Selamat Memilih dengan Hati

 252 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

Belajar dari masa lalu. Tapi, kita semestinya tak boleh surut dan kembali ke masa lalu. Hidup ini ke depan. Setelah reformasi 1998, setelah hasrat kita, orang kebanyakan, ditegakkan. Bahwa, kita menolak formasi lama. Menolak barisan kaku dan seragam ala Orba. Menolak korupsi. Menolak kolusi. Menolak nepotisme. Mungkin dalam suatu masa kita seolah pernah mengalami  satu kejadian sama sebelumnya.

Semacam Deja Vu, kita hari ini, seakan kembali dalam situasi yang mirip dengan situasi menjelang kekuasaan otoriter Orba ditumbangkan. Kita dicekam oleh teror dan fitnah yang ditebar. Kita dihadapkan satu dengan lainnya. Kita hendak dibelah segelintir orang yang menggenggam pedang ambisi, lalu memaksa ingin kembali.

Hari-hari ini, kita melihat, mendengar, orang kebanyakan seperti kita, dengan wajah-wajah girang dan bersahaja memastikan langkah mereka. Wajah-wajah yang dulu pernah memenuhi pekarangan kebangsaan kita. Wajah-wajah dengan hati yang penuh mendatangi Kebagusan, juga mendatangi Jalan Diponegoro. Wajah-wajah yang dengan tangan berpeluh membawa dan menyumbangkan apa saja yang dapat menggirangkan perubahan.

Kita seakan memutar kembali peristiwa, di mana tiap-tiap hati kita, belasan tahun lalu, terikat dalam impian yang terus menguat. Menumbangkan kelaliman yang membenci hasrat hidup bersama kita. Kelaliman yang ditegakkan dengan fitnah dan tipu daya.  Kekuasaan lalim yang gentar atas pikiran yang merdeka. Kekuasaan yang risau, lalu memberangus buku-buku. Membereidel penerbitan pers. Membui anak-anak muda karena menyuarakan hati nurani mereka. Menghilangkan paksa mereka yang berbeda. Menstigma yang berbeda dengan stempel ekstremis.

“Kamu kampiun-kampiunnja pena, gerakkanlah penamu setadjam udjung djemparingnja Rama, kamu kampiun-kampiun organisator, susunlah bentengnja harapan rakjat mendjadi benteng jang menahan gempa, kamu kampiun-kampiunnja mimbar, dengungkanlah suara bantengmu hingga menggetarkan udara. Tumpahkanlah segenap djiwa ragamu ke dalam partainja massa, tumpahkanlah segenap djasmani dan rochanimu ke dalam perdjoangannja massa, tumpahkanlah segenap njawamu mendjadi api-kesedaran dan api-kemauan massa. Hidupkanlah massa-aksi, untuk mentjapai INDONESIA MERDEKA!”

Bung Karno, menuliskan alinea di atas dalam tulisannya “Mentjapai Indonesia Merdeka” (1933). Kalimat ayahanda Megawati Sukarno ini memastikan ikhtiar apa yang layak kita perjuangkan untuk menjaga kemerdekaan ini. Menjaga agar anak-anak kita dapat bernyanyi riang. Agar mereka dapat menjadi anak-anak yang tumbuh dalam dekapan hangat hati yang merdeka. Agar mereka memiliki pikiran yang terbuka cakrawalanya. Pikiran yang tak kaku dan seragam.

“Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka/ Nyanyi-nyanyi bersama-sama di tanah-tanah gunung/Anak-anak kini telah pandai menyanyikan gema merdeka/ Nyanyi-nyanyi bersama-sama tapi bukan kami punya. Tanah pusaka tanah yang kaya/ Tumpah darahku di sana kuberdiri/Di sana kumengabdi dan mati dalam cinta yang suci.”

Lirik lagu “Salam dari Desa” dari album “Nyanyian Tanah Merdeka” gubahan Leo Imam Sukarno (Leo Kristi) kerap dinyanyikan di kala kekuasaan Orba tengah jumawa. Ironi ini tak boleh terjadi lagi. Hari ini, setelah kejumawaan itu turun gelanggang, anak-anak negeri layak dan berhak tetap merdeka. Layak berdiri dengan kepala tegak. Layak menyanyi bersama-sama, bahwa: negeri ini kita punya.

Alhasil, dalam hasrat merdeka dan memerdekakan inilah, bagi kita saatnya menyatukan hati dan pikiran. Mengikat dan terikat kembali dalam jalinan jemari masa depan. Bergotong royong dalam keberagaman. Menyanyikan gema merdeka. 9 Juli, selamat memilih dengan hati. Semoga kita punya.**

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster