Petasan Marak Beredar

 305 total views,  4 views today

Ilustrasi Petasan

Ilustrasi Petasan

PALEMBANG – Walaupun Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang sudah melarang petasan, mercon dan kembang api untuk di jualbelikan selama bulan Ramadhan, namun larangan itu tidak digubris sejumlah pedagang.

Pantauan Kabar Sumatera, Kamis (3/7), pedagang marak menjual berbagai jenis mercon, petasan dan kembang api. Misalnya di kawasan Jalan Ki Merogan, Kertapati tepatnya di depan Stasiun Kereta Api (KA). Kemudian di kawasan Pasar 16 Ilir, Pasar Sekip Ujung dan sejumlah kawasan lainnya.

Husin (32), salah satu pedagang petasan di kawasan Kertapati yang dibincangi mengaku, ia berjualan petasan hanya saat bulan puasa dan tahun baru saja. Karena sebutnya, saat itu banyak masyarakat yang hendak membeli petasan dan kembang api.  “Setiap tahun saya berjualan petasan. Pengguna petasan ini, anak-anak, ABG sampai remaja dewasa,” kata Husin, kemarin.

Husin mengaku, sejumlah pedagang sebenarnya mengetahui bahwa berdagang petasan itu dilarang. Tapi, karena ingin memenuhi kebutuhan sehari-hari terpaksa, tidak mempedulikan larangan tersebut.

“Yah, kami sudah tahu berjualan petasan itu dilarang. Apalagi menjual petasan dengan daya ledakan besar, itu sangat dilarang. Karena bisa sebabkan orang lain meninggal, karena jantungan. Tapi, kami tidak menjual petasan ukuran besar,” terangnya.

Husin menambahkan, kalau ada razia dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), ia bersama pedagang lainnya terpaksa berlari. Karena jika tertangkap, dendanya cukup besar. “Bahkan dagangan kami sampai disita dan dimusnakan, tapi Sat Pol PP jarang merazia . Karena mereka fokusnya di pasar-pasar besar seperti di Pasar 16 Ilir, Megaria dan lainnya,” ulasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sat Pol PP Palembang, Tatang DK Direja mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran terkait petasan yakni nomor 03/PGM/2014, yang berisikan larangan menjual dan menggunakan petasan.

Karena sebutnya, hal itu untuk mewujudkan ketenangan, ketentraman dan ketertiban umat muslim menjalankan ibadah. “Berdasarkar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13 tahun 2007, dilarang menjual dan membeli petasan dalam ukuran apapun, baik dipergunakan siang hari atau malam,” jelasnya.

Menurut Tatang, apabila didapati penjual, pembeli dan pengguna petasan seperti mercon, meriam bambu, menggunakan barang tersebut selama Ramadhan, maka pihaknya akan menindak secara persuasif. “Apabila secara persuasif atau baik-baik tidak didengar juga, maka akan dikenakan sanksi, bahkan sampai hukuman pidana,” tegasnya.

Menurut Tatang, apabila berjualan petasan dijadikan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari itu salah, karena menurutnya, masih banyak cara lain. “Yah, ini hanya untuk mencari keuntungan besar. Dengan memanfaatkan momen puasa. Tapi, apabila petasan itu diperjual belikan dengan bebas, maka dampak negatif sangat banyak, seperti menyebabkan kematian, kebakaran dan lainnya,” bebernya.

Tatang mengaku, pihaknya selalu rutin melakukan razia, dan menelusuri jalan-jalan yang ada di Palembang, untuk melakukan penertiban.  “Walaupun puasa, kami tetap lakukan razia rutin seperti biasanya. Hanya saja titik-titiknya kami belum tahu semua. Oleh sebab itu kami harapkan juga kepada warga, untuk menginformasikan kepada kami,” himbaunya.

 

TEKS              : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster