Lebaran Berlalu, Stop Korupsi

 350 total views,  2 views today

“Setelah berpuasa satu bulan lamanya/ Berzakat fitrah menurut perintah agama/ Kini kita beridul fitri berbahagia/ Mari kita berlebaran bersuka gembira…”

Setiap lebaran tiba, lirik lagu ini kembali menjadi akrab dengan kita. Lagu ini digubah oleh komposer Betawi, Ismail Marzuki. Tiap mendengar irama riang, dengan banyolan khas anak Kwitang ini, hati kita menjadi girang.  Saat kecil, usai buka terakhir, hati kita berdegup riang. Besok Raya. Lebaran. Tak sabar rasanya menunggu subuh. Membayangkan suka cita berlebaran, mengenakan pakaian baru, bersantap hidangan istimewa, berjumpa sanak kerabat, berkeliling ke tetangga lalu bersalam-salaman.

Atas keriaan Lebaran, Ismail Marzuki, menyelipkan pesan sekaligus kritik dengan cara yang ringan dan kocak. “Cara orang kota berlebaran lain lagi/  Kesempatan ini dipake buat berjudi/ Sehari semalam main ceki mabuk brandi/  Pulang sempoyongan kalah main pukul isteri/  Akibatnya sang ketupat melayang ke mate/ Si penjudi mateng biru dirangsang si isteri/ Maafkan lahir dan batin/ Lain taun hidup prihatin/ Kondangan boleh kurangin/ Korupsi jangan kerjain…”

Lebaran dalam tradisi kita adalah melerai syak wasangka. Merujukkan hati. Berdamai dalam keriaan Raya. Pada kerinduaan panjang ini, lalu tiap-tiap kita ingin menebusnya. Kita ingin menggenapkan yang ganjil. Setelah 11 bulan, pada Lebaran kita ingin melebur berbagai khilaf yang pernah ada. Baik yang kasat maupun yang tersamar. Kita ingin pulang. Mudik pada sejarah.

Lebaran tahun ini akan menjadi genap. Republik ini juga tengah bersuka merayakan hadirnya Presiden ke tujuh. Penghulu atas impian kita. Pemimpin adalah pakaian kita. Kita telah memiliki pakaian baru yang siap kita kenakan. Ia akan menjaga marwah kita. Menutupi aurat kita. Menemani kita dalam perjalanan ke depan.

Pemimpin baru telah terpilih. Sebelumnya, selama beberapa waktu, jelang terpilihnya, kita seakan terbelah, berada dalam pihak-pihak yang berbeda sikap, bahkan seakan ingin dihadap-hadapkan satu dengan yang lain. Bisa jadi, ada yang ingin terus berurusan. Tapi, bagi kebanyakan kita, itu satu urusan yang sudah kita lampaui.

“Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan/ Hilang dendam habis marah di hari lebaran/ Minal aidzin wal faidzin Maafkan lahir dan batin/ Selamat para pemimpin/ Rakyatnya makmur terjamin…”

Lirik lagu Ismail Marzuki ini terasa pas. Dalam kritik yang kocak, Bang Maing menyampirkan harapan juga memanjatkan doa. Bahwa, dalam satu urusan kita bisa tak sepaham. Tapi, memendam amarah, mendendam rasa, adalah urusan yang saat Lebaran tiba baiknya untuk dirujukkan. Pada doa Ismail Marzuki, selayaknya kita berkhidmat dan merujuk. Tak baik berlama-lama merajuk.

Pada Lebaran ini, saatnya kita semua kembali merayakan hidup bersama. Merayakan hari-hari dengan rasa girang, bahwa kita telah memilih dan memiliki jalan yang kita sepakati. Jalan Indonesia Raya. Jalan untuk memastikan tiap-tiap manusia di tanah ini dapat menegakkan kemanusiaannya.

Alhasil, saatnya kita mudik. Saatnya untuk kembali ke pangkal. Kembali ke hulu. Merunut jejak langkah bersama. Berlebaran: melebur dalam Indonesia Raya. Saatnya, untuk  melawat dan merawat kebersamaan kita yang telah didirikan oleh para penghulu bangsa ini. Saatnya kita berziarah pada manusia dan kemanusiaan kita. Selamat Lebaran. “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin. Korupsi jangan kerjain.”  Maaf lahir batin.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster