Tadarus Al-Quran “Mati Suri”

 1,365 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

TADARUS atau membaca Al Quran sudah menjadi ibadah rutin umat Islam di bulan Ramadhan. Termasuk di Provinsi Aceh, kebiasaan ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam dalam rangka menghidupkan suasana bulan penuh berkah dan maghfirah. Menghidupkan tradisi bertadarus dapat menumbuhkan semangat membaca kalam Illahi bagi kaum muslim, terutama di kalangan kaum muda Islam.

Tradisi bertadarus biasanya dilakukan di masjid dan mushalla selama bulan Ramadhan. Biasanya dilakukan kalangan remaja dan orang tua, usai shalat tarawih hingga memasuki waktu sahur atau pukul 04.00 WIB. Sedangkan kaum wanitanya melaksanakan usai shalat subuh, baik di masjid, meunasah, pesantren, balai pengajian dan mushalla. Bahkan ada yang bertadarus di rumah-rumah.

Tadarusan secara berkelompok antara 5 sampai 10 orang, duduk bersila membentuk lingkaran di mana setiap orang memegang Al Quran. Mereka membaca satu persatu ayat dalam Al Quran, dan ketika yang satu membaca yang lain diam mendengarkan secara khusyuk serta menyimak jikalau ada kesalahan dalam bacaan temannya, lalu memperbaikinya.

Namun di tengah kesibukan pemenuhan kebutuhan keseharian, meski Ramadhan datang, tradisi tadarus ini seakan hanya “hidup segan mati tak mau”. Kalaupun ada hanya segelintir umat saja yang melakukannya. Padahal sebelumnya, terutama di era-80 an, para remaja masjid yang mencapai khatam Al Quran, sebelumnya telah membuat pengumuman kepada masyarakat, pada pelaksanaan shalat tarawih. Masyarakat pun antusias memberikan sumbangan untuk pelaksanaan kenduri.  Ketika itu, masyarakat sangat antusias dengan acara tradisi keagamaan seperti ini, terkadang ada yang merasa malu bila tidak ikut memberikan sumbangan.

Ketika malam tiba, usai shalat tarawih, sebelum acara kenduri diadakan, terlebih dahulu pembacaan doa khusus, zikir dan rateb (mengingat Allah dengan berkata-kata dengan keras dengan gerakan-gerakan tubuh secara berirama yang makin lama semakin cepat ritmenya). Rateb ini hampir sama dengan gerakan samman. Selanjutnya acara ditutup penyediaan hidangan yang sangat istimewa.

Sekarang, tradisi seperti itu memang hampir hilang. Di beberapa tempat acara digantikan berbuka puasa bersama saja. Padahal, kearifan lokal seperti ini patut dipelihara, selain sebagai amal ibadah juga sebagai dasar ukhuwah di masyarakat. Tradisi kebersamaman dalam tadarus kini “ditelan bumi”. Maraknya alat elektronik yang memudahkan orang membaca al-quran dituduh sebagai salah satu penyebab menurunnya semangat tadarus. Tetapi, alat teknologi yang memudahkan orang membaca al-quran adalah benda mati. Hanya tanggungjawab orang tua dalam keluarga yang seharusnya mengingatkan kembai tentang pentingnya membaca al-quran, terutama ikut dalam tadarus saat ramadhan.

Dengan menurunnya jumlah jamaah yang ikut tadarus, lantas apakah kemudian menyalahkan generasi di era modern? Sangat tidak bijak. Sebab generasi di era kini merupakan produk dari generasi sebelumnya. Putusnya regenerasi pengajaran al-quran dan pembudayaan tadarus di setiap masjid dan musholla, menjadi salah satu sebab mengapa tadarus kini kian hilang. Terkembali pada orang tua di era modern, harus kembali memberikan pengajaran al-quran kepada setiap putra-putri di rumah, guna membentuk generasi yang selalu mentradisikan tadarus al-quran di rumah, di masjid, di musholla dan di dalam hati masing-masing.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster