Harga Karet Masih Anjlok

 230 total views,  6 views today

Getah Karet | Dok KS

Getah Karet | Dok KS

EMPAT LAWANG – Harga karet tak kunjung membaik, membuat petani karet di Kabupaten Empat Lawang semakin kebingungan. Pasalnya hingga memasuki bulan Ramadhan ini, harga karet tetap berkisaran Rp 4 ribu – Rp 5 ribu per kilogram (kg) nya . Padahal kebutuhan menyambut bulan puasa, meningkat.

Bambang (35), salah satu petani karet di Desa Pajar Bakti, Kecamatan Tebing Tinggi, mengaku cukup risau dengan kondisi harga karet, yang tak kunjung membaik. “Padahal bulan puasa ini kerjanya tidak masimal, namun harga karet sangat murah. Terus terang, saya sangat kebingungan bagaimana menutupi kekurangan isi dapur. Belum lagi anak mau masuk sekolah, otomatis kebutuhan bertambah,” keluh Bambang saat dibincangi, Jumat (4/7).

Kondisi ini menurutnya diperparah dengan harga sembako kian melambung, membuatnya harus berpikir ekstra untuk menutupi kekurangan uang belanja. Bahkan menurutnya, tak jarang ia terpaksa meminjam uang kepada tauke tempat ia biasa menjual hasil panennya.  “Mau gimana lagi, saya terpaksa pinjam uang sama pengepul, dengan syarat tidak menjual hasil sadapan karet kepada pengepul lain, selain kepada pengepul tersebut,” jelasnya.

Senada dikatakan Jusman (38), petani karet di Desa Pancurmas, Kecamatan Tebing Tinggi. Menurutnya harga karet rendah, padahal kebutuhan semakin meningkat. “Di tempat kami masih kisaran Rp 4.500 per kg, jauh menurun. Sebelumnya bisa tembus Rp 7000 per kg,” terang Jusman.

Dia mengakui, petani kesulitan memperbaiki kwalitas karet panennya. Karena harga di pengepul, tidak mempertimbangkan kwalitas tapi komposisi dan beratnya saja. “Kalau kita cetak karet bersih tambah rugi lagi, ini saja ditambah air masih rugi dengan harga murah,” jelas dia.

Sementara itu, Jhon (40), pengepul karet yang biasa membeli karet petani di seputaran Kecamatan Tebing Tinggi menyebut turunnya harga karet tersebut disebabkan mutu karet asal Empat Lawang yang sedikit kurang bagus. “Terlalu tinggi kadar air ini, juga jadi penyebab harga karet asal Empat Lawang tidak dapat disamakan dengan daerah lain,” jelas Jhon.

Namun demikian, dia juga berharap agar harga karet kembali naik. Sebab menurutnya, dengan tidak kunjung membaik harga karet ini, berimbas dengan kurangnya petani menjual komuditasnya dikarenakan banyak petani menghentikan penyadapan karet.  “Banyak petani karet, tidak lagi nyadap. Bahkan ada yang berubah profesi, menjadi kuli serabutan dan imbasnya kita sulit mendapatkan barang,” tukasnya.

 

TEKS              : SAUKANI

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster