Pusat Informasi Harga Tuai Keluhan

 249 total views,  2 views today

logo-kabar-sumatera

PALEMBANG, KS – Baru beberapa hari dipasang, papan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang berada di Pasar Cinde, sudah menuai keluhan dari pedagang. PIHPS sendiri,  berisikan mengenai rata-rata harga komoditas pangan yang didasari oleh hasil survei tim pemantau. Informasi harga ini bisa dijadikan pedoman bagi konsumen dalam melakukan proses tawar menawar dengan pedagang.

Pedagang mengeluhkan lantaran lantaran harga yang tertera di papan PIHPS tersebut, jauh lebih rendah dari harga yang mereka jual. Harga yang disampaikan di papan tersebut menurut pedagang, tidak mempertimbangkan biaya transportasi dan modal yang harus dikeluarkan.

Keluhan pedagang ini, ditanggapi bijak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel.  Kepala Disperindag Sumsel, Permana menyebut, keberadaan papan tersebut merupakan semacam tes chase barometer harga.

Keputusan, lanjutnya, tetap diserahkan kepada kedua pihak yang bertransaksi dalam hal ini seller dan buyer itu sendiri. “Jadi pandai-pandai pedagang – pembeli untuk melakukan negosiasi. Jadi masih bersifat fleksibel,” kata Permana di kantornya, kemarin.

Tak hanya itu, keberadaan papan informasi ini juga menuntut kejelian konsumen untuk mengetahui harga barang itu sendiri. Ia menegaskan, harga barang yang tertera di pusat informasi berbentuk televise tersebut setiap hari selalu update. “Sekali lagi kami tekankan, harga yang tertera, tentunya hanya acuan saja. Tergantung dari pembeli itu sendiri untuk mencari harga yang pas,” jelasnya.

Permana juga tidak mencemaskan, keberadaan TV yang selalu terpasang di Pasar Cinde tersebut nantinya, menjadi bidikan tangan-tangan jahil. Menurutnya, untuk pengamanan, tetap diserahkan sepenuhnya kepada kepala pasar.

Disperindag sendiri, pasca ditetapkannya pasar Cinde sebagai pilot project PIHPS ini, berharap setiap pasar terutama pasar induk wajib menyediakan papan informasi harga setiap harinya.

“Semua harga untuk kebutuhan pokok harus dibuat di pusat informasi harga sembako, itu wajib dipasang di area fronf office pasar tersebut. Bentuknya juga tidak kaku. Bisa saja ditulis atau dengan numeric berjalan,” kata dia.

Ia mengakui, rata-rata pasar belum menerapkan papan elektornik itu. Padahal ini sudah menjadi instruksi dari Kementerian Perdagangan. Namun, ia meminta pengelola pasar yang ada sebisa mungkin harus melakukan hal tersebut.

“Ini memang kembali ke pihak pasar itu sendiri, untuk itulah, pengelola pasar harus mengusulkan kepada pemerintah setempat untuk mengalokasikan dana pembuatan tersebut,” ungkap Permana.

Sementara, Sekretaris Daerah Sumsel, Mukti Sulaiman mendukung keberadaan TV PIHPS yang berisikan harga sembako yang terus diupdate setiap hari. Ini bertujuan pedagang tidak dapat menaikkan harga semena-mena dan terjadi keterbukaan antara pembeli dan para pedagang.

Kalaupun masih ditemukan para pedagang yang menaikkan harga melebihi yang tertera di TV PIHPS, lanjutnya, pedagang tersebut dikenai sanksi sosial dan sanksi administrasi. “Saknsi sosial yang akan ia terima, pembeli tidak akan mau membeli lagi di tempatnya. Sanksi adinistrasi, bisa sampai dengan pencabutan izin usahanya di pasar tersebut,”  tukasnya.

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster