Warga Resah ‘Gepeng’ Berkeliaran

 233 total views,  2 views today

pengemis

Ilustrasi | Dok kS

PAGARALAM – Mulai maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) yang berkeliaran, terutama pada bulan Ramadhan dan menjelang lebaran mulai mengganggu kenyamanan warga.

Sejumlah pusat perekonomian yang ada di Bumi Besemah ini, mulai dari Pasar Dempo Permai hingga seputaran Pagaralam Square dan kawasan Masjid Raya kerap terlihat para gepeng meminta-minta kepada para pengunjung pasar. Sehingga hal itu tentu saja membuat risih para pengunjung dan mengganggu kenyamanan mereka.

Marli (39), salah seorang pengunjung mengatakan risih ketika melihat ada gepeng yang meminta-minta dengan cara memelas. Apalagi aksi mereka mengeksploitasi penyandang disabilitas seperti tuna netra dan tuna daksa.

“Ya, tampaknya mereka itu orang datangan bukan dari Pagaralam. Karena selama ini tidak terlihat orang-orang ini,” katanya, Senin (7/7).

Senada ditambahkan Dul salah seorang pedagang pecah belah. Ia menduga ada semacam koordinator yang mengatur para gepeng ini. Seperti adanya pengakuan sejumlah pedagang pasar pagi, mereka melihat ada mobil seperti angkutan pedesaan yang menurunkan seorang pengemis penyandang disabilitas di seberang Pagaralam Square. Kemudian si pengemis mangkal di depan pintu masuk Pagaralam Square dan meminta-minta di sana.

“Pastinya tidak mungkin si pengemis itu dapat berjalan sendiri ke sini jika tidak ada pihak lain yang mengantar,” ungkap pria yang membuka kios pecah belah di seberang Pagaralam Square ini.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pagaralam Drs M. Isa Al Basarah MSi mengakui ada fenomena seperti itu. Bahkan bentuk dan kelakuan para pengemis dan peminta-minta itu beragam. Ada yang memang murni berpakaian pengemis. Ada pula yang berkeliling mengedarkan kotak amal dan blanko sumbangan dari Yayasan atau Masjid tertentu di luar kota.

“Sebelumya kita pernah menginterogasi salah seorang yang mengatasnamakan Yayasan tertentu. Ketika dicek keberadaan yayasan tersebut ternyata tidak ada. Kalaupun ada, ternyata tidak ada perintah atau utusan dari yayasan tersebut yang memberi izin atau melaksanakan kegiatan untuk meminta-minta,” terang Basyarah.

Sejauh ini kendalanya, di Pagaralam belum mempunyai semacam rumah singgah tempat penampungan sementara para gepeng tersebut. Jadi, mereka hanya didata seadanya dan dilacak asal mereka.
Dari data yang ada pada Dinsosnaker Kota Pagaralam memasuki pertengahan tahun 2014, sedikitnya 14 kasus penyakit sosial yang terjadi di masyarakat berhasil ditangani.

Penyakit sosial yang terjadi ini lanjutnya, meliputi orang gila, terlantar, tunarungu dan tunawicara. Sehingga, kasus yang ada memang telah menjadi masalah nasional bahkan di kota tengah berkembang sekalipun, di mana permasalahan ini masuk dalam penanganan program Dinsosnaker, dalam hal ini Pembinaan Penyandang Masalah Kesejahteraan (PMKS).

“Para penyandang penyakit sosial ini, akan ditempatkan di panti rehabilitasi sosial. Khususnya, di wilayah Sumsel berada di Kota Palembang, melalui pernyataan persetujuan dari keluarga bersangkutan, untuk dititipkan ke tempat rehabilitasi,” katanya.

Guna mengurangi angka pengangguran Dinsosnaker, pihaknya telah membuat berbagai program berupa pelatihan-pelatihan, baik perbengkelan maupun berbagai pelatihan yang diyakini dapat dilakukan masyarakat tanpa harus mengelurakan modal yang besar.

”Sejumlah pelatihan tengah digencarkan ke masyarakat guna terwujudnya masyarakat yang handal dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri,” ujarnya.

 

TEKS    : ANTONI STEFEN
EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster