Hilanglah Romantika Sahur

 282 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Tradisi bangunkan sahur di kawasan elit di kota ini tampaknya mulai pudar. Sepertinya tradisi di bulan suci itu pun tak lagi dianggap sesuatu yang penting. Orang-orang lebih sibuk bersahur secara individu. Hilangkah romantika sahur?

Bulan suci Ramadhan setiap tahun agaknya tak bisa dilepaskan dengan suasana sahur. Namun, nyatanya di beberapa kawasan perumahan elit ataupun yang tergolong padat penduduk aktivitas membangunkan sahur nyaris tak ada lagi. Tengoklah, kawasan perumahan Poligon dan sejumlah sudut kota lainnya. Membangunan sahur jarang ditemui.

“Saya nggak tahu sejak kapan kegiatan membangunan sahur ini hilang di Palembang ini. Atau mungkin semangat kekeluargaan di antara umat muslim mulai terkikis. Saya tak tahu,” Cek Abdullah (47), warga Jalan Musi Dua menyebutkan.

Lain dahulu lain pula sekarang. Jika dulu, sambung Abdullah, ketika memasuki waktu sahur banyak anak-anak muda bergabung dan berpawai keliling. Mereka pun membangunkan warga untuk bersahur. Ada yang keliling dengan memainkan berbagai alat-alat bekas yang dijadikan alat musik seperti, botol aqua, kentongan kayu serta beberapa perkakas alat dapur untuk membangunkan sahur.

Beberapa dari pemuda itu juga membawa gitar sebagai penambah alunan musiknya,  Lagu yang dilantunkan biasanya seperti shalawat bahkan sampai lagu-lagu dangdut dengan disertai teriakan untuk membangunkan warga agar bersegera bersahur.

“Tradisi tersebut disambut positif warga serta merasa terhibur dan terbantu untuk bangun sahur,” cetusnya.

Senada dengan Abdullah, Syaiful, warga yang bermukim di Perumahan Griya Cipta Sejahtera, Macan Lindungan juga mengakui, ia saat ini mulai jarang mendengar adanya alunan-alunan musik yang merdu dan enak didengar walau dengan alat musik sederhana.

“Jujur, kami di perumahaan ini sangat terbantu untuk bisa bangun sahur selain kami juga merasa terhibur dengan alunan-alunan musiknya dalam membangunkan sahur meski dengan alat-alat apa adanya,” ungkapnya.

Kata Syaiful, sebetulnya tradisi membangunkan sahur dengan berpawai keliling itu bisa terus dilakukan oleh warga.

“Ya, biar nantinya warga tidak ada yang mengeluh kesiangan bangun sahur,” pintanya.

 

TEKS:RINALDI SYAHRIL

EDITOR:IMRON SUPRIADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster