pun tidak memiliki atap atau sistem pengaman untuk penyelamatan penumpang jika terjadi kecelakaan. Sebuah tradisi yang menantang maut. Tidak heran, setiap tahunnya, kerap terjadi kecelakaan baik terbalik maupun tabrakan sesama speedboat. Tidak hanya menderita luka, penumpang juga kerap kehilangan nyawa.

Kedepan, masyarakat berharap dilakukan pembenahan terutama dari sisi keselamatan oleh pemilik speedboat atau pihak terkait agar para penumpang tidak menjadi korban dari pemilik Speedboat yang hanya meraup keuntungan.

Rauf (25), warga Inderalaya saat ditemui mengakui, wisata air setiap tahunnya kerap memakan korban jiwa. “Memang Mas, setiap tahun, pasti ada korban. Memang tidak ada pelampung, jadi kalau terbalik, berenang sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebiasaan penumpang, jika speedboat tidak melaju kencang dan tidak zig-zag, para penumpang sedikit kecewa. “Kalau tidak zig-zag, tidak seru Mas. Makanya suka terbalik speednya. Walau banyak kejadian, namun penumpang tetap saja naik. Kalau sewa bisa Rp150 ribu. Tapi kalau biasa, tarifnya Rp10 ribu per penumpang,” ujarnya.

Sementara itu, Umar, pengemudi Speedboat mengatakan, momen tersebut dimanfaatkan untuk mencari keuntungan dengan menjual jasa Speedboat. “Saya bisa meraup keuntung Rp3 juta-Rp4 juta dalam sehari. Ini yang namanya rezeki tahunan kita Mas, lumayanlah untuk bayar SPP kuliaya anak,” ujarnya.

Ditanya soal pengamanan, Umar menjelaskan, tidak ada pengamanan dan hanya seadanya saja. “Wah, begini aja Mas, speednya, kalau terbalik, ya berenang. Tapi kita selalu berhati-hati dalam mengemudikan speedboat ini,” tuturnya.

Tokoh masyarakat Ogan Ilir, Aswan Mufti, pun angkat bicara. Menurutnya, pihak pengusaha yang menyewakan jasa speedboat menyiapkan standar pengamanan sesuai dengan aturan. “Pengusaha harus memikirkan juga standar pengamanan. Minimal ada plampung untuk penumpang,” ujarnya.

Aswan menambahkan, selain itu juga adanya pengawasan dari pihak terkait seperti Dinas Perhubungan (Dishub). “Ini sering terjadi kecelakaan speedboat setiap tahunnya. Jadi harus ada pengawasan khusus karena sering tidak disiplinnya pengemudi speedboat yang mengakibatkan sering tabrakan atau terbalik. Jika ada pelampung maupun disiplin pengemudi, akan mengurangi korban jiwa,” pungkasnya.

 

TEKS    : JUNAEDI ABDILLAH

EDITOR  : IMRON SUPRIYADI

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster