Lailatul Qadar, Kapankah Turun?

 217 total views,  2 views today

Ilustrasi | Republika.co.id

Ilustrasi | Republika.co.id

PALEMBANG – Mendapatkan Lailatul Qadar menjadi dambaan insan beriman. Sebab di dalamnya Allah Swt menurunkan rahmat dan keberkahan. “Amal-amal ibadah dan shaleh yang dikerjakan di dalamnya, nilainya lebih baik daripada amal-amal tersebut dikerjakan selama seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya,” ujar Herwansyah, M.Ag, akademisi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam IAIN Raden Fatah Palembang.

Di Lailatul Qadar tersebut, para malaikat turun ke bumi. Ada yang mengatakan mereka turun dengan membawa rahmat, keberkahan dan ketentraman bagi manusia. Ada yang berpendapat, mereka turun membawa semua urusan yang ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah Swt untuk masa satu tahun. Sebagaimana yang tertera dalam firman-Nya, yang artinya ; “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.  Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Al-Dukhan: 3-5)

Pada malam itu disebutkan Herwansyah, keamaan dan keselamatan menyatu dalam diri orang-orang beriman, dan mereka mendapatkan salam terus menerus dari para Malaikat. “Para ahli ibadah merasakan ketentraman hati, lapangnya dada, dan lezatnya beribadah di malam istimewa itu yang tak pernah di dapatkan pada malam-malam selainnya,” tegasnya.

Lailatul Qadar disebutkan Herwansyah, adalah malam yang terbebas dari keburukan dan kerusakan. Pada malam itu pula, kanjut Herwansyah, banyak dilaksanakan ketaatan dan perbuatan baik. Pada malam itu menurut Herwansyah, malam yang penuh dengan keselamatan dari adzab. “Sedangkan syetan tidak bisa menggoda sebagaimana keberhasilannya pada selain malam itu, maka malam itu seluruhnya berisi keselamatan dan kesejahteraan,” tegasnya.

Kapankah Lailatul Qadar itu?

Tidak diragukan lagi, Lailatul Qadar terdapat pada bulan Ramadhan, berdasarkan firman Allah, yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadar: 1)

Herwansyah juga menyebiutkan sebuah ayat, yang artinya ; “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Mengutip Al-Hafidh Ibnul Hajar rahimahullah, Herwansyah mengatakan, tentang penentuan malamnya, para ulama berselisih pendapat dalam menentukan Lailatul Qadar dengan perbedaan yang sangat banyak. Setelah dihimpun, ternyata pendapat mereka mencapai lebih dari empat puluh pendapat. Kemudian satu persatu dari pendapat tersebut beserta dalil-dalilnya.

Mayoritas ulama berpendapat, kata Herwansyah, Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Asiyah r.a. “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari sepuluh hari terakhir itu, disebutkan Herwansyah, mayoritas ulama mengerucutkan pendapatnya pada malam-malam ganjilnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw ; “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari)

Herwansyah juga menyebutkan, banyak dari mereka berpendapat, Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 27 Ramadhan. “Ini adalah pendapat sebagian sahabat, seperti Ubay bin Ka’ab yang beliau sampai berani memastikan dan bersumpah bahwa Lailatul Qadar ada pada malam ke 27. Dasarbya hadits yang artinya ;  “Demi Allah, sunguh aku mengetahuinya dan kebanyakan pengetahuanku bahwa dia adalah malam yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam perintahkan kami untuk bangun (shalat) padanya, yaitu malam ke 27.” (HR. Muslim, no. 762)

 

TEKS     : AHMAD MAULANA

EDITOR   : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster