Mie dan Tahu Berformalin Masih Beredar

 229 total views,  2 views today

Dua petugas BB POM Palembang saat melakukan uji sampel makanan saat sidak di  Pasar Beduk Persada, Indralaya beberapa waktu lalu.

Dua petugas BB POM Palembang saat melakukan uji sampel makanan saat sidak di
Pasar Beduk Persada, Indralaya beberapa waktu lalu.| Dok KS

INDERALAYA  – Meski sudah diperingatkan dan sempat dilakukan penyitaan dari tangan pedagang, namun keberadaan Mie Basah dan Tahun yang mengandung bahan pengawet mayat atau formalin masih beredar di pasar tradisional di Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Bukan hanya pasar tradisional, pasar beduk tempat penjualan penganan berbuka puasa pun masih mudah didapat. Belum adanya tindakan tegas dari pihak terkait serta membandelnya para pedagang disinyalir sebagai penyebab maraknya penjual makanan yang mengandung formalin.

Pantauan Kabar Sumatera di Pasar Inderalaya, Kamis (10/7) kemarin, pedagang tahu dan mie basah yang disinyalir mengandung formalin masih dijumpai di sudut-sudut pasar.

Silih berganti pembeli nampak terlihat membeli tahu putih. Entah mengetahu atau tidak, pembeli nampak santai dan memasukan belanjaan tahu tersebut ke dalam kantong plastik.

Penjual mie basah juga masih terlihat menjajakan makanannya di meja kecil untuk dijual. Hanya sesekali pembeli yang mampir untuk membeli mie tersebut.

Padahal, beberapa waktu lalu, Pemkab OI yakni Asisten, Diskoperindag dan Dinas Kesehatan telah melakukan pemantauan dan peringatan akan bahaya formalin namun tidak digubrisnya.

Sementara itu di Pasar Beduk Persada, penjual rujak mie dan tahu yang diduga mengandung formalin juga masih dapat dijumpai meski dilarang.

Beberapa waktu pun, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BB POM), Palembang bersama Dinkes OI melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak), di pasar beduk tersebut.

Hasilnya pun cukup mencengangkan, dari 19 sampel makanan yang diambil, 8 makanan positif mengandung formalin.

“Saya tidak tahu mana yang berformalin atau tidak Mas. Selama ini mengkonsumsinya aman-aman saja, ya cara kami ini tidak tahu apa-apa,” ujar Eka, ditemui usai membeli tahu di Pasar Indralaya, kemarin.

Menurutnya, tahu dan mie yang mengandung formalin sulit dibedakan lantaran berwarna sama. “Katanya kalau kenyal itu berformalin, dan kalau dipegang rusak itu murni. Itu yang saya tau aja,” tuturnya sambil berlalu.

Sementara itu Yayan, pedagang di Pasar Beduk Persada mengaku, mie yang tersaji dalam rujak mie didapat dari Jakabaring, Palembang. “Saya tidak tau Mas, kalau ini formalin. Saya beli di, Jakabaring, Palembang. Setiap hari saya bisa terjual 8 hingga 10 bungkus,” akunya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Ogan Ilir, H Kosasi, mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait bahaya makanan yang berformalin.

“Tiap ada kesempatan di mana saja kita sudah melakukan sosialisasi, tidak harus ada kegiatan. Seperti sidak kemarin, kita sudah jelaskan kepada pedagang, dan kita juga sudah menyebarkan brosur untuk bahan yang dilarang untuk membuat makanan dan lain sebagainya,” paparnya.

Pihaknya menjelaskan, formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Formalin biasanya digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan desinfektan untuk peralatan rumah sakit serta untuk pengawet mayat.

“Bahanya, ini sangat bahaya jika terhirup bisa iritasi saluran pernafasan, mengenai kulit bisa luka bakar, reaksi elergi, dan jika tertelan akan menyebabkan rasa terbakar pada mulut, tegorokan dan perut, serta banyak lagi,” terangnya.

Ia menambahkan, ciri-ciri mie basah berformalin, seperti tidak lengket, lebih mengkilat, bau menyengat khas formalin. Untuk tahu tidak mudah hancur dan baunya khas formalin.

“Yang pasti bisa tahan lebih dari satu hari pada suhu ruang atau suhu kamar. Kalau yang bagus itu tidak tahan lama, paling sehari,” tukasnya.

 

Teks : Junaedi Abdillah

EDITOR: SARONO P SASMITO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster